Tag - Wabah Corona

Merayakan Datangnya Peradaban Baru Manusia Dengan Memasak

warung sayur di margahayu raya

Akhirnya kami masak

Eh engga deng. Istriku yang masak. Sedangkan Aku bermain dengan kucing di pelataran. Sambil menunggu masakan dari Kesayangan kami matang

Kami belanja di warung dekat rumah itu. Yang seperbelokan saja jaraknya. Yang aku ceritakan tentang kentangnya tempo hari itu lho

Sudah kami ketahui, nama warungnya adalah warung Sitanggang. Ada stiker kecil tertempel di salahsatu temboknya. Warung Sitanggang, pemiliknya tentulah bukan orang Pekalongan. Bukan pula orang mBoyolali

Di warung Sitanggang kami sudah membeli rupa-rupa bahan pangan. Istriku, Kesayangan kami itu, sudah memasak kentang , telur, ayam, udang, nasi goreng dan tentunya mi instan buat kami

Pakai bumbu instan saja teh apa – apa gampang sekarang

kata Mama Sitanggang tempo hari. Istri saya sedang memilih-milih bumbu dapur untuk goreng tempe dan ayam

Pertama kali dalam semestanya istriku akan memasakkan aku ayam goreng. Di tanah Sunda ini, dari bahan-bahan yang dibeli dari penjual Batak tersebut

Istriku menolak tawaran Mama Sitanggang. Pokoknya tidak instan. Walau mengulek. Walau makan waktu lebih lama. Demi kesayangannya yang sedang ingin makan ayam, ternyata itu tidak masalah

Eh engga deng. Aku ini tidak rewel soal makanan. Apa yang istriku ingin makan, aku bisa ikut cerna. Apa yang istriku sedang masak, aku akan lahap. Walaupun (seandainya) tidak enak, Insya Allah, aku tidak mengeluh

Tapi, masakan istriku, kesayangan kami ini, sungguh enak sekali. Iya. Beneran

Lagipula ya, kawan-kawan, di masa kehadiran Markonah ini, masih banyak hal bisa kita keluhkan secara serius daripada sekedar kekurangan pada masakan atau rasa jajanan pinggir jalan

Agar batin kita damai, agar hidup kita berlanjut, agar iramanya harmonis kembali

Kawan-kawan, akhirnya kami masak, menyambut kenormalan baru, merayakan peradaban dunia selanjutnya. Karena, berkat Markonah, kita memang tidak akan bisa kembali ke dunia yang dulu lagi.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Betapa Ribetnya Hidup Seperti Sebuah Kentang

kentang organik atau anorganik

Seperbelokan saja dari tempat kami tinggal ada warung. Disana dijual telur, sayur-mayur dan bumbu dapur.

Setengah kilo telur Rp12.500, sekilo kentang Rp14.000. Kedua bahan tersebut adalah apa yang kami beli disini untuk jadi sarapan. Harganya tentu lebih murah dari dari swalayan. Dekat pula, kalaupun harganya sama, biar saja.

 

Ini adalah tentang keberpihakan. Seperbelokan saja. Seperlemparan batu jaraknya.

 

Suatu waktu kami ke swalayan membeli kentang. Ternyata kentang organik, klaimnya begitu. Bagus kemasannya. Ada logo. Ada warna-warni. Didalamnya disertakan fotokopi sertifikat keorganikan. Rp30.000 saja harganya. Sangat swalayan.

Kentang tetangga tentu amat berbeda. Dibungkusnya dengan kresek. Tidak perlu scan barcode. Kentang ditimbang, harga sepakat, langsung dibawa pulang. Tentu tidak ada lampiran sertifikat. Apalagi daftar riwayat hidup.

Kentang tetangga ini sebenarnya secara Biologi ya organik. Tersusun utama atas perpaduan unsur Karbon dan Hidrogen. Jika ada spesies yang non-organik bisa jadi dia tersusun dari logam. Mungkin hidupnya di Merkurius sana. Atau diantara meteorid yang beterbangan diangkasa.

Namun, dibicarakan dalam dunia Pertanian, kentang tetangga ini jadi tidak organik. Perkaranya karena si kentang dihidupi dengan pupukan kimia dan dijaga dengan semprotan kimia. Akhirnya dimasukkan lah dia jadi produk pertanian anorganik. Yang dimaksud sebagai pertanian konvensional.

Dirimu organik, tapi menjadi anorganik karena pergaulan. Duhai dinda , susahnya hidup sebagai sebiji kentang.

Eh kok sebiji kentang ?

Atau sebuah kentang?

Lha kok buah?

Kamu ini sayur atau buah??

.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Mereka mulai kami asuh saat masa social distancing ini : Bruno dan Lidya namanya.

Perihal nama mereka, aku ingin sekali menyematkan Silalahi pada Bruno dan Hasibuan pada Lidya. Tapi, aku takut masyarakat Batak tersinggung.

Sedikit mengenai keduanya, aku ingin bercerita lewat tulisan ini.

Di saat-saat sulit, berkat mereka aku jadi punya kegembiraan kecil-kecilan dalam hari-hari monoton belakangan ini. Memberi makan, mengelus, mengusir mereka saat obrak-abrik tempat sampah.

Kegembiraan itu, kecil-kecilan saja, seperti letusan petasan remeh para bocah. Dibanting cara mainnya. Sedangkan, kegembiraan besarnya selalu datang dari istriku. Misal, menyiapkan sarapan, menanyakan ingin minum apa.

 

Apakah tehnya terlalu manis?

Tidak, kamu yang terlalu manis. Gula dan seluruh rasa ku.

 

Aneh sekali sebenarnya. Diantara hiruk – pikuk ini, hanya kita, Homo sapiens yang tampak merasa disusahkan. Padahal spesies lain begitu saja hidup, ada, hari ke hari, normal dan apa adanya. Tidak ada yang berubah.

Kalau mereka harus makan ya mereka makan. Jika saatnya mereka mati, yasudah mati saja begitu. Undur diri. Bersembunyi di pojok kebun pisang.

Aku sempat berpikir, malam ini, dengan kekasih hati ku sudah tidur lelap disisi, bagaimana kalau manusia hidup seperti hewan-hewan ini saja?

Makan, berak, kawin, tidur, ulangi. Praktis. Tidak merusak. Kerjanya hanya beranak-pinak. Lalu punah otomatis karena bumi dihantam meteor.

Tidak ada udara kotor, sungai tercemar, apalagi hutan dibakar-bakar. Semua terjadi secara alami. Populasi diatur lewat bencana alam atau pemangsaan.

Baca juga

Saya Tidak Khawatir Pada Virus Corona

Ada wabah, alami, kulit gatal, nafas tersengal. Kita mati begitu saja. Bukan karena kita rakus melahap hewan liar apalagi dibuat-buat saingan pasar.

Tapi, manusia ga boleh begitu. Karena kita bukan spesies lain. Allah menciptakan kita sebaik-baiknya. Bahkan malaikat pun sudi sujud. Hanya satu terangkuh yang tidak. Musuh kita sepanjang masa.

Diciptakan kita berpikiran. Berkreasi. Menciptakan zaman-zaman. Membangun, merusak, memperbaiki. Begitu terus sampai kita hancur sendiri.

Karena itulah, aku percaya kita akan bertahan lagi, berhasil lagi dan bekerja untuk membuat dunia jadi makin baik lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Terus bertahan sampai Dia mau kita punah dan seisi dunia.

Sulit, tapi teruslah menjadi positif, keluarga seperadaban. Berat, tapi kita akan melalui ini semua. Walau berbeda sebagai seorang Silalahi, Hasibuan, Mas Yono, Kang Tisna, Bang Sabeni maupun Uda Maldini.

Kita harus bisa. Karena kita manusia.

 

 

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Saya Tidak Khawatir Pada Virus Corona

tidak khawatir pada virus corona

Tulisannya lebih panjang dari biasanya, semoga kamu bisa betah. Temanya pun sudah mulai membosankan.

Itu lagi-itu lagi. Lha gimana, wong belum beres.

Kamu khawatir ga sih soal perCoronaan ini ? Kalau saya, khawatir banged.

Tapi, BUKAN karena virusnya.

Separah apapun sakit bisa sembuh.

Sedikit apapun duit bisa dicari lagi.

Sesulit apapun silaturahmi bisa dilanjut nanti.

 

Tapi, seberapa lama wabah Corona ini berlangsung ?

 

Bisa jadi cepat.

Ramadhan nanti kita berpuasa, bisa ke perempatan lagi beli es buah buat buka. Bisa tarawih bersama. Bisa sahur bareng kesayangan. Lalu bisa mudik Lebaran ramai-ramai. Itu ga lama, sekitar sebulan lagi.

Tapi, wabah ini, bisa jadi lama. Lama sekali.

Ramadhan nanti pun sepi. Puasa banyak dirumah. Solat semua dirumah. Perempatan lengang, es buah ga Ada, gorengan apalagi. Mudik batal. Sungkeman sama orangtua lewat video call. Lebaran hanya di dalam kamar.

Seperti itu. Entah berapa bulan kita balik normal.

Tapi ya, lama atau cepat, sebabnya adalah hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa Kita lakuin untuk membantu melawan.

Ealah tapi Ada aja ya orang.

Disuruh Work From Home, malah plesiran.

Disuruh Social Distancing, malah resepsian.

Disuruh ibadah dirumah, malah nantang.

Disuruh belanja biasa aja, malah nimbun barang.

Tau-tau, seperminuman teh, yang terjangkit sudah ribuan, yang wafat bisa ratusan. Saat itu, seperti biasa, habis ngeyel kita baru deh nyesel.

Soalnya, biar bagaimana pun, negara-negara yang berkepentingan akan mati-matian mencari penyembuhnya. Kalau ga bakal gawat ini dunia.

Alhamdulillah, dari sekarang kabar baik pun mulai berdatangan dari segala penjuru. Dari China, Amerika, Jerman, Jepang, sampai Israel.

Pasti. Pasti ada obatnya. Sembuhlah kita. Lalu kita bisa imun. Jadi kebal. Atau seengganya Corona jadi penyakit model flu musim hujan. Sembuh dengan beli obat dari warung.

Eh tapi ya. Bisa-bisa nanti pas waktunya, negara-negara lain sudah mau beres, kita malah lagi parah-parahnya. Ya karena hal-hal egois yang kita lakuin.

Akhirnya nanti bantuan berdatangan. Sebagian tulus, sebagian pakai akal bulus. Rakyatnya gamau tau, pokoknya gua mau sembuh. Besok malam. Gimana kek caranya.

Terus kita ribut. Komennya model begini

Lah kok nerima bantuan China.

Kok vaksinnya dari Israel.

Halah gak bisa lepas dari pengaruh Amerika.

 

Indonesia oh Indonesia. Kamu kok gampang sekali ditebak sih?

 

Karena skenario waktu lama ga mengenakkan buat saya dan semua orang, saya berusaha sebisa-bisanya mewujudkan skenario waktu sebentar.

Saya mulai dari diri saya sendiri. Lalu ke istri. Lalu ke keluarga. Semua terkendali. Kami bisa satu suara bahu-membahu melawan virus ini.

Mulailah saya “berdakwah” di lingkungan yang lebih besar: Rukun Tetangga , Rukun Warga.

Tempo hari contohnya, atas dasar keinginan membangun kesadaran warga RT yang sepertinya masih cuek dan suka-suka, saya share beberapa info ke grup WA.

Grup WA ini ya campur anggotanya. Tapi, tipikal grup WA warga lah. Ada juga yang suka share hoax dan berita gajelas dari platform media asal-asalan.

Saya coba share beberapa info. Soal manfaat distancing, himbauan solat dirumah, dan kenapa kita sudah harus kurang-kurangi bepergian.

Info-info ini valid, saya bahasakan sederhana, sopan, dan disertai link untuk diverifikasi.

Coba tebak. Apa respon yang Saya dapatkan dari sebagian orang ?

Info pertama saya dibalas dengan postingan Jenderal Gatot yang berbau busuk hoaks tentang orang-orang China yang berwudhu dan belajar solat .

Info kedua tidak kalah lucu balasannya Karena berupa meme dari Gubernur Sumatera Utara. Yah. Modelnya sama lah.

Saya jadi bingung. Beneran.

Walau informasi datang dengan otoritas apapun, ternyata ada orang-orang yang memang batu sekali. Egois pula. Dan mereka tidak malu-malu menunjukkannya.

Apalagi kalau baca macam-macam respon lain, yang ga semuanya saya tanggapi. Males. Hopeless. Masa berdebat sama tetangga sendiri. Iya kalau sepadan, lha ini seruan Dewan Ulama dibalas Jenderal Gatot cari muka. Jauh lah.

Saya jadi inget salah satu video pak Yuri Jubir di channel Deddy Corbuzier. Disitu Pak Yuri menjelaskan betapa sulitnya menjelaskan kegawatan wabah ini ke masyarakat luas. Apalagi di daerah-daerah jauh.

Ada gap geografi, teknologi, Informasi, sampai intelektual. Yang jangankan ngomongin virus, ditanya makanan bergizi aja mereka bingung. Standarnya apa? Buah? Kami gabisa beli buah juga. Begitu katanya.

Nah. Kalau daerah-daerah ini terkena wabah? Skala bencananya pasti luar biasa.

Eh. Itu tentu didaerah yang sulit Tapi gausah jauh-jauh. Lha itu tadi.

Di tetangga kita, teman sekelas kita, jamaah masjid kita, juga banyak yang berjarak sama kita lho. Ini dengan kondisi ” kita ” adalah masyarakat perkotaan. Seperti Jabodetabek.

Pasti kamu ngerasain kok. Entah bagaimana, bahkan saat-saat kayak begini, ada saja orang-orang yang ga ada di pemahaman yang sama.

 

Pokoknya, mereka ini seperti hidup di dunia imajinernya sendiri.

 

Dunia dimana pemerintah itu jahat.

Dunia dimana orang yang berbeda dengannya itu berniat jelek.

Dunia dimana semua orang tidak akan ada urusan dengan akibat keegoisannya

Kaget. Ternyata ada saja orang, banyak, tidak berpikir tentang selamat sama-sama. Bahkan mungkin tidak masalah kalau semuanya tidak selamat sekalian. Sakit. Lapar. Huru-hara. Biar saja.

Entahlah. Selalu ada suatu jurang diantara kita dan mereka. Dimanapun kamu berada. Ada apa di dalam jurang itu? Mungkin akumulasi berita hoax, kebencian, rasa ketidakadilan, ketidakberdayaan, atau sekedar egois. Mau benar sendiri. Mau menang sendiri.

Atau mungkin yang mereka mau sekedar pihak yang dianggap lawan mereka, figur, kelompok, pemerintah yang saban hari mereka benci, jadi Gatot, Gagal Total. Seperti nama pujaannya tersebut.

Walau nanti kita sama-sama menderita. Itu tidak jadi masalah. Biar saja.

Tapi, maaf, itu masalah buat saya. Saya mau ini semua lebih cepat selesai. Untuk saya,istri saya, keluarga saya. Ramadhan saya,mudik lebaran saya.

Saya masih akan sebisa-bisanya berusaha.

Karena tahu, setiap detiknya, setiap harinya adalah waktu yang amat berharga untuk mereka yang berjuang di garis terdepan juga keluarga mereka yang setiap hari cemas ikhlas melepas kesayangannya pergi melawan wabah.

Sekedar curahan hati. Semoga kamu memaklumi tulisan gundah Saya yang panjang ini.

Silahkan di share tulisan ini, untuk kesadaran bersama.

Wassalammalaikum waramatullahi wabarakatuh.

Semoga Allah SWT berkenan mengangkat wabah ini secepatnya.

 

 

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya