Tag - Ramadan

Hanya Begini Saja, Tahu – Tahu Lebaran

Mohon Maaf Lahir Batin

Tahun lalu aku pikir bakal sekedar jadi gagasan: seperti apa Ramadhan dan Lebaran pertama dengan seorang istri.

Tentunya kegiatan kami dimulai dengan bergantian membangunkan sahur. Ah betapa indahnya.

Kami memasak sesuatu yang baru atau menghangatkan makanan semalam. Terkantuk-kantuk. Akhirnya kalah. Alah repot, sahur dengan roti gandum saja lah.

Kemudian kami niatkan mengaji bersama, menahan kantuk hingga pukul setengah enam untuk berjalan kaki keliling komplek. Pertama aku, lalu dirinya. Duhai syahdu sekali pagi itu. Ternyata gagal terus. Mungkin kami takut haus lebih awal.

Kemungkinan besar setelah itu kami tertidur. Tidur saat pagi itu menggoda sekali. Lagipula pekerjaan saya bisa dimulai pukul delapan atau sembilan, tidak apa-apa. Mengawasi les atau transaksi penjualan macam-macam hal.

Apa saja lah, yang penting hidup dan menghidupkan.

Kemudian kami ke warung untuk berbelanja. Dekat sini saja, seperbelokan jaraknya. Warung Mama Sitanggang namanya, mungkin kamu pernah dengar. Mama adalah seorang Batak yang ramah. Beliau bersuamikan Batak dan beranak-pinak Batak. Aku hitung ada 5 banyaknya, 4 perempuan dan 1 laki – laki.

Setelah itu aku bekerja. Tentunya sudah mandi dan berganti baju. Istri ku sedang sibuk didapur. Gerak-geriknya terlihat dari tempat aku duduk.

Dipandu video dari YouTube, dia, kesayangan kami itu memasak sesuatu yang baru setiap harinya untuk kami berbuka.

Kamu suka tidak?

Kamu suka tidak?

Kamu suka tidak ?

Begitu tanyanya berulang-ulang.

Istirahat kerja ku diselingi membaca dan memberi makan kucing kami, Zainul namanya. Seperti yang di foto itu. Hitam putih. Gembul nian dia belakangan ini.

Selain Zainul kadang ada kucing-kucing lain ikut makan; Bruno, Lidya, Dustin, Monica, mengantri depan pintu. Perihal nama-nama tersebut aku yang memberi. Nama lengkap Zainul sendiri adalah Zainul Ichsan Puspowardoyoh Tanoesoedibjoh Yudhoyonoh Kallah Rajasah.

Kadang Zainul kami izinkan tidur didalam kamar. Dibawah meja rias, beralas tas mukena istri ku. Diluar sedang hujan, dingin sekali. Dia juga bangun saat sahur untuk minta disiapkan biskuit.

Siap laksanakan tuan…

Menjelang sore istri ku selesai masak. Lalu untuk menunggu berbuka kami berboncengan membeli makanan ringan yang kadang asal saja. Penjual mana yang ingin kami sapa hari itu? Seperti itu saja aturannya.

Sebenarnya istriku tidak melulu suka jajan. Sedang aku tidak perlu diragukan. Hari berganti, berbeda pula jenis jajanan itu; batagor, cilok, singkong keju, lumpia, donat, hingga es Goyobod, entah apa arti nama es yang seperti es campur itu ?

Lalu kami berbuka, enak sekali sop ayam buatan istiri ku sore itu. Tapi pernah tempe kami gosong, aku pelakunya. Sedang beberapa kali kami mendapat pisang yang belum matang, biar saja. Rasa manisnya biar aku cari dalam senyum istri ku.

Setelah sekian solat, bercengkrama, dan menonton film bersama, tahu-tahu, serasa seperminuman teh saja, takbir berkumandang, Lebaran pun datang.

Nah lho, ternyata ini semua nyata. Indah sekali. Walau tetap ada sepi karena tidak ada ibu bapak dan kampung halaman untuk kami pulang.

Duhai para pembaca, mohon maaf lahir dan batin. Tentu aku banyak salah. Taqoballahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima

Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan Lebaran selanjutnya

Hiduplah. Bertahan hidup. Karena saat-saat ini, hidup dan menghidupkan adalah hal yang makin penting.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Bersungguh – Sungguh Merindukan Ramadan

Merindukan ramadan

Walaupun banyak orang yang menyangsikan hal ini, saya malah termasuk pribadi yang percaya bahwa mereka yang berpuasa di bulan Ramadan selalu rindu akan kedatangan ramadan selanjutnya.

Mereka yang ahli ibadah akan merindukan segala ritual yang ada di bulan suci tersebut. Solat tarawih, khataman quran, itikaf, bakti sosial, dan sebagainya.

Rutin mereka berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain mengejar agar bisa salat diimami dai terkenal atau mendengarkan ceramahnya. Mesjid – mesjid dipenuhi orang melantunkan ayat – ayat suci. Jalan – jalan rutin jadi panggung berbagi sekedar cemilan berbuka.

Banyak orang mungkin rindu saat – saat semarak berbuka dan menyiapkan sahur. Sebagian, hmm, bisa jadi rindu karena ramadan adalah saat – saat dia bisa lebih dekat dengan orang yang disayanginya.

” Sayang, jangan tidur malam – malam ya. Nanti sahurnya telat ” atau ” Minggu depan jadi kan kita buka bareng ? ” adalah percakapan umum yang dilancarkan oleh mereka yang sedang berusaha ( mendapatkan cintanya )

Teman saya yang berjualan online amat menantikan ramadan salah satunya karena bulan tersebut adalah saat penjualannya meroket. Makanan, fashion, kosmetik, elektronik dan rupa – rupa barang konon lebih banyak dibeli justru saat ramadan. Unik ya ?

Ada juga orang yang menjadikan bulan ramadan momentum untuk dirinya yang lebih sehat. Selain berpuasa, dia juga jadi rutin berolahraga saban pagi setelah sahur atau sore menjelang berbuka. 

Pada suatu masa diri saya yang masih kecil, usia sekolah dasar, juga senang sekali berolahraga selepas sahur. Atau sekedar berjalan kaki mengelilingi komplek perumahan. Saat sore kami bersepeda atau bermain basket di lapangan sekolah.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, tiba – tiba kebiasaan tersebut hilang seiring kami yang bertambah dewasa. Tiba – tiba para sahabat pergi.

Yang lain rindu ramadan karena pada bulan inilah dia akhirnya dapat pulang ke kampung halaman dan bertemu keluarga. Walau sebentar saja, diantri THR oleh para keponakan juga tidak masalah. Bisa ketemu ibu, bapak, juga saudara – saudara. Siapa tahu ada yang dikenalkan.

Anggota keluarga bertambah. Anggota keluarga berkurang. Mudik selalu jadi momen yang dirindukan.

 

Begitulah ramadan. Setiap orang memiliki alasan masing – masing untuk bersungguh – sungguh merindukannya

 

Semoga aku dan kamu, masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya tahun depan