Tag - Pekalongan

Pekalongan, Boyolali, dan Bandung Dalam Semangkuk Soto.

Header blog soto boyolali (1)

Hari ini untuk kesekian kalinya, saya makan Soto Boyolali Hajjah Widodo bersama istri. Kami makan dicabangnya yang di Buah Batu, Bandung.

Seperti biasa tempatnya ramai. Tua muda dan para bocah hadir bersantap soto diiringi rintik hujan saat siang di Kota Kembang. Berbagai kendaraan roda empat dan roda dua, berpelat D, pelat sunda, pelat jabodetabek, pelat Jawa, berjejer di parkiran.

Tersebabkan semua hal itu, saya mengalami rasa sendu…

Saya sekali lagi merasa kalah sebagai orang Pekalongan dan harus mengakui keunggulan orang – orang mBoyolali di tanah rantau. Dalam hal ini saya rasa cukuplah diwakili istri tercinta sebagai orang asli sana.

Kok bisa-bisanya Soto Boyolali yang berhasil menembus Bandung Raya? Kenapa bukan Soto Pekalongan?

Dua pertanyaan tersebut muncul lagi di benak saya. Menjawab pertanyaan kedua lebih mudah. Tapi, sayangnya tidak sesederhana itu, Sukirno.

Sungguh sebagai peranakan Pekalongan, saya tidak pernah kurang berbangga soal berbagai figur yang lahir di dan dari tanah ini. Mulai dari Kapolri legendaris, ulama internasional, sastrawan besar republik, bos setarap unikon, hingga pengusaha besar jagad muslimah sudah ada.

Soal batik pun kami tidak kalah tanding dengan para sedulur dari Solo, Jogja, Madura sampai Cirebon. Bolehlah diadu siapa yang pantas menyandang nama Kota Batik. Bolehlah dicek juga batik mana yang lebih banyak beredar di pasar.

Terlebih lagi, bolehlah kami juga berbangga dengan sebutan Kota Santri. Tidak susah mencari pesantren segala model di Pekalongan. NU, Muhammadiyah, Salafi, semua ada. Walaupun harus berbagi sebutan dengan Jombang, Kudus, Kendal, Probolinggo hingga Tasikmalaya dan Banjar. Tidak masalah.

Tapi, kenapa begitu sulit mengingat Pekalongan dari kulinernya?

Coba aja kamu jawab. Apa kuliner dari Pekalongan yang kamu tahu ?

Padahal, bisa dibilang wajib hukumnya suatu daerah itu diingat dari sajian kulinernya. Mulai dari dodol, roti, keripik, empal, sampai teh melekat ingatan tentang daerah asalnya. Karena hal itu, orang jadi mudah mengingat Garut dari dodolnya, Batu dari keripik apelnya, Tegal dari teh pocinya dan Cirebon dari empal gentongnya. Bahkan saat ingat seblak kita juga bisa ingat Bandung.

Lalu, bagaimana cara mengingat Pekalongan dari kulinernya ?

Mungkin dari Soto, salah satu kuliner Indonesia yang banyak macamnya. Saya ingin Pekalongan bisa dikenal sejajar bersamaan dengan saudara sepersotoannya. Mulai dari Soto Kudus, Soto Madura, Soto Padang, Soto Banjar, Soto Lamongan, Soto Betawi dan Soto Bandung.

Tapi, nyatanya memang Pekalongan selama ini tidak diingat karena sotonya, yang bernama Tauto, yang tentu, sudahlah, kamu pun tidak tahu toh walau saya jelaskan?. Apalagi pernah makan…

Bahkan ketika dibandingkan dengan soto lain sesama soto Jawa lainnya seperti Soto Sokaraja ( Banyumas ) dan dalam tulisan ini Soto Boyolali, Soto Pekalongan tetap kalah tenar.

Di dekat tempat kami tinggal di Bandung, dekat sekali, ada penjual Soto Sokaraja. Kami pun sudah beberapa kali makan disana. Tapi, tidak pernah saya temui tuh penjual Soto Pekalongan di Bandung.

Jangankan Bandung, di Jakarta pun Soto Pekalongan hidup segan mati tak rela. Satu-satunya warung Tauto yang bisa saya ingat adalah Soto Pekalongan depan pasar PSPT Tebet. Sudah, sebiji itu saja.

Apalagi jika dibandingkan Soto Boyolali, wabil khusus yang bermerek Soto Sedap Boyolali (SBB) Hj. Widodo, yang bisa dibilang amat sukses di kota Bandung dan dicintai masyarakatnya.

Setidaknya itu yang secara kasat mata saya lihat di lokasi salah satu warungnya yang di daerah Buah Batu ini. Selalu ramai terlebih saat jam makan siang dan sore hari. Tidak kalah saat pandemi. Tidak menyerah dihantam PSBB, PPKM hingga entah apalagi singkatannya nanti.

Selain warung yang ini, terdapat juga cabang – cabang lainnya se Bandung Raya antara lain di Citarum, Gegerkalong, dan Cimahi. Belum terhitung berbagai cabang lainnya di Jabodetabek, Jawa Barat hingga Jawa Tengah. SSB Hj. Widodo bahkan sudah ada di Pekalongan ! Terlalu ga sih, paklek dan buklek ?

Hal ini sering membuat saya overthinking sebelum tidur, seperti kebiasaan anak – anak jaman sekarang. Kok bisa ya Soto Boyolali ini lebih berhasil di berbagai kota dibandingkan sedulur soto lainnya ?

Kalau dibandingkan dengan Soto Pekalongan, Soto Boyolali ini memang lebih ringan dan apa adanya. Soto Pekalongan kental bumbu dan rempah. Pakai tauco pula. Sedangkan Soto Boyolali begitu simpel. Sederhana. Tidak rumit. Tidak kompleks.

Kuahnya bening, jemu, hanya diisi irisan ayam atau daging sapi dan pelengkap lain yang irit sekali. Bandingkan dengan Soto Pekalongan yang sudahlah menggunakan daging kerbau, gelap, tegas, dan sulit diajak kompromi.

Soto Pekalongan pun tidak mengajak penikmatnya untuk kreatif. Paling – paling kamu hanya bisa makan Soto ini dengan teman lontong, nasi atau gorengan tempe dan kerupuk. Bandingkan dengan Soto Boyolali yang kamu bisa nikmati dengan sate cingur, sate paru, sate telur puyuh, tahu-tempe serta aneka goreng-gorengan lainnya.

Makan Soto Pekalongan dengan sate paru ? Apa ga eneg ?

Sudah dari berbagai sisi, Soto Boyolali mencetak skor.

Kemdian, terlepas dari kejelian tim bisnis dan marketing dibalik kesuksesan SSB Hj. Widodo, salah satu faktor lainnya dari keberhasilan Soto Boyolali menembus sekat – sekat geografis, sosiologis, dan ekonomis antar kota antar provinsi di Jawa ini menurut saya adalah terkait kewanitaannya.

Tahukah kamu nama merek – merek lain Soto Boyolali yang sejauh ini menancapkan pengaruhnya ?

Selain Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo, terdapat juga merek Soto Segar Boyolali Hj. Amanah, Soto Segeer Hj. Fatimah, Soto Bening Boyolali Mbok Roes, dan tentu saja Soto Segeer Mbok Giyem yang lebih dulu dikenal. Semua merek pemenang tersebut disandarkan pada nama seorang wanita atau lebih khusus lagi, seorang ibu.

Karena itu pula sekali lagi, setelah menghabiskan semangkok Soto Sedaap, disaksikan rintik hujan Kota Bandung siang ini, saya pun takluk pada si cantik dan rupawan dari Boyolali yang menjadi istri saya.

Kami pun pulang ke peraduan. Saat itu rona senja menjelang. Rinai hujan masih ada mengiringi perjalanan.

Eh, tapi, duhai wargi Bandung, ngomong-ngomong, mohon penjelasan. Kenapa pula ada lobak di soto kalian ?