Tag - Masyarakat

Saya Tidak Khawatir Pada Virus Corona

tidak khawatir pada virus corona

Tulisannya lebih panjang dari biasanya, semoga kamu bisa betah. Temanya pun sudah mulai membosankan.

Itu lagi-itu lagi. Lha gimana, wong belum beres.

Kamu khawatir ga sih soal perCoronaan ini ? Kalau saya, khawatir banged.

Tapi, BUKAN karena virusnya.

Separah apapun sakit bisa sembuh.

Sedikit apapun duit bisa dicari lagi.

Sesulit apapun silaturahmi bisa dilanjut nanti.

 

Tapi, seberapa lama wabah Corona ini berlangsung ?

 

Bisa jadi cepat.

Ramadhan nanti kita berpuasa, bisa ke perempatan lagi beli es buah buat buka. Bisa tarawih bersama. Bisa sahur bareng kesayangan. Lalu bisa mudik Lebaran ramai-ramai. Itu ga lama, sekitar sebulan lagi.

Tapi, wabah ini, bisa jadi lama. Lama sekali.

Ramadhan nanti pun sepi. Puasa banyak dirumah. Solat semua dirumah. Perempatan lengang, es buah ga Ada, gorengan apalagi. Mudik batal. Sungkeman sama orangtua lewat video call. Lebaran hanya di dalam kamar.

Seperti itu. Entah berapa bulan kita balik normal.

Tapi ya, lama atau cepat, sebabnya adalah hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa Kita lakuin untuk membantu melawan.

Ealah tapi Ada aja ya orang.

Disuruh Work From Home, malah plesiran.

Disuruh Social Distancing, malah resepsian.

Disuruh ibadah dirumah, malah nantang.

Disuruh belanja biasa aja, malah nimbun barang.

Tau-tau, seperminuman teh, yang terjangkit sudah ribuan, yang wafat bisa ratusan. Saat itu, seperti biasa, habis ngeyel kita baru deh nyesel.

Soalnya, biar bagaimana pun, negara-negara yang berkepentingan akan mati-matian mencari penyembuhnya. Kalau ga bakal gawat ini dunia.

Alhamdulillah, dari sekarang kabar baik pun mulai berdatangan dari segala penjuru. Dari China, Amerika, Jerman, Jepang, sampai Israel.

Pasti. Pasti ada obatnya. Sembuhlah kita. Lalu kita bisa imun. Jadi kebal. Atau seengganya Corona jadi penyakit model flu musim hujan. Sembuh dengan beli obat dari warung.

Eh tapi ya. Bisa-bisa nanti pas waktunya, negara-negara lain sudah mau beres, kita malah lagi parah-parahnya. Ya karena hal-hal egois yang kita lakuin.

Akhirnya nanti bantuan berdatangan. Sebagian tulus, sebagian pakai akal bulus. Rakyatnya gamau tau, pokoknya gua mau sembuh. Besok malam. Gimana kek caranya.

Terus kita ribut. Komennya model begini

Lah kok nerima bantuan China.

Kok vaksinnya dari Israel.

Halah gak bisa lepas dari pengaruh Amerika.

 

Indonesia oh Indonesia. Kamu kok gampang sekali ditebak sih?

 

Karena skenario waktu lama ga mengenakkan buat saya dan semua orang, saya berusaha sebisa-bisanya mewujudkan skenario waktu sebentar.

Saya mulai dari diri saya sendiri. Lalu ke istri. Lalu ke keluarga. Semua terkendali. Kami bisa satu suara bahu-membahu melawan virus ini.

Mulailah saya “berdakwah” di lingkungan yang lebih besar: Rukun Tetangga , Rukun Warga.

Tempo hari contohnya, atas dasar keinginan membangun kesadaran warga RT yang sepertinya masih cuek dan suka-suka, saya share beberapa info ke grup WA.

Grup WA ini ya campur anggotanya. Tapi, tipikal grup WA warga lah. Ada juga yang suka share hoax dan berita gajelas dari platform media asal-asalan.

Saya coba share beberapa info. Soal manfaat distancing, himbauan solat dirumah, dan kenapa kita sudah harus kurang-kurangi bepergian.

Info-info ini valid, saya bahasakan sederhana, sopan, dan disertai link untuk diverifikasi.

Coba tebak. Apa respon yang Saya dapatkan dari sebagian orang ?

Info pertama saya dibalas dengan postingan Jenderal Gatot yang berbau busuk hoaks tentang orang-orang China yang berwudhu dan belajar solat .

Info kedua tidak kalah lucu balasannya Karena berupa meme dari Gubernur Sumatera Utara. Yah. Modelnya sama lah.

Saya jadi bingung. Beneran.

Walau informasi datang dengan otoritas apapun, ternyata ada orang-orang yang memang batu sekali. Egois pula. Dan mereka tidak malu-malu menunjukkannya.

Apalagi kalau baca macam-macam respon lain, yang ga semuanya saya tanggapi. Males. Hopeless. Masa berdebat sama tetangga sendiri. Iya kalau sepadan, lha ini seruan Dewan Ulama dibalas Jenderal Gatot cari muka. Jauh lah.

Saya jadi inget salah satu video pak Yuri Jubir di channel Deddy Corbuzier. Disitu Pak Yuri menjelaskan betapa sulitnya menjelaskan kegawatan wabah ini ke masyarakat luas. Apalagi di daerah-daerah jauh.

Ada gap geografi, teknologi, Informasi, sampai intelektual. Yang jangankan ngomongin virus, ditanya makanan bergizi aja mereka bingung. Standarnya apa? Buah? Kami gabisa beli buah juga. Begitu katanya.

Nah. Kalau daerah-daerah ini terkena wabah? Skala bencananya pasti luar biasa.

Eh. Itu tentu didaerah yang sulit Tapi gausah jauh-jauh. Lha itu tadi.

Di tetangga kita, teman sekelas kita, jamaah masjid kita, juga banyak yang berjarak sama kita lho. Ini dengan kondisi ” kita ” adalah masyarakat perkotaan. Seperti Jabodetabek.

Pasti kamu ngerasain kok. Entah bagaimana, bahkan saat-saat kayak begini, ada saja orang-orang yang ga ada di pemahaman yang sama.

 

Pokoknya, mereka ini seperti hidup di dunia imajinernya sendiri.

 

Dunia dimana pemerintah itu jahat.

Dunia dimana orang yang berbeda dengannya itu berniat jelek.

Dunia dimana semua orang tidak akan ada urusan dengan akibat keegoisannya

Kaget. Ternyata ada saja orang, banyak, tidak berpikir tentang selamat sama-sama. Bahkan mungkin tidak masalah kalau semuanya tidak selamat sekalian. Sakit. Lapar. Huru-hara. Biar saja.

Entahlah. Selalu ada suatu jurang diantara kita dan mereka. Dimanapun kamu berada. Ada apa di dalam jurang itu? Mungkin akumulasi berita hoax, kebencian, rasa ketidakadilan, ketidakberdayaan, atau sekedar egois. Mau benar sendiri. Mau menang sendiri.

Atau mungkin yang mereka mau sekedar pihak yang dianggap lawan mereka, figur, kelompok, pemerintah yang saban hari mereka benci, jadi Gatot, Gagal Total. Seperti nama pujaannya tersebut.

Walau nanti kita sama-sama menderita. Itu tidak jadi masalah. Biar saja.

Tapi, maaf, itu masalah buat saya. Saya mau ini semua lebih cepat selesai. Untuk saya,istri saya, keluarga saya. Ramadhan saya,mudik lebaran saya.

Saya masih akan sebisa-bisanya berusaha.

Karena tahu, setiap detiknya, setiap harinya adalah waktu yang amat berharga untuk mereka yang berjuang di garis terdepan juga keluarga mereka yang setiap hari cemas ikhlas melepas kesayangannya pergi melawan wabah.

Sekedar curahan hati. Semoga kamu memaklumi tulisan gundah Saya yang panjang ini.

Silahkan di share tulisan ini, untuk kesadaran bersama.

Wassalammalaikum waramatullahi wabarakatuh.

Semoga Allah SWT berkenan mengangkat wabah ini secepatnya.

 

 

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

BPJS Pria Idaman

keluarga pak H dan ibu bapak saya

3 hari sebelum foto diatas diambil, Pak H wafat, sehingga pada foto, hanya ada Bu H, anak – menantunya, dan emac – bapak ku.

Iya, beliau wafat 3 hari sebelum hari pernikahan salah seorang putrinya

Dalam bilangan 3 juga Pak H keluar masuk rumah sakit.

2 kali di RSUD Pasar Minggu, kemudian selanjutnya 1 Kali beliau dipindah ke RSUP Fatmawati.

Pada 3 hari yang lalu itu, Bu H menelpon ku, mengabarkan suaminya telah wafat. Dan Bu H memohon bantuan agar berita dikabarkan ke ketua RT dan pengurus masjid untuk diumumkan

” Acaranya Bu H apa akan diundur ya, Mac? “ tanya ku pada emac malam itu

” Ya ngga lah. Namanya juga takdir, sekarang saatnya mengurusi persoalan yang masih hidup “ itu jawaban emac dalam bahasa Jawa tentunya.

Selama pak H dirawat, Emac dan Bapak yang bolak-balik menjenguk. Terhitung Bu H ini memang termasuk sahabat Emac

Saban waktu saat luang, Bu H jadi salah satu tetangga yang ikut membuat tempe mendoan di rumah. Dibayar tentu saja. Sedang pak H, seingat ku terakhir berjualan gorengan di dekat pangkalan taksi.

Suatu hari, saat sedang berjalan pulang, Emac menemukan Pak H duduk menggigil. Mengenakan jaket. Berkeringat dingin.

Tidak lama lalu, Pak H baru saja keluar RS yang pertama.

” Pak H, kenapa maksain jualan begini, kan baru keluar rumah sakit? “ Emac bersama beberapa orang menolong beliau, memberikan minum.

” Gimana ya Bu Sri, sudah lama sekali saya ga jualan. Kasian orang rumah “ jelas Pak H. Pucat. Sendu. Pilu wajahnya.

” Pak H sakit apa si Mak? “ tanya ku suatu malam

Ginjal dan hati, jawab Emac ketika itu.

Di hari lain, Emac menemukan Pak H mengendap-endap merokok di pelataran makam dekat masjid

” Hayo, Pak H. Masih merokok ya. Saya laporkan ibu ya “ kata emac saat memergoki

” Sedikit, Bu Sri. Cuma sebatang. Mulut saya asem betul kalau tidak merokok “ kata beliau

” Padahal ya, pak H itu sakit juga paru-parunya “ jelas Emac tempo hari saat menceritakan kisah ini.

” Eh, tapi, Mac. Pengobatan ini semua Pak H pakai BPJS kan? “ tanya ku penasaran. Mungkin ditanggung BPJS sebagian. Mungkin penuh. Entahlah bagaimana prosedurnya .

” Lha iya. Kalau ngga bayar pakai apa wong sampai berjut – jut gitu “ berjut – jut itu maksudnya, berjuta – juta. Dan tentu saja tidak dibawah 10 juta.

Alhamdulillah. Ditanggung BPJS toh.

Aku yakin ada cerita lain, tempat lain, waktu lain, dimana orang – orang seperti pak H tidak mau dirawat di rumah sakit karena khawatir soal biaya.

Dan ada juga cerita lain,

Saat orang – orang lain yang tidak seperti emac dan bapak ku, sehat dan mampu, ogah ikut bayar BPJS secara tertib karena merasa tidak dapat untung dari membayar BPJS.

Melihat Pak H, Biarlah emac dan bapak ku, dan seluruh anggota keluarga selalu rugi karena membayar BPJS.

Pada malam resepsi pernikahan salah satu putri Bu H itu, Emac ku menyumbangkan satu lagu. Bernyanyi dia bersama sang biduan.

” Pilih lagunya apa?” Tanya Emac pada Bapak sebelum naik ke panggung

” Pria idaman saja” kata Bapak

Walau jauh, sungguh jauh sekali kualitasnya dengan Rita Sugiarto, Emac bernyanyi :

Sikap mu yang penuh kasih dan sayang
membuat aku hai mabuk kepayang

Sikap mu yang peramah dan pendiam membuat aku rindu siang malam

Demi mendengar Bu Sri, Emac ku itu bernyanyi, Bu H tersenyum, bapak tersenyum, aku ngakak. Hehe

Yuk lah Subscribe blog saya ini !



   

   
   

Belajar Naik Motor Dengan Santai dan Santun Dari Bapak Guru SD

motor yang sering dipakai guru

Kamu gemes dengan kelakuan pengendara motor yang makin ugal – ugalan saja ? Sama banged. Saya juga.

Apalagi di kota seperti Jakarta ini, salah satu penyebab kemacetan yang bikin gila ini ya para pengedara motor.

Ya ga semuanya sih. Kamu perlu tahu tipe pengendara motor alternatif yang tidak ugal – ugalan dan tidak jadi sumber keributan.

Siapa kah mereka itu ?

Jika ingin hidup damai, tenang dan santai berkendara motor di ibukota, kendarailah motor Supra atau Vega seperti bapak guru SD atau petugas Puskesmas. Yah contoh lainnya motor Mio atau Beat lah. 

Yang akan saya tulis ini adalah berdasarkan pengalaman saya hidup di ibukota. Jadi mohon maap sama bapak guru SD dan petugas puskesmas saya jangan dimisuhi ya. Wong cuma ambil contoh. Hehe

Mohon maaf. Saya mau nulis ini : arrogant, prick and asshole !

Lama sekali lalu lalang di jalanan ibukota, saya sudah berpapasan dengan berbagai jenis pengendara motor.

Saya pun jadi punya hipotesa bahwa makin besar (ukuran dan/atau CC) sebuah motor, maka pengendara tersebut makin punya kecenderungan jadi ” arrogant, prick and asshole” di jalanan.

Misuhan itu saja sampai saya tulis dalam bahasa Inggris karena sudah saya anggap menyebalkan betul para pengendara model begitu.

Gak ketemu padanan kata yang enak diucapin.

Gak percaya ? Coba ni ya saya kasih daftarnya buat kamu. Mereka ini di jalan :

  • Klakson-klakson ga sabaran
  • Meraung-raung gas di sebelah kita
  • Parkir suka-suka di kantor
  • Nyempit-nyempitin jalan masuk kampung
  • Ngebut – ngebut zig – zag pamer motor
  • Mepet motor lain yang lebih kecil di sebelah kiri

Masih mau lagi? Masih ada kok contohnya. Mereka ini :

  • antar jemput anak sekolah ga pakai helm tapi sempet pakai Kacamata besar ga nyambung. Yang emac emac? Lengkap kosmetik
  • masih di sekitar sekolah, malang melintang menghalangi lewat karena ngobrol sama pengendara sejenis
  • masih di sekolah. Minta tolong narikin mundur motor sama orang yang baru saja diintimidasi

Serius ini. Buat saya orang orang ini ridiculously annoying dalam level yang sudah paripurna.

Selebihnya orang orang ini akan masuk tingkatan veteran kalau kelakuan – kelakuan tersebut diiringi knalpot lebay yang bunyinya mengganggu saat kita ingin makan dengan tenang.

Atau saat menunggu di lampu merah dengan sabar, atau ngobrol dengan teman di sebelah sambil menunggu jam pulang. Prepet-prepet nya bahkan masih terdengar walau motornya sudah jauh.

Primata. Monyet !

Karena saya belum pernah pakai motor dengan cara begitu, saya tidak tahu alasan mereka berperilaku intimidatif seperti itu.

Kalau kata seorang teman perilaku mengintimidasi dan rasa senang mendominasi yang lain itu bawaan kita sebagai primata.

Salah satu contoh primata adalah Monyet! Iya. Monyet !

Sadar atau tidak, pengendara motor intimidatif makin banyak saja jumlahnya di jalan – jalan kita. Akhirnya makin banyak orang jadi beringas di jalan.

Wong yang berlaku hukum rimba gitu kok. Siapa yang keras. Siapa yang kasar. Dia akan berkuasa di jalanan.

Padahal nih ya. Seandainya mereka buru – buru lebih ngebut pun. Ugal – ugalan di jalan. Bikin orang lain emosi, memang akan seberapa lebih cepat sih mereka sampai ke tujuan ?

Dua jam ? Halah paling berapa menit itu pun dilalui dengan tekanan darah tinggi.

Tenang, ga semuanya begitu. Masih ada suri tauladan diantara kita

Nah. Tapi, akan lain sekali keadaan jalan-jalan kita jika pengendara motor digantikan mereka yang berkendara dengan santuy seperti bapak guru SD dan petugas puskesmas yang saya jadikan sebagai contoh disini.

Mohon izin ya, bapak, ibu

Mereka adalah para pengendara yang umumnya menggunakan Supra, Mio, Beat atau Vega. Barisan motor santai dan santun Republik Indonesia.

Mau ngebut?

Halah. Mana kuat motor motor begitu dibawa 60km/jam. Goyang – goyang pasti. 80 km/jam ? Bisa terbang. hehe

Mau arogan di jalan?

Walah. Ya ra mungken. Wong motor yang dipilih itu adalah cerminan perilaku mereka yang sederhana, bersahaja dan lemah lembut kok.

Mau melintang depan sekolah?

Ya ga laku. Kan bodi nya kecil. Ya tinggal dilewatin aja lah 

Mau berisik – berisik pakai knalpot?

Ya cuma bikin malu lah. Suara sama jiwa ga nyambung gitu. Knalpot menjerit. Mesin bisa cepirit.

Bapak ibu guru nih. Eh ada saya disitu. Hehe

Para pengendara seperti ini pun cenderung tertib. Taat lampu dan rambu. Juga tidak berisik sekaligus lebih ramah polusi dan ekonomi.

Dalam perjalanan yang ada dipikirannya adalah bagaimana keadaan anak didik nya di kelas?

Apakah PR minggu lalu sudah dikerjakan? Apakah terlalu sulit ?

Atau Apa kabar pasien sembelit tempo hari? Apa resep yang diberikan sudah ditebus di apotek?

Subhanallah, Bapak. Ibu.

Salim, Pak, Bu. Jangan lupa tahlilan di pak RW habis Isya ya

Di jalan jalan kampung pun amat menyenangkan bapak Ibu ini. Halus dan bersahaja suara mesin nya.

Lewat rumah warga pun selalu dapat sapa

” Apa kabar pak guru” 

” Baru pulang ya pak Guru”

” Jangan lupa nanti tahlilan habis isya di rumah pak RW ya pak Guru “

Kehadirannya menghadirkan ketenangan. Kehilangannya menghadirkan kerinduan.

Duhai. Bapak, Ibu guru, serta para petugas Puskesmas. Perawat, bidan, apoteker dan dokter jaga.

Saya yang bertemu dengan beliau dalam perjalanan solat isya di masjid pun mengucapkan salam.

Cium tangan. Bersama remaja – remaja lain yang saat SD nya sudah terbantu diluluskan pak Guru ini.

Ah. Merdu sekali suara motor pak Guru saban sore hari.

Wiiiiir Wiiiiir.

Sebarkan tulisan saya di media sosial kamu dan jangan lupa subscribe lewat email ya !