Tag - Kuliner

Sejuk & Akur Dalam Setiap Aduk Bubur

Bubur yang tidak diaduk

Saya ini gabisa makan bubur yang tertata rapi, yang tidak diaduk, seperti yang ada di foto diatas.

Dan sungguh betapa menggemaskan melihat penikmat bubur rapi seperti ini makan dari tepian.

Bayangkan. Disuatu suap dia hanya makan bagian berkacang. Disuap lain bagian berayam. Disuap kemudian bagian berkecap.

Betapa rumitnya makan dengan banyak ketentuan seperti itu. Bandingkan dengan penikmat bubur diaduk. Setiap unsur dari bubur yang disajikan bercampur mesra dengan akur.

Tapi, saya ga pernah tuh misuh-misuh pada penikmat bubur rapi waktu makan bersama. Suka-suka mereka saja lah. Asalkan ga ngajak-ngajak apalagi sampai memaksa

Penikmat bubur diaduk adalah mereka yang hidupnya majemuk dan penuh rasa syukur.

Tapi, walau mengaduk bubur, saya ini penganut mazhab memisah kerupuk. Seperti hanya saat saya makan ketoprak dan gado-gado. Tapi, cukup berbeda saat makan nasi goreng dimana saya meremuk kerupuk dan menaburkannya.

Kerupuk menempati posisi istimewa pada bubur yang diaduk dimana dia saya makan utuh atau dijadikan sendok rekaan. Sungguh pengalaman makan yang tidak biasa.

Diantara umat pengaduk bubur, mungkin saya hanyalah kelompok Jam’iyah yang kecil. Namun, saya berharap tetap dapat diterima mereka.

Seperti halnya saya telah menerima mereka atas segala kekurangan dan kelebihannya. Juga kepada umat bubur rapi. Bahkan pada mereka yang menurut saya keterlaluan karena menikmati bubur ayam untuk makan malam.

Duhai para sahabat ku, kita adalah saudara dalam kemanusiaan dan kebuburan♥️

Dari sahabat mu, Abas, yang selalu berusaha bersyukur dalam setiap adukan bubur

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya