Tag - Betawi

Pekan Raya Kerak Telor Jakarta

Pekan Raya Kerak Telor Jakarta

Ini beneran.

Pernah ada masa dalam hidup saya yang mengira bahwa Kerak Telor hanya bisa dibeli saat ada PRJ, Pekan Raya Jakarta, setahun sekali.

Iya, PRJ yang di Kemayoran itu.

Para penjual Kerak Telor ada di sepanjang trotoar menuju area pameran. Banyak sekali. Tua, muda, kebanyakan sih tua, berderet-deret tiap beberapa meter.

Betawi Asli, begitu tulisan di spanduk kecil yang ada di pikulan mereka. Atau apa entah itu namanya. Kalian pasti paham lah.

Mereka mengupas Telor, Telornya telor bebek. Lalu mengipas-ngipasi adonan, menaburkan kremes kelapa, membolak-balik wajan. Aduhai terampil sekali. Sungguh seru memang ritual membuat Kerak Telor itu.

Saya yang ketika itu tidak lebih dari usia anak SD membeli Kerak Telor sepulang lihat pameran. Di pameran PRJ itu memang tidak banyak saya minta dibelikan sesuatu oleh bapak.

Di dalam kami lebih senang melihat hiburan Musik, sulap, hingga Badut. Pernah ada akrobat motor. Sisanya ya pameran itu isinya jualan macam-macam. Tivi, kulkas, mobil, dan lemari.

Paling saya minta dibelikan buku tulis, beberapa pack isi selusin dan alat tulis untuk sekolah. Cukup untuk 3 caturwulan, waktu sekolah 4 bulanan. Bukunya pun sekedar merek SiDu, alias Sinar Dunia.

Baca juga

Sejuk & Akur Dalam Setiap Aduk Bubur

 

Pernah sekali-sekalinya saya beli sepeda, eh doorprizenya dapat kipas angin. Emac dan Bapak gembira sekali. Kemudian saya dibelikan Yo-yo yang menyala-nyala hijau-biru-merah. Lalu pulangnya kami menepi di trotoar. Membeli Kerak Telor. Setahun sekali, begitu rutinitasnya

Menjelang dewasa dan saya berkesempatan pergi lebih jauh sendiri, saya akhirnya mengetahui bahwa Kerak Telor tidaklah hanya ada di PRJ. Bahkan di Tegal Parang, kampung Betawi dekat dengan rumah kami di Mampang Prapatan ada penjualnya.

Pada masa-masa itu, keistimewaan Kerak Telor buat saya tergantikan dengan rasa sedih hidup dalam kenyataan. Kenyataan yang selama ini tidak saya ketahui tentang Kerak Telor.

Kerak Telor membuka Kenyataan yang memerikan hati untuk seorang bocah lugu pengguna buku tulis merek SiDu. Sinar Dunia.

Para penjual Kerak Telor di PRJ itu, yang berderet-deret di trotoar, lebih banyak yang tua, ternyata memang hanya bisa berjualan diluar karena tidak mampu membayar sewa untuk berjualan di pameran. Mahal ternyata berjualan di tempat yang mewah itu.

Para penjual yang sebagian besar adalah warga Betawi dari kampung sekitar Kemayoran, berjualan di trotoar karena mereka tidak bisa menyesuaikan dengan gegap gempita di dalam pameran. Padahal PRJ bisa jadi adalah tempat mereka bermain di masa lalu. Entah bentuknya empang atau kebun-kebun.

Keterlaluan. Padahal saya ini macet-macetan ke PRJ ya karena Kerak Telor.

Bertahun-tahun sudah saya tidak lagi ke PRJ. Emac dan Bapak pun tidak pernah lagi mengajak. Mungkin karena buat kami keistimewaanya telah hilang.

Baca juga

Mi Ayam Sang Kartini Belokan

Tapi, tanpa ke PRJ lagi, saya tetap sering membeli Kerak Telor. Ternyata cukup sering mereka hadir di sekitar kita. Bahkan di Car Free Day jajan pun ada. Di acara kampus, juga di bazzar – bazzar kampung.

Seperti kemarin saat saya di Karang Satria , Bekasi. Saya menemukan seorang penjual Kerak Telor. Ramai sekali pembelinya.

Saya menawarkan istri saya, si Cantik, untuk jajan Kerak Telor.

Ayolah manisku. Dia mau

Dia memilih telornya ayam. Namun, saya tawarkan padanya untuk mencoba juga yang telor bebek, seperti yang sudah dikenal selama ini dalam hidup saya.

Ayolah, sayangku. Dia mau.

Akhirnya kami beli 2. Penjualnya, saya, cinta, pun jadi 2 kali lebih bahagia.