Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Mereka mulai kami asuh saat masa social distancing ini : Bruno dan Lidya namanya.

Perihal nama mereka, aku ingin sekali menyematkan Silalahi pada Bruno dan Hasibuan pada Lidya. Tapi, aku takut masyarakat Batak tersinggung.

Sedikit mengenai keduanya, aku ingin bercerita lewat tulisan ini.

Di saat-saat sulit, berkat mereka aku jadi punya kegembiraan kecil-kecilan dalam hari-hari monoton belakangan ini. Memberi makan, mengelus, mengusir mereka saat obrak-abrik tempat sampah.

Kegembiraan itu, kecil-kecilan saja, seperti letusan petasan remeh para bocah. Dibanting cara mainnya. Sedangkan, kegembiraan besarnya selalu datang dari istriku. Misal, menyiapkan sarapan, menanyakan ingin minum apa.

 

Apakah tehnya terlalu manis?

Tidak, kamu yang terlalu manis. Gula dan seluruh rasa ku.

 

Aneh sekali sebenarnya. Diantara hiruk – pikuk ini, hanya kita, Homo sapiens yang tampak merasa disusahkan. Padahal spesies lain begitu saja hidup, ada, hari ke hari, normal dan apa adanya. Tidak ada yang berubah.

Kalau mereka harus makan ya mereka makan. Jika saatnya mereka mati, yasudah mati saja begitu. Undur diri. Bersembunyi di pojok kebun pisang.

Aku sempat berpikir, malam ini, dengan kekasih hati ku sudah tidur lelap disisi, bagaimana kalau manusia hidup seperti hewan-hewan ini saja?

Makan, berak, kawin, tidur, ulangi. Praktis. Tidak merusak. Kerjanya hanya beranak-pinak. Lalu punah otomatis karena bumi dihantam meteor.

Tidak ada udara kotor, sungai tercemar, apalagi hutan dibakar-bakar. Semua terjadi secara alami. Populasi diatur lewat bencana alam atau pemangsaan.

Baca juga

Saya Tidak Khawatir Pada Virus Corona

Ada wabah, alami, kulit gatal, nafas tersengal. Kita mati begitu saja. Bukan karena kita rakus melahap hewan liar apalagi dibuat-buat saingan pasar.

Tapi, manusia ga boleh begitu. Karena kita bukan spesies lain. Allah menciptakan kita sebaik-baiknya. Bahkan malaikat pun sudi sujud. Hanya satu terangkuh yang tidak. Musuh kita sepanjang masa.

Diciptakan kita berpikiran. Berkreasi. Menciptakan zaman-zaman. Membangun, merusak, memperbaiki. Begitu terus sampai kita hancur sendiri.

Karena itulah, aku percaya kita akan bertahan lagi, berhasil lagi dan bekerja untuk membuat dunia jadi makin baik lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Terus bertahan sampai Dia mau kita punah dan seisi dunia.

Sulit, tapi teruslah menjadi positif, keluarga seperadaban. Berat, tapi kita akan melalui ini semua. Walau berbeda sebagai seorang Silalahi, Hasibuan, Mas Yono, Kang Tisna, Bang Sabeni maupun Uda Maldini.

Kita harus bisa. Karena kita manusia.

 

 

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *