kentang organik atau anorganik

Seperbelokan saja dari tempat kami tinggal ada warung. Disana dijual telur, sayur-mayur dan bumbu dapur.

Setengah kilo telur Rp12.500, sekilo kentang Rp14.000. Kedua bahan tersebut adalah apa yang kami beli disini untuk jadi sarapan. Harganya tentu lebih murah dari dari swalayan. Dekat pula, kalaupun harganya sama, biar saja.

 

Ini adalah tentang keberpihakan. Seperbelokan saja. Seperlemparan batu jaraknya.

 

Suatu waktu kami ke swalayan membeli kentang. Ternyata kentang organik, klaimnya begitu. Bagus kemasannya. Ada logo. Ada warna-warni. Didalamnya disertakan fotokopi sertifikat keorganikan. Rp30.000 saja harganya. Sangat swalayan.

Kentang tetangga tentu amat berbeda. Dibungkusnya dengan kresek. Tidak perlu scan barcode. Kentang ditimbang, harga sepakat, langsung dibawa pulang. Tentu tidak ada lampiran sertifikat. Apalagi daftar riwayat hidup.

Kentang tetangga ini sebenarnya secara Biologi ya organik. Tersusun utama atas perpaduan unsur Karbon dan Hidrogen. Jika ada spesies yang non-organik bisa jadi dia tersusun dari logam. Mungkin hidupnya di Merkurius sana. Atau diantara meteorid yang beterbangan diangkasa.

Namun, dibicarakan dalam dunia Pertanian, kentang tetangga ini jadi tidak organik. Perkaranya karena si kentang dihidupi dengan pupukan kimia dan dijaga dengan semprotan kimia. Akhirnya dimasukkan lah dia jadi produk pertanian anorganik. Yang dimaksud sebagai pertanian konvensional.

Dirimu organik, tapi menjadi anorganik karena pergaulan. Duhai dinda , susahnya hidup sebagai sebiji kentang.

Eh kok sebiji kentang ?

Atau sebuah kentang?

Lha kok buah?

Kamu ini sayur atau buah??

.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *