Sederetan Jemuran

Saya ini jarang sekali mencuci pakaian. Apalagi menjemur. Wah, ribet. Jangan ditanya juga bagaimana saya menghindari menyetrika atau melipat baju.

Di rumah orangtua, setelah Emac ( ibu saya ) terdesak melihat tumpukan baju kotor saya, beliau sering mencucikannya sambil merepet mengomel.

Bukan, ini bukan perkara saya manja apalagi sengaja merepotkan orangtua. Tapi, karena saya punya konsep mengumpulkan baju kotor hingga beberapa hari untuk kemudian dicuci. Sayangnya konsep ini belum dapat diterima oleh Emac.

Padahal dengan konsep ini, paling banyak saya 3x mencuci dalam sebulan. Itu pun saya antarkan ke Laundry. Dicuci, dijemur, disetrika dan dilipatkan orang. Praktis, murah dan go green sekali kan ?

Apalagi kalau dilihat – lihat, sebagian besar pakaian yang saya cuci itu cuma kaos oblong. Sedikit sekali ada kemeja. Celana panjang paling 1 -2. Jadi, makin kuatlah keengganan saya untuk mencuci.

Memang semenjak memutuskan bekerja dari rumah, saya jadi jarang berkemeja. Paling jika ingin keluar suatu kegiatan atau bertemu orang. Ya saya bekerja seperti itu saja, berkaos oblong dan tentunya tetap pakai celana.

Bisa bekerja dari rumah

Ya kira – kira beginilah suasana saya bekerja. Ini mah rapi ya di meja. Hehe.

 

Kemudian saya menikah dan perlahan banyak sekali hal berubah

15 Desember 2019 saya melangsungkan pernikahan, jadi sewaktu tulisan ini dibuat ya saya masih bisa dibilang penganten baru lah. Hehe

Saya tidak perlu menguliahi kamu soal pernikahan, karena saya pun bukan ahlinya.

Namun, setelah menikah, saya salah akan banyak hal, merasa bodoh akan banyak hal, dan belajar akan banyak hal.

Salah satunya soal mencuci dan menjemur pakaian.

Dalam hal mencuci, saya dan istri banyak kesamaan. Dia juga lebih sering mengirimkan pakaian kotor ke Laundry.

Beberapa hal saja masih dicuci sendiri, misal daleman. Sedangkan saya sering khilaf waktu ke Laundry segala hal saya sertakan termasuk CD alias Celana Dalam.

Malu sekali tentu saya dalam suatu kejadian pemilik Laundry sampai menuliskan ”  Tidak Menerima Mencuci Daleman

Kadang, jika tidak keberatan, saya menyertakan CD saya pada cucian yang akan dikerjakan istri. Walau sebenarnya saya pun gapapa lho mencuci sendiri. Serius.

Tapi, soal menjemur, saya baru saja mengetahui satu kesalahan dalam hidup.

 

Agar warnanya awet…

Gambar utama dalam tulisan ini menjelaskan betapa fatal kesalahan yang saya buat. Bertahun – tahun lamanya

Sungguh saya baru tahu, saat menjemur pakaian itu, sisi yang dijemur adalah sisi sebaliknya, sisi dalam pakaian.

Bertahun – tahun itulah, saya menjemur dengan aturan suka – suka. Sisi manapun yang kebetulan saya angkat ya saya jemur.

Agar warnanya awet, sayangku… ” begitu istri saya bilang alasannya.

Walah.

Bagaimana bisa bertahun – tahun tidak ada yang pernah bilang ( atau saya yang tidak mendengarkan ? ) soal hal ini ? Bahkan tidak pula saya berusaha mencari informasi ini di internet.

Untungnya jemuran itu memang hanya dijemur sebentar. Mereka hanya pakaian dalam tas yang kebetulan basah terkena hujan saat saya bepergian.

Atas kejadian itu, saya senang istri saya mengoreksi kesalahan yang saya buat. Sepertihalnya saya senang sekali saat dia bersedia menerima saya utuh dalam hidupnya, lewat pernikahan.

Saya yang enggan sekali mencuci baju dan gemar menyerahkan CD ke Laundy ini…

Jodoh memang perkara Tuhan yang menakjubkan. Dan saya sungguh bersyukur menikah dengan istri saya, Anita Lestari, yang duhai cantiknya, pintar dan penuh keterampilan.

Walau saya bukanlah ahli pernikahan, saya ingin bilang pada mu dan para pembaca sekalian kalau ternyata menikah itu memang banyak manfaatnya.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *