model pendidikan dasar yang ideal
Apa yang wajib ada di pendidikan dasar kita ?

Saya sering dibuat takjub betapa intensif dan ekstensifnya pendidikan dasar itu. Mulai dari yang label nya Pendidikan Four Point O, pendidikan berbasis karakter hingga pendidikan dengan semangat kewirausahaan.

Tapi, apa yang sesungguhnya wajib ada di pendidikan dasar kita ?

Kalau kamu menanyakan itu pada saya, saya juga belum dapat jawabannya. Masih mencari -cari.

Saya cari jawabannya di sekolah bagus perkotaan, di sekolah yang penting ada di kampung-kampung, di home schooling, di les privat, di bimbel, bahkan pada si Yutub. Juga pada diri saya, pada keponakan, juga pada para bocah yang saya antar masuk sekolah SD di lembah kampung tadi pagi.

Lokasi sekolah mereka ada di bawah, kita sebut saja lembah, karena kampung mereka lokasinya paling atas. Jadi, kami sekolah dengan menuruni lembah.

Sebut saja begitu.

Untuk mencapai kesana tidak sulit. Kamu tidak perlu membayangkan drama anak – anak yang bergelantungan di jembatan, dibawahnya mengalir sungai yang deras, untuk sampai ke sekolah itu. Tidak. Keadaan disini tidak sesulit itu. Bahkan, dalam banyak kondisi malah jauh lebih baik.

Anak – anaknya tidak ada yang kurang gizi. Sehat dan ceria semua. Disini makan apa – apa gampang. Beras ada, sayur – buah ada, ikan dan ayam ada. Kambing pun banyak. Susu pun mudah didapat.

Masih ada guru. Masih ada buku. Masih ada seragam. Masih ada gedung sekolah yang berdiri kokoh. Bahkan masih ada penjual jajanan di depannya. Dan tentu saja, anak – anak SD ini dibekali sangu alias uang saku untuk jajan disana.

Gurunya lengkap, ada honorer, ada PNS baik, dan ada PNS yang suka – suka. Seperti dimana saja sekolah di negeri ini.

Yang mirip adalah guru – guru ini ya mengajar dengan jam dan semangat yang fleksibel dan lentur. Kadang lebih awal mulai, kadang lebih awal selesai. Misal, karena bapak ibu guru harus kondangan di kampung masing – masing.

Seperti demikian lah SD di lembah kampung ini.

Jika SD ini adalah salah satu contoh yang sebutlah mendingan, seperti apa sesungguhnya pendidikan dasar yang ideal itu ?

Apakah suatu pendidikan dimana seorang pesertanya mampu lulus setiap jenjang dengan baik hingga mendapat pekerjaan yang dia impikan ?

Apakah suatu pendidikan dimana kita menciptakan pamong dan para abdi rakyat yang amanah dan menyejahterakan ?

Apakah suatu pendidikan dimana garis akhirnya adalah seorang pesertanya dapat menjadi founder dari salah satu 1000 setarap itu ?

Apakah suatu pendidikan yang akhirnya cukup menghasilkan anggota masyarakat yang berfungsi baik dan peduli lingkungan ?

Ah. Kalau semua diminta pendapat akan ada terlalu banyak apakah untuk dikumpulkan. Lagipula, namanya andai – andai ya semua adalah lamunan belaka.

Lamunan saya berhenti setelah sadar sekolah sudah makin dekat. Perjalanan berangkat sekolah ini menempuh jarak tidak sampai satu kilo meter. Di sisi kanan kami adalah sawah, ladang dan kebun. Dibawah sana lagi ada sungai mengalir.

Sepagi ini, sering kali sudah ada yang pergi ke ladang. Saat ini sedang musim panen jagung.

” Lha, tas mu kok ringan sekali begini, bawa buku ga ? “
tanya saya pada Fajar salah satu anggota rombongan antar sekolah tadi pagi.

” Cuma 1, hehehe ” jawabnya ringan.

Anak – anak ini adalah generasi kesekian yang sekolah di SD tersebut. Sebelumnya, kakak – kakak mereka, orang tua mereka, mungkin malah kakek – nenek mereka juga bersekolah disini.

SD ini beruntung berdiri sebagai SD negeri. Jika tidak, tentu SD yang letaknya paling atas ini sudah lama tutup dan dirubuhkan. Satu ruang kelas dihuni 5-8 orang. Saya lihat tidak ada yang sampai tembus 10. Itu artinya 6 kelas tidak sampai 60.

Minggu lalu SD mereka mengadakan ujian. Tradisinya setelah itu adalah seminggu waktu luang di sekolah untuk kegiatan bersih – bersih, olahraga, hingga berjalan bersama keliling desa – desa. Jam 11 mereka sudah pulang. Ada yang membantu ibu bapaknya. Ada yang sembunyi – sembunyi bermain gawai. Ada yang bersemangat mengerjakan buku sekolah, membaca buku. Ada yang bergembira karena sekolah sekali lagi tidak ada kegiatan belajar.

Bulan lalu beberapa murid terpilih di SD ini diikutkan kompetisi sains dengan SD lain se kecamatan. Gugup. Ya muridnya, ya gurunya.

Walau seperti apapun model sekolah berjalan di masing – masing lokal daerah, tapi toh tetap akan ada hal – hal yang sifatnya nasional ? Apa bisa bersaing ?

Kadang sekolah sudah buka ketika mereka datang.

Kadang gerbangnya masih dikunci hingga jam delapan.

Bahkan sekolah sering kalah cepat dari para penjual makanan limaratusan yang buka sejak langit masih berkabut.

Sesederhana itu menjadi murid di sekolah ini, entah sampai kapan.

Pulang mengantar sekolah, saya melewati jalan yang menanjak. Menuntut ilmu memang melelahkan.
 
 
 

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *