Abas

Belajar Naik Motor Dengan Santai dan Santun Dari Bapak Guru SD

motor yang sering dipakai guru

Kamu gemes dengan kelakuan pengendara motor yang makin ugal – ugalan saja ? Sama banged. Saya juga.

Apalagi di kota seperti Jakarta ini, salah satu penyebab kemacetan yang bikin gila ini ya para pengedara motor.

Ya ga semuanya sih. Kamu perlu tahu tipe pengendara motor alternatif yang tidak ugal – ugalan dan tidak jadi sumber keributan.

Siapa kah mereka itu ?

Jika ingin hidup damai, tenang dan santai berkendara motor di ibukota, kendarailah motor Supra atau Vega seperti bapak guru SD atau petugas Puskesmas. Yah contoh lainnya motor Mio atau Beat lah. 

Yang akan saya tulis ini adalah berdasarkan pengalaman saya hidup di ibukota. Jadi mohon maap sama bapak guru SD dan petugas puskesmas saya jangan dimisuhi ya. Wong cuma ambil contoh. Hehe

Mohon maaf. Saya mau nulis ini : arrogant, prick and asshole !

Lama sekali lalu lalang di jalanan ibukota, saya sudah berpapasan dengan berbagai jenis pengendara motor.

Saya pun jadi punya hipotesa bahwa makin besar (ukuran dan/atau CC) sebuah motor, maka pengendara tersebut makin punya kecenderungan jadi ” arrogant, prick and asshole” di jalanan.

Misuhan itu saja sampai saya tulis dalam bahasa Inggris karena sudah saya anggap menyebalkan betul para pengendara model begitu.

Gak ketemu padanan kata yang enak diucapin.

Gak percaya ? Coba ni ya saya kasih daftarnya buat kamu. Mereka ini di jalan :

  • Klakson-klakson ga sabaran
  • Meraung-raung gas di sebelah kita
  • Parkir suka-suka di kantor
  • Nyempit-nyempitin jalan masuk kampung
  • Ngebut – ngebut zig – zag pamer motor
  • Mepet motor lain yang lebih kecil di sebelah kiri

Masih mau lagi? Masih ada kok contohnya. Mereka ini :

  • antar jemput anak sekolah ga pakai helm tapi sempet pakai Kacamata besar ga nyambung. Yang emac emac? Lengkap kosmetik
  • masih di sekitar sekolah, malang melintang menghalangi lewat karena ngobrol sama pengendara sejenis
  • masih di sekolah. Minta tolong narikin mundur motor sama orang yang baru saja diintimidasi

Serius ini. Buat saya orang orang ini ridiculously annoying dalam level yang sudah paripurna.

Selebihnya orang orang ini akan masuk tingkatan veteran kalau kelakuan – kelakuan tersebut diiringi knalpot lebay yang bunyinya mengganggu saat kita ingin makan dengan tenang.

Atau saat menunggu di lampu merah dengan sabar, atau ngobrol dengan teman di sebelah sambil menunggu jam pulang. Prepet-prepet nya bahkan masih terdengar walau motornya sudah jauh.

Primata. Monyet !

Karena saya belum pernah pakai motor dengan cara begitu, saya tidak tahu alasan mereka berperilaku intimidatif seperti itu.

Kalau kata seorang teman perilaku mengintimidasi dan rasa senang mendominasi yang lain itu bawaan kita sebagai primata.

Salah satu contoh primata adalah Monyet! Iya. Monyet !

Sadar atau tidak, pengendara motor intimidatif makin banyak saja jumlahnya di jalan – jalan kita. Akhirnya makin banyak orang jadi beringas di jalan.

Wong yang berlaku hukum rimba gitu kok. Siapa yang keras. Siapa yang kasar. Dia akan berkuasa di jalanan.

Padahal nih ya. Seandainya mereka buru – buru lebih ngebut pun. Ugal – ugalan di jalan. Bikin orang lain emosi, memang akan seberapa lebih cepat sih mereka sampai ke tujuan ?

Dua jam ? Halah paling berapa menit itu pun dilalui dengan tekanan darah tinggi.

Tenang, ga semuanya begitu. Masih ada suri tauladan diantara kita

Nah. Tapi, akan lain sekali keadaan jalan-jalan kita jika pengendara motor digantikan mereka yang berkendara dengan santuy seperti bapak guru SD dan petugas puskesmas yang saya jadikan sebagai contoh disini.

Mohon izin ya, bapak, ibu

Mereka adalah para pengendara yang umumnya menggunakan Supra, Mio, Beat atau Vega. Barisan motor santai dan santun Republik Indonesia.

Mau ngebut?

Halah. Mana kuat motor motor begitu dibawa 60km/jam. Goyang – goyang pasti. 80 km/jam ? Bisa terbang. hehe

Mau arogan di jalan?

Walah. Ya ra mungken. Wong motor yang dipilih itu adalah cerminan perilaku mereka yang sederhana, bersahaja dan lemah lembut kok.

Mau melintang depan sekolah?

Ya ga laku. Kan bodi nya kecil. Ya tinggal dilewatin aja lah 

Mau berisik – berisik pakai knalpot?

Ya cuma bikin malu lah. Suara sama jiwa ga nyambung gitu. Knalpot menjerit. Mesin bisa cepirit.

Bapak ibu guru nih. Eh ada saya disitu. Hehe

Para pengendara seperti ini pun cenderung tertib. Taat lampu dan rambu. Juga tidak berisik sekaligus lebih ramah polusi dan ekonomi.

Dalam perjalanan yang ada dipikirannya adalah bagaimana keadaan anak didik nya di kelas?

Apakah PR minggu lalu sudah dikerjakan? Apakah terlalu sulit ?

Atau Apa kabar pasien sembelit tempo hari? Apa resep yang diberikan sudah ditebus di apotek?

Subhanallah, Bapak. Ibu.

Salim, Pak, Bu. Jangan lupa tahlilan di pak RW habis Isya ya

Di jalan jalan kampung pun amat menyenangkan bapak Ibu ini. Halus dan bersahaja suara mesin nya.

Lewat rumah warga pun selalu dapat sapa

” Apa kabar pak guru” 

” Baru pulang ya pak Guru”

” Jangan lupa nanti tahlilan habis isya di rumah pak RW ya pak Guru “

Kehadirannya menghadirkan ketenangan. Kehilangannya menghadirkan kerinduan.

Duhai. Bapak, Ibu guru, serta para petugas Puskesmas. Perawat, bidan, apoteker dan dokter jaga.

Saya yang bertemu dengan beliau dalam perjalanan solat isya di masjid pun mengucapkan salam.

Cium tangan. Bersama remaja – remaja lain yang saat SD nya sudah terbantu diluluskan pak Guru ini.

Ah. Merdu sekali suara motor pak Guru saban sore hari.

Wiiiiir Wiiiiir.

Sebarkan tulisan saya di media sosial kamu dan jangan lupa subscribe lewat email ya !



   

   
   

About author View all posts

Abas

Mantan guru biologi yang saat ini aktif di ekosistem digital marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *