Abas

Mi Ayam Sang Kartini Belokan

Penjual mi ayam di balai kartini

Emac ku ini di masa tuanya punya kegemaran berkunjung ke teman-teman tuanya juga.

Ya emac ku ini punya semacam geng, tapi sudah tua semua anggotanya. Terdiri dari wanita mandiri berbagai profesi.

Mengunjungi Bu G, penjual mi ayam ini salah satunya.

Berbeda dengan Bu H yang masih sering menangis sejak ditinggalkan pak H, Bu G dalam cerita ini jauh lebih tegar walau ditinggal suaminya.

( Baca cerita Bu H di ” BPJS Pria Idaman ” )

BPJS Pria Idaman

Bahkan, tidak lama setelah pemakaman sang suami di kampung halaman, Bu G sudah aktif berjualan.

” Tapi, kok jualannya di Balai Kartini, ngga di belokan depan itu lagi ya , Mac?” Tanya ku pada emac suatu waktu.

” Sedikit dapatnya. Paling 1 kilo. 2 kilo “ jawab emac merujuk padw jumlah mi ayam dihabiskan terjual.

Sewaktu Pak G masih hidup, awalnya mereka berdua berjualan di Balai Kartini, di sebelah pagar kantor Dinas Pendidikan Jakarta.

Ramai sekali memang disana.

Tidak lama, mereka berjualan masing-masing, Pak G tetap di Balai Kartini, sedangkan Bu G di belokan dekat rumah.

Ada 2 alasannya.

Yang pertama agar Bu G mudah beristirahat di rumah ( kontrakan ) saat lelah. Dan yang kedua adalah tambahan keuntungan.

Digabung, keduanya bisa menghabiskan 6-8kg sehari. Bisa lebih jika di Balai Kartini sedang ada event besar. Ketika ramai seperti itu, anak-anak mereka ikut membantu.

6-8 kg sehari itu gampangnya senilai dengan keuntungan 800ribu-1 juta sehari. Perkiraan ku sih lebih.

Segala persiapan berjualan Mi Ayam Balai Kartini, dilakukan di rumah sambil mengasuh anak. Si sulung teman sekolah ku dulu. Adiknya dua. Dia pun sudah menikah, 2 anaknya.

Tapi, teman ku ini memilih tidak tinggal dengan orangtuanya lagi. Dia pun tidak berprofesi sebagai penjual mi ayam.

Sebagai variasi, kadang sepasang penjual mi ayam itu bertukar lokasi. Agar tidak bosan. Sang wanita pergi ke Balai Kartini. Sang prianya berjualan di belokan itu. 

Tapi, jujur aku ini jarang dengan sengaja makan mi ayam G ini. Soalnya, aku tidak boleh membayar sama mereka.

Makan. Makan. Makan saja. Ra usah mbayar. Selalu begitu jawabnya.

Selepas solat zuhur atau ashar, aku sering mampir untuk menyapa mereka. Kadang membantu Pak G atau Bu G menyiapkan sayuran atau merapikan mangkok.

Sebenarnya sih malah bikin berantakan.

” Alhamdulillah pakde. Katanya habis beli rumah ya “ kata ku suatu waktu. Pak G sedang merapikan magkok-mangkok yang telah dicuci.

” Halah rumah kecil, Mas Basir. Buat motong-motong ayam aja. Alhamdulillah akhirnya bisa beli rumah di Jakarta ini” kata Pak G waktu itu.

Terlihat senang dan bangga dia waktu itu. Bangga sekali.

Padahal ya. Percaya deh, harga rumah dengan standar 1 ruang tamu, dapur, 3 kamar tidur dan kamar mandi di Mampang Prapatan Jakarta Selatan ini pun sudah mengejek sekali.

Maksudnya, mengejek slip gaji kita ini lho.

Mereka yang bisa membeli rumah disini ya tidak mungkin kalangan karyawan sih. TEDAK MONGKIN. Harganya tidak terkejar dengan dengan kenaikan gaji yang ada.

Rumah bersejarah itu, dua lantainya, ternyata adalah hadiah terakhir yang bisa diberikan Pak G buat keluarga.

Agar mereka disini, di Jakarta yang keras, panas, juga hujan deras, selalu punya tempat untuk pulang dan berteduh.

Untuk tidur dengan nyaman. Untuk berkumpul dan bertukar gurauan.

Untuk tidur bersama, ibu dan anak. Mengenang kegigihan bapaknya. Dan wajah sumringahnya setiap kali berangkat berjualan.

Menabung. Lembar demi lembar. Hari ke hari. Juga haru ke haru.

Saat sakit, aku sempat menjenguknya sekali. Berdoa agar sebelum Desember sudah sembuh jadi bisa ikut ke Boyolali. Tempat aku akan menikah nanti.

Disana banyak sekali penjual Bakso. Sahabat seperjuangan menu jajan kaum karyawan dan buruh harian.

Pak G meninggal di rumah, dalam perawatan istinya. Penyakit dari ginjal yang rusak dihantam minuman rasa-rasa kesukaan beliau, dan paru-paru yang menyerah dikepung asap rokok, mengakhiri hidupnya dalam tidur.

Bu G tidak bersedih lama-lama. Saban pagi, rutininasnya toh masih saja sama.

Mencincang ayam. Membersihkan sayuran. Menyiapkan mi dalam ukuran segenggaman.

Kemudian mengatur posisi bahan-bahan tersebut pada gerobak

Lalu pergi, pagi sampai sore untuk berjualan Di tempat suaminya selama ini melayani pelanggan.

Ini adalah Mi Ayam Kartini… Yang tangguh dan mandiri.

( Ayo beri dukungan penulis dengan subscribe blog ini dan menyebarkan tulisannya di media sosial kamu ! )



   

   
   

About author View all posts

Abas

Mantan guru biologi yang saat ini aktif di ekosistem digital marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *