menghapus pelajaran sejarah ?

Tempo hari saya membaca tentang kabar kementerian pendidikan yang berencana menghapus pelajaran sejarah di sekolah. Entah, bagaimana kelanjutannya per hari ini, yang jelas banyak komentar protes dari berbagai pihak.

Ada – ada saja kementerian pendidikan ini. Masa pelajaran Sejarah mau dihapus ?

Tapi, yang menarik, diantara yang kontra, saya sempat membaca komentar pro ( di twitter ) soal pelajaran sejarah yang mau dihapus ini. Katanya, yang kita pelajari selama ini adalah doktrinasi, bukan pelajaran, tentang sejarah. Jadi, ya dihapus juga ga masalah.

Ada – ada saja masyarakat berpendidikan ini. Masa pelajaran Sejarah mau dihapus ?

Alih – alih mendukung atau menentang penghapusan pelajaran sejarah. Saya pribadi punya pendapat lain. Daripada  Sejarah, alangkah lebih baiknya pelajaran Biologi dan kawan-kawannya saja yang dihapus.

Memiliki pengalaman mengajar sekitar 7 tahun pada lembaga pendidikan formal dan non – formal di negeri ini. Saya melihat pengajaran sains IPA maupun IPS kita ini lebih banyak mubazirnya.

Saya berikan secuplik contoh pada Biologi. Karena saya mengajar mata pelajaran ini.

Biologi menjadi subjek atau konten pelajaran di sekolah sejak dini sekali. Setidaknya, dari pengalaman mengajar, Biologi sudah diajarkan sejak kelas 7 SMP. Lebih dini lagi,  Biologi sudah masuk pada konten IPA sejak sekolah dasar.

Tapi, pada ujung pendidikan dasar – menengah 9 tahun, kasat mata terlihat pemahaman dan penguasaan Biologi pada pelajar kita begitu – begitu saja lah tingkatannya. Ingat syukur. Memahami alhamdulillah. Yah, so so begitu deh.

Tetap saja saat kelas 12 SMA misalnya, menjelang ujian nasional atau tes masuk perguruan tinggi, mereka seperti kosong melompong lagi belajar tentang sistem ini, sistem itu, DNA ini, RNA itu, osmosis ini, difusi itu, dan sebagainya.

Lha, terus ngapain lama – lama belajar Biologi sampai bertahun – tahun begitu ?

Mending fokus saja belajar Biologi 1 – 2 tahun di SMA, menyesuaikan dengan jenis tes masuk perguruan tinggi.

Sedangkan, waktu bertahun – tahun yang tadinya dihabiskan untuk belajar Biologi dialihkan saja untuk mata pelajaran lain, kegiatan lain, atau dihapuskan saja sekalian agar waktu dan beban belajar di sekolah lebih sedikit.

Kok praktis banged urusannya cuma perkara tes masuk perguruan tinggi ?

Ya coba dikondisikan pertanyaannya, bukannya kita belajar perkara sains IPA / IPS itu sebatas SBMPTN – Ujian Mandiri doang ? Memang buat apa lagi selama ini ?

Baiknya pelajaran formal di sekolah itu dikurangi sajalah. Kasihan anak – anak itu. Berangkat pagi, pulang sore, sampai rumah sudah lemes. Mama malah tanya kok males – malesan ga belajar ?

 

Lha, memang 8 jam di sekolah anak – anak ini ternak lele bertani jagung ?

 

Pelajaran wajib sekolah cukup lah lima. Matematika, English, Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Teknologi Informasi. Kenapa lima pelajaran ini ?

Alasannya bisa menjadi satu artikel tersendiri, yang jelas, lima subjek ini adalah muatan pendidikan dasar ( menurut saya ) yang lebih penting ada dibandingkan tetek bengek Sains yang akhirnya terlupakan begitu saja.

Selain lima pelajaran itu, variasinya bisa pelajaran agama menjelang pulang sekolah. Seperti madrasah diniyah di kampung – kampung gitu. Tidak perlu masuk konten kurikulum, tapi wajib atas dasar pendidikan karakter.

Bisa juga ditambah dengan muatan pengabdian masyarakat. Misal, murid ditingkatan yang lebih tua diarahkan untuk mengajar anak – anak sekitar.

Selain itu, dapat juga pendidikan itu berupa membantu pekerjaan warga dalam hal pemberdayaan kampung. Pendidikan sukarelawan bencana pun bisa jadi opsi. Dipandu PMI, Tagana, hingga Mapala perguruan tinggi.

Bayangkan hari – hari disekolah tanpa Fisika, Kimia, Biologi. Atau sosiologi, geografi, ekonomi. Pulang lebih cepat, hari menjadi berkurang penat, tas pun menjadi berkurang berat.

Waktu -waktu pendidikan mereka pun digantikan dengan hal – hal yang lebih tepat guna. Waktu luang mereka pun bisa digunakan untuk mendalami bakat dan keterampilan.

Bayangkan dimana kelas guru Biologi nantinya hanya diisi beberapa orang saja yang minat mendalami bidang ini dan mencintai sains tidak terbatas lulus SBMPTN saja. 

Dimana evolusi, bioteknologi, keanekaragaman hayati didiskusikan dengan suasana mencerahkan.

Yah, namanya juga membayangkan… Enak banged.

Terus pada keadaan ideal seperti itu, bagaimana nasib kepegawaian guru – guru yang sudah ada ?

Ya saya gatau. Mungkin akan ada orang lain yang bisa urun gagasan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *