Header blog hikikomori

Belakangan waktu ini saya sedang senang menonton tayangan Youtube CNA Insider. Menarik acara ini. Darinya, kita bisa belajar berbagai kebudayaan yang berbeda secara mendalam dari video yang dibuat begitu baik.

Salah satu yang menarik adalah tentang Deciphering Japan, mengurai seluk beluk Jepang.

Siapa yang mengurai Jepang tentu akan menemukan tentang budaya super kerja mereka, kebutuhan akan disiplin dan kesempurnaan, generasi yang menua, hingga pop culture yang berpusat pada anime – manga. Hikikomori, yang akan saya ceritakan pada tulisan kali ini,terjebak diantara hal – hal tersebut.

Sebelum menonton tayangan CNA tersebut, saya hanya punya sedikit informasi soal Hikikomori ini. Intinya, mereka ngumpet, ngendon dikamar, hingga bertahun – tahun. Menghindar, menarik diri dari masyarakat.

Kalau kata anak jaksel mah Ansos, anti sosial. Tapi, dalam skala yang memprihatinkan. Sebatas itu yang saya tahu.

Yang baru saya dapatkan setelah menonton acara CNA adalah fakta bahwa TERNYATA selama memilih menarik diri dari masyarakat tersebut, orang – orang ini sama sekali TIDAK MAU BEKERJA. Mereka pengangguran akut hidup dari orangtuanya atau siapapun yang saat itu memiliki kerelaan menanggung hidup orang-orang ini bertahun – tahun.

Hal itu tentu amat berbeda dengan teman – teman yang saya kenal yang memang tidak suka bersosialisasi dengan masyarakat. Mereka kemudian memilih profesi – profesi yang minim interaksi fisik. Mulai dari programmer, desainer, penulis lepas hingga pedagang online. Bekerja dari kosan, dari rumah, dari apartemen.

Sebelumnya saya kira orang – orang Hikikomori ini hanya tidak ingin bersosialiasi. Mereka merasa tidak cocok dalam sistem yang ada. Tapi, setidaknya mereka masih memiliki martabat untuk bekerja, menghidupi diri dan tidak membiarkan orang lain untuk menanggungnya menjadi beban tambahan.

Ternyata saya salah.

Tidak hanya menarik diri, mereka pun tidak mau bekerja, tidak mau repot, tidak mau terlibat kehidupan. Pokoknya hanya didalam kamar, sibuk dengan mainannya masing – masing. Bertahun – tahun lamanya.

Tidak ingin terburu-buru menghakimi, saya pun menonton acara sampai selesai. Siapa tau dapat penjelasan lebih baik.

Salah satu pelaku Hikikomori yang jadi narasumber, telah memilih jalan hidup begitu selama 30an tahun. Sejak lulus SMA dia memutuskan menarik diri. Segala jenis perundungan dan ejekan membuatkan tidak tahan. Apalagi para guru tidak bisa membantu.

Dia merasa dunia tidak mengerti dan tidak mau tahu kenapa aku begitu. Sejak itu, dia tinggal hanya dengan ibu. Mengurung diri di kamar, makan, bermain catur dengan orang randon di internet, tidur, berak dan berulang.

Yang mengejutkan adalah ketika dia ditanya apa yang paling dikhawatirkan. Jawabannya adalah ketika ibunya nanti mati sedangkan warisan yang ditinggalkannya tidaklah seberapa. Lalu, bagaimana dia akan melanjutkan hidup ?

Sang ibu yang pada tayangan tersebut tidak atau menolak diwawancara tampak mondar – mandir di sekitar rumah. Ia hidup diruangan terpisah, acuh, tidak peduli, seperti sudah pasrah bahwa dalam rumah yang sama ada orang lain yang tidak punya daya.

Saya tidak tahu bagaimana ini telah atau akan dianggap normal oleh masyarakat Jepang. Namun, membiarkan orang mengambil pilihan hidup menarik diri sekaligus menghisap orang lain adalah sebuah kesalahan. Kesalahan untuk dirinya, orang yang menanggungnya dan masyarakat secara luas.

Beberapa pihak membuat terobosan untuk memutus mata rantai orang – orang baru yang memilih Hikikomori. Mulai dari pendirian institusi pendidikan inklusif, komunitas berbagi dan diskusi, hingga berbagai unjuk kesenian. Dengan harapan suara Hikikomori ini makin didengarkan dan ada perubahan dalam sistem masyarakat Jepang.

Apa yang jadi kesalahan mendasar ?

Kamu dirundung disekolah, kamu diejek ditempat kerja, kamu merasa dihina di masyarakat, tapi kenapa malah kamu pulang dan memilih merundung orang terdekat mu bertahun – tahun ?

Setelah menonton siaran, saya tetap ada pada posisi kontra pada Hikikomori. Klasik. Mungkin saya tidak memahami karena saya tidak merasai.

Bahkan pada masyarakat Jepang yang bernafas pada disiplin dan kesempurnaan, masih ada retak-retak yang perlu ditambal.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *