Abas

Category - Personal

Semrawut Tapi Dicintai, Berbelanja Dengan Luwes

Suasana Luwes

Kamu pernah ke Luwes ga?

Luwes adalah jaringan supermarket ( atau swalayan ya nyebutnya ? ) lokalan Jawa Tengah & Jawa Timur. Beberapa hari lalu, saat musim mudik saya kesana. Tepatnya ke Luwes cabang Kabupaten Sukoharjo, di kawasan Gentan.

Selain yang ini, saya juga pernah datang ke Luwes Karanganyar dan tentu saja Surakarta. Kunjungan ke tiga lokasi tersebut membuat saya ingin menuliskan pengalaman unik berbelanja disana

Luwes tentu saja tidak bisa kamu bayangkan seperti Kota Kasablanka apalagi Pacific Place yang mewah di Jakarta. Juga tidak seperti Trans Studio Mall di Bandung yang semarak itu.

Luwes, seperti namanya, berusaha hadir seluwes mungkin untuk target pasarnya. Masyarakat segmen menengah kebawah, yang massal, ramai dan cenderung semrawut. Mereka yang mungkin biasa kamu sebut ” masyarakat biasa ” atau ” orang kampung sini “

 

Luwes Sejak  Di Parkiran

Keluwesannya dimulai dari tarif parkir yang bahkan lebih murah dari tarif prit-prit Indomaret. Seribu rupiah saja sepuasnya. Tidak ada kejutan tukang parkir tiba – tiba datang dari belakang.

Tempat parkirnya ya begitu, luwes. Lapangan di lantai bagian basement. Kita memilih lokasi sesukanya berdesakan, tidak rapi, berpenerangan seadanya.

Tiketnya sobekan kertas, ditulis tangan. Konter parkirnya ditunggui pegawai yang tidak berseragam rapi apalagi resmi.

Kemudian kita masuk ke bagian utama pusat perbelanjaan ini…

Oh iya, ngomong – ngomong

Saya kesana menemani si cantik membelikan tas untuk adik. Nah…

Kamu perlu tahu sedari awal bahwa penataan barang di Luwes cenderung tidak rapi. Jadi, kalau kamu tidak terbiasa, bisa cukup sulit menemukan barang yang kamu cari.

Tidak ada penempatan barang per kategori agar rapi seperti di Matahari. Kamu bisa naik ke lantai berapapun dan masih bisa menemukan kategori produk di lantai yang berbeda.

Contoh, di lantai 1 saya menemukan tas. Di lantai 2 ada. Begitu pun di lantai 3. Kadang kala secara sembarang ada di dekat sidi dan beha. Memang tidak tas yang sama, tapi secara acak kamu bisa menemukan sesi yang menempatkan tas dalam jualannya.

Jika kamu memilih pakaian, mereka ada di etalase gantung. Juga ada di rak-rak bagian tengah bertumpukan. Pakaian anak 100ribu dapat tiga. Pakaian dewasa ada yang beli satu dapat dua.

 

Luwes Yang Cenderung Semrawut Tapi Malah Dicintai

Tentu kamu sudah membayangkan betapa semrawut (dan sebenarnya begitu semarak 😆) Luwes ini. Tapi, tampaknya itu adalah rahasia mereka sebagai brand, sebagai swalayan yang dicintai masyarakat Jawa sini.

Mereka ini, jaringan Luwes tidak ingin berdandan berlebihan. Takut warga malah jadi sungkan. Malu. Swalayan kok makin terasa mahal dan jauh. Mereka luwes, sintal, enerjik dan apa adanya.

Saya jadi saksi betapa warga, laki-perempuan, tua muda, kampungan atau bergaya, hadir ramai-ramai bergembira berbelanja dengan luwes.

Mereka membongkar tumpukan barang di keranjang – keranjang bagian tengah. Baju di etalase, di gantungan begitu cepat berpindah tangan. Berbagai promo disambut dengan gembira dan borongan. Kosmetik, buah, kerajinan tangan, cemilan, jadi rebutan.

Kasir-kasir pembayaran dipenuhi antrian. Saya sampai kesulitan mendapatkan tas yang kami cari. Tas Tayo warna hijau yang entah siapa namanya. ( Belakangan saya diberitahu keponakan kalau namanya adalah Rogi )

Barang murah, barang mahal, bertumpukan begitu saja. Jadi, jika kamu punya uang lebih, kamu ambil yang mahal, jika tidak, ya yang sesuai  budget saja. Luwes menghadirkannya buat kamu.

 

Luwes Adalah Kamu dan Saya

Seseorang tentu dapat meremehkan Luwes. Bahwa barang – barang yang dijual di Luwes pastilah produk murahan ?

Saya pastikan, tidak juga. Kamu bisa mendapatkan banyak produk berkualitas jika mencari dengan benar.

Sebagai contoh, saya menemukan sebuah kemeja, yang berkualitas sama dengan yang saya beli di Salt and Pepper namun dengan setengah harga. Serius ! Sayang sekali saya tidak sempat foto.

Dugaan saya, supplier membuat produk white label , alias kamu bisa pasang merek suka – suka. Dan Luwes tentu saja memilih menjualnya dengan harga yang penuh kasih sayang.

Saya selesai berbelanja menjelang Maghrib. Kemudian makan di food court.

Harganya sama saja dengan warung dekat rumah. Ayam geprek 15.000. Nasi goreng 12.000. Teh manis 2.000

Parkir, hadir, berbelanja dan makan di Luwes adalah pengalaman bertemu teman lamamu yang lusuh tapi charming menyenangkan.

Dia duduk di hadapan mu. Makan mie goreng di meja bersamamu, sambil berkata

” Tidak usah sungkan, makan dan bercerita lah. Aku ini sama seperti dirimu “

__________

Sayang sekali saya tidak sempat foto – foto pengalaman berbelanja ini karena terlalu menikmati. Semoga bisa segera kesana lagi untuk mengambil foto. Hehe

Link – link penting

1. Sumber gambar

2. Fanspage Luwes Group

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan selanjutnya



   

   
   

Bersungguh – Sungguh Merindukan Ramadan

Merindukan ramadan

Walaupun banyak orang yang menyangsikan hal ini, saya malah termasuk pribadi yang percaya bahwa mereka yang berpuasa di bulan Ramadan selalu rindu akan kedatangan ramadan selanjutnya.

Mereka yang ahli ibadah akan merindukan segala ritual yang ada di bulan suci tersebut. Solat tarawih, khataman quran, itikaf, bakti sosial, dan sebagainya.

Rutin mereka berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain mengejar agar bisa salat diimami dai terkenal atau mendengarkan ceramahnya. Mesjid – mesjid dipenuhi orang melantunkan ayat – ayat suci. Jalan – jalan rutin jadi panggung berbagi sekedar cemilan berbuka.

Banyak orang mungkin rindu saat – saat semarak berbuka dan menyiapkan sahur. Sebagian, hmm, bisa jadi rindu karena ramadan adalah saat – saat dia bisa lebih dekat dengan orang yang disayanginya.

” Sayang, jangan tidur malam – malam ya. Nanti sahurnya telat ” atau ” Minggu depan jadi kan kita buka bareng ? ” adalah percakapan umum yang dilancarkan oleh mereka yang sedang berusaha ( mendapatkan cintanya )

Teman saya yang berjualan online amat menantikan ramadan salah satunya karena bulan tersebut adalah saat penjualannya meroket. Makanan, fashion, kosmetik, elektronik dan rupa – rupa barang konon lebih banyak dibeli justru saat ramadan. Unik ya ?

Ada juga orang yang menjadikan bulan ramadan momentum untuk dirinya yang lebih sehat. Selain berpuasa, dia juga jadi rutin berolahraga saban pagi setelah sahur atau sore menjelang berbuka. 

Pada suatu masa diri saya yang masih kecil, usia sekolah dasar, juga senang sekali berolahraga selepas sahur. Atau sekedar berjalan kaki mengelilingi komplek perumahan. Saat sore kami bersepeda atau bermain basket di lapangan sekolah.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, tiba – tiba kebiasaan tersebut hilang seiring kami yang bertambah dewasa. Tiba – tiba para sahabat pergi.

Yang lain rindu ramadan karena pada bulan inilah dia akhirnya dapat pulang ke kampung halaman dan bertemu keluarga. Walau sebentar saja, diantri THR oleh para keponakan juga tidak masalah. Bisa ketemu ibu, bapak, juga saudara – saudara. Siapa tahu ada yang dikenalkan.

Anggota keluarga bertambah. Anggota keluarga berkurang. Mudik selalu jadi momen yang dirindukan.

 

Begitulah ramadan. Setiap orang memiliki alasan masing – masing untuk bersungguh – sungguh merindukannya

 

Semoga aku dan kamu, masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya tahun depan