Author - Abas

Bukti Kalau Alumni UI Juga Kangen Dengan Depok

Tengah malam lalu ada seorang teman yang mengirimi saya WA. Katanya postingan saya tentang alumni UI kangen Depok viral di twitter.

 

Bukan teksnya tentu, tapi gambarnya yang memang lucu. Gambar itu pun bukan saya yang menjepret. Saya dapatkan dari postingan seseorang yang disebarkan teman. Lihat saja disini :

 

 


———-

UPDATE : gambar ini bermula dari twit teman baru saya, yang ternyata kakak kelas di kampus. Kami sudah berkenalan di Twitter dan berdiskusi dengan bersahabat lewat  Facebook mengenai viralitas gambar ini. Insya Allah sudah sudah selesai dengan baik.

 

———-

 

Padahal saya tidak aktif di Twitter lho. Bahkan postingan aslinya di Facebook pun biasa – biasa saja engangementnya. Walau tidak kurang berapa banyaknya alumni UI dan warga Depok berteman dengan saya di Facebook. Apa Anda-Anda sekalian ini tidak ada yang kangen Depok?

Terus, kenapa soal alumni UI dan kangen pada Depok ?

Itu bermula dari twitter juga, ada yang ngetwit, kalau alumni UGM kagen Jogja, alumni ITB kangen Bandung, tapi alumni UI gak kangen dengan Depok. Terus viral.

 

He masa sih? Kenapa pula alumni UI gak kangen Depok ? Ada apa dengan Depok ?

 

Saya menghabiskan enam tahun di Depok. Dari masa mahasiswa, lulus, hingga bekerja di tahun – tahun pertama. Margonda, Kukusan, Pondok Cina, Beji, Siliwangi, Studio Alam, Jatijajar, Kelapa Dua, Tanah Baru, Masjid Kubah Mas, Gunadarma, Margo City, Detos, Steak Moen-Moen, dan tentu saja Universitas Indonesia.

Apa yang paling saya ingat dari Depok ?

Apa ya…

Apa ?

Masa iya bertahun – tahun di Depok tidak meninggalkan kenangan tertentu ?

Apa ?

Oh, mungkin Margonda Raya yang macet itu ?

Jalan utama ini kalau sedang macet luar biasa hiruk-pikuknya. Tapi, saat lengang malah jadi tempat marabahaya. Pada Masa itu, entah berapa kali terdengar ada yang tertabrak saat menyeberang. Salah seorang adik kelas kami di kampus pun ada yang jadi korban.

Saya sering menyeberang disana untuk pergi ke Gramedia. Ada sekat kecil di pembatas jalan yang sepertinya memang dimaksudkan untuk lintasan menyeberang. Tapi, gatau juga ya, sebenarnya itu boleh atau tidak ? Waktu itu tidak ada jembatan penyeberangan, tidak juga lampu lalu-lintas, atau zebra cross, seingat saya. Entah sekarang bagaimana. Kalau ingin tahu bagaimana suasananya, gambarnya saya sertakan pada tulisan ini. Yah, seperti itulah.

suasana margonda

Sumber transformasi.org

 

Kemudian, apa lagi ya yang teringat dari Depok pada masa – masa saya itu ?

Gak tau deh kalau kamu bagaimana. Jujur ini pertanyaan sulit. Entah kenapa saya malah ingat baliho – baliho besar di pertigaan Juanda itu. Tau ga ? Atau saat ini sudah tidak ada kah ?

Pertigaan itu sebenarnya perempatan, jalan satunya lagi menuju kampung belakang kampus UI. Kalau ga salah jalan nangka namanya. Sepi. Zaman saya dulu gelap betul. Tembusnya ke Boulevard UI dan seterusnya hingga ke PNJ, lalu ke Kukusan.

Nah, jalan kecil ini tertutup Baliho besar di pertigaan itu. Saling bertumpuk. Tidak beraturan. Macam – macam informasi bisa kita baca disitu. Mulai dari penawaran KPR rumah, konser yang disponsori rokok, hingga tentu saja pesan dari pemerintah daerah.

Ada satu, satu ini, hanya satu ini yang sampai sekarang terngiang – ngiang terus. Mungkin kamu pun pernah lihat. Yaitu, himbauan makan dengan tangan kanan.

Iya, di Kota Depok dulu ada semacam sosialiasi besar makan dengan tangan kanan.

makan dengan tangan kanan

Sumber : Blog Istianasari

 

Saya gatau ya bagaimana prioritas Pemda saat itu atau visi-misinya. Kebetulan KTP saya Jakarta, jadi urusan perdepokan pada tingkatan pemda saya ga paham dan terserah saja. Namanya juga pendatang. Tapi, memang kenapa ya makan dengan tangan kanan perlu jadi himbauan ?

Sepahaman saya saat itu ya orang Indonesia itu secara bawaan, default, kalau makan ya dengan tangan kanan. Otomatis aja gitu. Datang ke meja makan, langsung pegang sendok dengan tangan kanan. Kecuali, mungkin jika dia kidal. Itu ya juga bawaan ya.

Ada sih mungkin saat – saat tertentu tangan kiri ikut makan. Misal ya, saat di angkringan, kita nyuap nasi kucing dengan tangan kanan, tapi, lauknya dipegang dengan tangan kiri. Atau saat kita makan soto, kerupuknya dipegang dengan tangan kiri. Tangan kanan sibuk menyeruput Soto. Dagingnya Sapi. Dimakan saat panas. Nasinya pulen. Sudah pakai jeruk nipis dan kecap – sambal. Seger.

Apa saat itu di Depok sedang ada perubahan kebiasaan besar sehingga banyak orang mulai makan dengan tangan kiri dominan ? Pemda Depok perhatian betul pada warganya sampai mengingatkan begitu.

Waktu itu media sosial belum seramai sekarang. Jadi ya kita menanggapinya biasa saja gitu. Apalagi tidak banyak dari kita saat itu mau ada urusan dengan politik – politikan. Coba kalau sekarang, pasti ramai betul. Beda partai ramai. Beda gubernur ramai. Beda cara punya rumah ramai. Giliran postingan Facebook saya kok malah sepi.

 

Apalagi ya tentang Depok ?

 

Memang ada fragmen – fragmen kecil yang tersimpan dengan baik berkat pertemanan kami di kampus. Mulai dari kosan kami yang dibelakang restoran steak yang wanginya semerbak itu. Atau tempat tinggal pertama saya yang berkebalikan, bau kotoran sapi setiap pagi. Kedua cerita itu sama, bersumber dari sapi. Kapan waktu saya ceritakan.

Tapi, apakah alumni UI kangen Depok ? Itulah sulitnya pertanyaan ini. Mungkin pertanyaannya saja yang diganti.

Misal, apakah selama di Depok kamu cebok dengan tangan kiri ?

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Hanya Begini Saja, Tahu – Tahu Lebaran

Mohon Maaf Lahir Batin

Tahun lalu aku pikir bakal sekedar jadi gagasan: seperti apa Ramadhan dan Lebaran pertama dengan seorang istri.

Tentunya kegiatan kami dimulai dengan bergantian membangunkan sahur. Ah betapa indahnya.

Kami memasak sesuatu yang baru atau menghangatkan makanan semalam. Terkantuk-kantuk. Akhirnya kalah. Alah repot, sahur dengan roti gandum saja lah.

Kemudian kami niatkan mengaji bersama, menahan kantuk hingga pukul setengah enam untuk berjalan kaki keliling komplek. Pertama aku, lalu dirinya. Duhai syahdu sekali pagi itu. Ternyata gagal terus. Mungkin kami takut haus lebih awal.

Kemungkinan besar setelah itu kami tertidur. Tidur saat pagi itu menggoda sekali. Lagipula pekerjaan saya bisa dimulai pukul delapan atau sembilan, tidak apa-apa. Mengawasi les atau transaksi penjualan macam-macam hal.

Apa saja lah, yang penting hidup dan menghidupkan.

Kemudian kami ke warung untuk berbelanja. Dekat sini saja, seperbelokan jaraknya. Warung Mama Sitanggang namanya, mungkin kamu pernah dengar. Mama adalah seorang Batak yang ramah. Beliau bersuamikan Batak dan beranak-pinak Batak. Aku hitung ada 5 banyaknya, 4 perempuan dan 1 laki – laki.

Setelah itu aku bekerja. Tentunya sudah mandi dan berganti baju. Istri ku sedang sibuk didapur. Gerak-geriknya terlihat dari tempat aku duduk.

Dipandu video dari YouTube, dia, kesayangan kami itu memasak sesuatu yang baru setiap harinya untuk kami berbuka.

Kamu suka tidak?

Kamu suka tidak?

Kamu suka tidak ?

Begitu tanyanya berulang-ulang.

Istirahat kerja ku diselingi membaca dan memberi makan kucing kami, Zainul namanya. Seperti yang di foto itu. Hitam putih. Gembul nian dia belakangan ini.

Selain Zainul kadang ada kucing-kucing lain ikut makan; Bruno, Lidya, Dustin, Monica, mengantri depan pintu. Perihal nama-nama tersebut aku yang memberi. Nama lengkap Zainul sendiri adalah Zainul Ichsan Puspowardoyoh Tanoesoedibjoh Yudhoyonoh Kallah Rajasah.

Kadang Zainul kami izinkan tidur didalam kamar. Dibawah meja rias, beralas tas mukena istri ku. Diluar sedang hujan, dingin sekali. Dia juga bangun saat sahur untuk minta disiapkan biskuit.

Siap laksanakan tuan…

Menjelang sore istri ku selesai masak. Lalu untuk menunggu berbuka kami berboncengan membeli makanan ringan yang kadang asal saja. Penjual mana yang ingin kami sapa hari itu? Seperti itu saja aturannya.

Sebenarnya istriku tidak melulu suka jajan. Sedang aku tidak perlu diragukan. Hari berganti, berbeda pula jenis jajanan itu; batagor, cilok, singkong keju, lumpia, donat, hingga es Goyobod, entah apa arti nama es yang seperti es campur itu ?

Lalu kami berbuka, enak sekali sop ayam buatan istiri ku sore itu. Tapi pernah tempe kami gosong, aku pelakunya. Sedang beberapa kali kami mendapat pisang yang belum matang, biar saja. Rasa manisnya biar aku cari dalam senyum istri ku.

Setelah sekian solat, bercengkrama, dan menonton film bersama, tahu-tahu, serasa seperminuman teh saja, takbir berkumandang, Lebaran pun datang.

Nah lho, ternyata ini semua nyata. Indah sekali. Walau tetap ada sepi karena tidak ada ibu bapak dan kampung halaman untuk kami pulang.

Duhai para pembaca, mohon maaf lahir dan batin. Tentu aku banyak salah. Taqoballahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima

Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan Lebaran selanjutnya

Hiduplah. Bertahan hidup. Karena saat-saat ini, hidup dan menghidupkan adalah hal yang makin penting.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Merayakan Datangnya Peradaban Baru Manusia Dengan Memasak

warung sayur di margahayu raya

Akhirnya kami masak

Eh engga deng. Istriku yang masak. Sedangkan Aku bermain dengan kucing di pelataran. Sambil menunggu masakan dari Kesayangan kami matang

Kami belanja di warung dekat rumah itu. Yang seperbelokan saja jaraknya. Yang aku ceritakan tentang kentangnya tempo hari itu lho

Sudah kami ketahui, nama warungnya adalah warung Sitanggang. Ada stiker kecil tertempel di salahsatu temboknya. Warung Sitanggang, pemiliknya tentulah bukan orang Pekalongan. Bukan pula orang mBoyolali

Di warung Sitanggang kami sudah membeli rupa-rupa bahan pangan. Istriku, Kesayangan kami itu, sudah memasak kentang , telur, ayam, udang, nasi goreng dan tentunya mi instan buat kami

Pakai bumbu instan saja teh apa – apa gampang sekarang

kata Mama Sitanggang tempo hari. Istri saya sedang memilih-milih bumbu dapur untuk goreng tempe dan ayam

Pertama kali dalam semestanya istriku akan memasakkan aku ayam goreng. Di tanah Sunda ini, dari bahan-bahan yang dibeli dari penjual Batak tersebut

Istriku menolak tawaran Mama Sitanggang. Pokoknya tidak instan. Walau mengulek. Walau makan waktu lebih lama. Demi kesayangannya yang sedang ingin makan ayam, ternyata itu tidak masalah

Eh engga deng. Aku ini tidak rewel soal makanan. Apa yang istriku ingin makan, aku bisa ikut cerna. Apa yang istriku sedang masak, aku akan lahap. Walaupun (seandainya) tidak enak, Insya Allah, aku tidak mengeluh

Tapi, masakan istriku, kesayangan kami ini, sungguh enak sekali. Iya. Beneran

Lagipula ya, kawan-kawan, di masa kehadiran Markonah ini, masih banyak hal bisa kita keluhkan secara serius daripada sekedar kekurangan pada masakan atau rasa jajanan pinggir jalan

Agar batin kita damai, agar hidup kita berlanjut, agar iramanya harmonis kembali

Kawan-kawan, akhirnya kami masak, menyambut kenormalan baru, merayakan peradaban dunia selanjutnya. Karena, berkat Markonah, kita memang tidak akan bisa kembali ke dunia yang dulu lagi.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Betapa Ribetnya Hidup Seperti Sebuah Kentang

kentang organik atau anorganik

Seperbelokan saja dari tempat kami tinggal ada warung. Disana dijual telur, sayur-mayur dan bumbu dapur.

Setengah kilo telur Rp12.500, sekilo kentang Rp14.000. Kedua bahan tersebut adalah apa yang kami beli disini untuk jadi sarapan. Harganya tentu lebih murah dari dari swalayan. Dekat pula, kalaupun harganya sama, biar saja.

 

Ini adalah tentang keberpihakan. Seperbelokan saja. Seperlemparan batu jaraknya.

 

Suatu waktu kami ke swalayan membeli kentang. Ternyata kentang organik, klaimnya begitu. Bagus kemasannya. Ada logo. Ada warna-warni. Didalamnya disertakan fotokopi sertifikat keorganikan. Rp30.000 saja harganya. Sangat swalayan.

Kentang tetangga tentu amat berbeda. Dibungkusnya dengan kresek. Tidak perlu scan barcode. Kentang ditimbang, harga sepakat, langsung dibawa pulang. Tentu tidak ada lampiran sertifikat. Apalagi daftar riwayat hidup.

Kentang tetangga ini sebenarnya secara Biologi ya organik. Tersusun utama atas perpaduan unsur Karbon dan Hidrogen. Jika ada spesies yang non-organik bisa jadi dia tersusun dari logam. Mungkin hidupnya di Merkurius sana. Atau diantara meteorid yang beterbangan diangkasa.

Namun, dibicarakan dalam dunia Pertanian, kentang tetangga ini jadi tidak organik. Perkaranya karena si kentang dihidupi dengan pupukan kimia dan dijaga dengan semprotan kimia. Akhirnya dimasukkan lah dia jadi produk pertanian anorganik. Yang dimaksud sebagai pertanian konvensional.

Dirimu organik, tapi menjadi anorganik karena pergaulan. Duhai dinda , susahnya hidup sebagai sebiji kentang.

Eh kok sebiji kentang ?

Atau sebuah kentang?

Lha kok buah?

Kamu ini sayur atau buah??

.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Hidup Di Masa Swakarantina Seperti Bruno & Lidya

Mereka mulai kami asuh saat masa social distancing ini : Bruno dan Lidya namanya.

Perihal nama mereka, aku ingin sekali menyematkan Silalahi pada Bruno dan Hasibuan pada Lidya. Tapi, aku takut masyarakat Batak tersinggung.

Sedikit mengenai keduanya, aku ingin bercerita lewat tulisan ini.

Di saat-saat sulit, berkat mereka aku jadi punya kegembiraan kecil-kecilan dalam hari-hari monoton belakangan ini. Memberi makan, mengelus, mengusir mereka saat obrak-abrik tempat sampah.

Kegembiraan itu, kecil-kecilan saja, seperti letusan petasan remeh para bocah. Dibanting cara mainnya. Sedangkan, kegembiraan besarnya selalu datang dari istriku. Misal, menyiapkan sarapan, menanyakan ingin minum apa.

 

Apakah tehnya terlalu manis?

Tidak, kamu yang terlalu manis. Gula dan seluruh rasa ku.

 

Aneh sekali sebenarnya. Diantara hiruk – pikuk ini, hanya kita, Homo sapiens yang tampak merasa disusahkan. Padahal spesies lain begitu saja hidup, ada, hari ke hari, normal dan apa adanya. Tidak ada yang berubah.

Kalau mereka harus makan ya mereka makan. Jika saatnya mereka mati, yasudah mati saja begitu. Undur diri. Bersembunyi di pojok kebun pisang.

Aku sempat berpikir, malam ini, dengan kekasih hati ku sudah tidur lelap disisi, bagaimana kalau manusia hidup seperti hewan-hewan ini saja?

Makan, berak, kawin, tidur, ulangi. Praktis. Tidak merusak. Kerjanya hanya beranak-pinak. Lalu punah otomatis karena bumi dihantam meteor.

Tidak ada udara kotor, sungai tercemar, apalagi hutan dibakar-bakar. Semua terjadi secara alami. Populasi diatur lewat bencana alam atau pemangsaan.

Baca juga

Saya Tidak Khawatir Pada Virus Corona

Ada wabah, alami, kulit gatal, nafas tersengal. Kita mati begitu saja. Bukan karena kita rakus melahap hewan liar apalagi dibuat-buat saingan pasar.

Tapi, manusia ga boleh begitu. Karena kita bukan spesies lain. Allah menciptakan kita sebaik-baiknya. Bahkan malaikat pun sudi sujud. Hanya satu terangkuh yang tidak. Musuh kita sepanjang masa.

Diciptakan kita berpikiran. Berkreasi. Menciptakan zaman-zaman. Membangun, merusak, memperbaiki. Begitu terus sampai kita hancur sendiri.

Karena itulah, aku percaya kita akan bertahan lagi, berhasil lagi dan bekerja untuk membuat dunia jadi makin baik lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Terus bertahan sampai Dia mau kita punah dan seisi dunia.

Sulit, tapi teruslah menjadi positif, keluarga seperadaban. Berat, tapi kita akan melalui ini semua. Walau berbeda sebagai seorang Silalahi, Hasibuan, Mas Yono, Kang Tisna, Bang Sabeni maupun Uda Maldini.

Kita harus bisa. Karena kita manusia.

 

 

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya