Abas

Author - Abas

Mi Ayam Sang Kartini Belokan

Penjual mi ayam di balai kartini

Emac ku ini di masa tuanya punya kegemaran berkunjung ke teman-teman tuanya juga.

Ya emac ku ini punya semacam geng, tapi sudah tua semua anggotanya. Terdiri dari wanita mandiri berbagai profesi.

Mengunjungi Bu G, penjual mi ayam ini salah satunya.

Berbeda dengan Bu H yang masih sering menangis sejak ditinggalkan pak H, Bu G dalam cerita ini jauh lebih tegar walau ditinggal suaminya.

( Baca cerita Bu H di ” BPJS Pria Idaman ” )

BPJS Pria Idaman

Bahkan, tidak lama setelah pemakaman sang suami di kampung halaman, Bu G sudah aktif berjualan.

” Tapi, kok jualannya di Balai Kartini, ngga di belokan depan itu lagi ya , Mac?” Tanya ku pada emac suatu waktu.

” Sedikit dapatnya. Paling 1 kilo. 2 kilo “ jawab emac merujuk padw jumlah mi ayam dihabiskan terjual.

Sewaktu Pak G masih hidup, awalnya mereka berdua berjualan di Balai Kartini, di sebelah pagar kantor Dinas Pendidikan Jakarta.

Ramai sekali memang disana.

Tidak lama, mereka berjualan masing-masing, Pak G tetap di Balai Kartini, sedangkan Bu G di belokan dekat rumah.

Ada 2 alasannya.

Yang pertama agar Bu G mudah beristirahat di rumah ( kontrakan ) saat lelah. Dan yang kedua adalah tambahan keuntungan.

Digabung, keduanya bisa menghabiskan 6-8kg sehari. Bisa lebih jika di Balai Kartini sedang ada event besar. Ketika ramai seperti itu, anak-anak mereka ikut membantu.

6-8 kg sehari itu gampangnya senilai dengan keuntungan 800ribu-1 juta sehari. Perkiraan ku sih lebih.

Segala persiapan berjualan Mi Ayam Balai Kartini, dilakukan di rumah sambil mengasuh anak. Si sulung teman sekolah ku dulu. Adiknya dua. Dia pun sudah menikah, 2 anaknya.

Tapi, teman ku ini memilih tidak tinggal dengan orangtuanya lagi. Dia pun tidak berprofesi sebagai penjual mi ayam.

Sebagai variasi, kadang sepasang penjual mi ayam itu bertukar lokasi. Agar tidak bosan. Sang wanita pergi ke Balai Kartini. Sang prianya berjualan di belokan itu. 

Tapi, jujur aku ini jarang dengan sengaja makan mi ayam G ini. Soalnya, aku tidak boleh membayar sama mereka.

Makan. Makan. Makan saja. Ra usah mbayar. Selalu begitu jawabnya.

Selepas solat zuhur atau ashar, aku sering mampir untuk menyapa mereka. Kadang membantu Pak G atau Bu G menyiapkan sayuran atau merapikan mangkok.

Sebenarnya sih malah bikin berantakan.

” Alhamdulillah pakde. Katanya habis beli rumah ya “ kata ku suatu waktu. Pak G sedang merapikan magkok-mangkok yang telah dicuci.

” Halah rumah kecil, Mas Basir. Buat motong-motong ayam aja. Alhamdulillah akhirnya bisa beli rumah di Jakarta ini” kata Pak G waktu itu.

Terlihat senang dan bangga dia waktu itu. Bangga sekali.

Padahal ya. Percaya deh, harga rumah dengan standar 1 ruang tamu, dapur, 3 kamar tidur dan kamar mandi di Mampang Prapatan Jakarta Selatan ini pun sudah mengejek sekali.

Maksudnya, mengejek slip gaji kita ini lho.

Mereka yang bisa membeli rumah disini ya tidak mungkin kalangan karyawan sih. TEDAK MONGKIN. Harganya tidak terkejar dengan dengan kenaikan gaji yang ada.

Rumah bersejarah itu, dua lantainya, ternyata adalah hadiah terakhir yang bisa diberikan Pak G buat keluarga.

Agar mereka disini, di Jakarta yang keras, panas, juga hujan deras, selalu punya tempat untuk pulang dan berteduh.

Untuk tidur dengan nyaman. Untuk berkumpul dan bertukar gurauan.

Untuk tidur bersama, ibu dan anak. Mengenang kegigihan bapaknya. Dan wajah sumringahnya setiap kali berangkat berjualan.

Menabung. Lembar demi lembar. Hari ke hari. Juga haru ke haru.

Saat sakit, aku sempat menjenguknya sekali. Berdoa agar sebelum Desember sudah sembuh jadi bisa ikut ke Boyolali. Tempat aku akan menikah nanti.

Disana banyak sekali penjual Bakso. Sahabat seperjuangan menu jajan kaum karyawan dan buruh harian.

Pak G meninggal di rumah, dalam perawatan istinya. Penyakit dari ginjal yang rusak dihantam minuman rasa-rasa kesukaan beliau, dan paru-paru yang menyerah dikepung asap rokok, mengakhiri hidupnya dalam tidur.

Bu G tidak bersedih lama-lama. Saban pagi, rutininasnya toh masih saja sama.

Mencincang ayam. Membersihkan sayuran. Menyiapkan mi dalam ukuran segenggaman.

Kemudian mengatur posisi bahan-bahan tersebut pada gerobak

Lalu pergi, pagi sampai sore untuk berjualan Di tempat suaminya selama ini melayani pelanggan.

Ini adalah Mi Ayam Kartini… Yang tangguh dan mandiri.

( Ayo beri dukungan penulis dengan subscribe blog ini dan menyebarkan tulisannya di media sosial kamu ! )



   

   
   

BPJS Pria Idaman

keluarga pak H dan ibu bapak saya

3 hari sebelum foto diatas diambil, Pak H wafat, sehingga pada foto, hanya ada Bu H, anak – menantunya, dan emac – bapak ku.

Iya, beliau wafat 3 hari sebelum hari pernikahan salah seorang putrinya

Dalam bilangan 3 juga Pak H keluar masuk rumah sakit.

2 kali di RSUD Pasar Minggu, kemudian selanjutnya 1 Kali beliau dipindah ke RSUP Fatmawati.

Pada 3 hari yang lalu itu, Bu H menelpon ku, mengabarkan suaminya telah wafat. Dan Bu H memohon bantuan agar berita dikabarkan ke ketua RT dan pengurus masjid untuk diumumkan

” Acaranya Bu H apa akan diundur ya, Mac? “ tanya ku pada emac malam itu

” Ya ngga lah. Namanya juga takdir, sekarang saatnya mengurusi persoalan yang masih hidup “ itu jawaban emac dalam bahasa Jawa tentunya.

Selama pak H dirawat, Emac dan Bapak yang bolak-balik menjenguk. Terhitung Bu H ini memang termasuk sahabat Emac

Saban waktu saat luang, Bu H jadi salah satu tetangga yang ikut membuat tempe mendoan di rumah. Dibayar tentu saja. Sedang pak H, seingat ku terakhir berjualan gorengan di dekat pangkalan taksi.

Suatu hari, saat sedang berjalan pulang, Emac menemukan Pak H duduk menggigil. Mengenakan jaket. Berkeringat dingin.

Tidak lama lalu, Pak H baru saja keluar RS yang pertama.

” Pak H, kenapa maksain jualan begini, kan baru keluar rumah sakit? “ Emac bersama beberapa orang menolong beliau, memberikan minum.

” Gimana ya Bu Sri, sudah lama sekali saya ga jualan. Kasian orang rumah “ jelas Pak H. Pucat. Sendu. Pilu wajahnya.

” Pak H sakit apa si Mak? “ tanya ku suatu malam

Ginjal dan hati, jawab Emac ketika itu.

Di hari lain, Emac menemukan Pak H mengendap-endap merokok di pelataran makam dekat masjid

” Hayo, Pak H. Masih merokok ya. Saya laporkan ibu ya “ kata emac saat memergoki

” Sedikit, Bu Sri. Cuma sebatang. Mulut saya asem betul kalau tidak merokok “ kata beliau

” Padahal ya, pak H itu sakit juga paru-parunya “ jelas Emac tempo hari saat menceritakan kisah ini.

” Eh, tapi, Mac. Pengobatan ini semua Pak H pakai BPJS kan? “ tanya ku penasaran. Mungkin ditanggung BPJS sebagian. Mungkin penuh. Entahlah bagaimana prosedurnya .

” Lha iya. Kalau ngga bayar pakai apa wong sampai berjut – jut gitu “ berjut – jut itu maksudnya, berjuta – juta. Dan tentu saja tidak dibawah 10 juta.

Alhamdulillah. Ditanggung BPJS toh.

Aku yakin ada cerita lain, tempat lain, waktu lain, dimana orang – orang seperti pak H tidak mau dirawat di rumah sakit karena khawatir soal biaya.

Dan ada juga cerita lain,

Saat orang – orang lain yang tidak seperti emac dan bapak ku, sehat dan mampu, ogah ikut bayar BPJS secara tertib karena merasa tidak dapat untung dari membayar BPJS.

Melihat Pak H, Biarlah emac dan bapak ku, dan seluruh anggota keluarga selalu rugi karena membayar BPJS.

Pada malam resepsi pernikahan salah satu putri Bu H itu, Emac ku menyumbangkan satu lagu. Bernyanyi dia bersama sang biduan.

” Pilih lagunya apa?” Tanya Emac pada Bapak sebelum naik ke panggung

” Pria idaman saja” kata Bapak

Walau jauh, sungguh jauh sekali kualitasnya dengan Rita Sugiarto, Emac bernyanyi :

Sikap mu yang penuh kasih dan sayang
membuat aku hai mabuk kepayang

Sikap mu yang peramah dan pendiam membuat aku rindu siang malam

Demi mendengar Bu Sri, Emac ku itu bernyanyi, Bu H tersenyum, bapak tersenyum, aku ngakak. Hehe

Yuk lah Subscribe blog saya ini !



   

   
   

Pajak Baru Google Yang Merembet Ke Berbagai Penjuru

mata motif google

Tempo hari saya dapat email dari PT Google Indonesia. Ini screenshot nya :

Google Kena pajak

Screenshot email cinta dari Google

Inti dari email itu adalah per tanggal 1 Oktober 2019 nanti, Google akan memasukkan komponen Pajak Pertambahan Nilai ( PPN ) sebesar 10% pada jumlah biaya yang saya dan para advertiser ( para pengiklan lain ) keluarkan untuk iklan.

Soal datangnya email ini, saya tidak kaget – kaget amat sih, soalnya sudah tahu suatu saat ini akan terjadi, hehe.

( Semua bisa dirunut mulai dari berita ini )

Sejak tahun 2015, saya sudah menggunakan Google Ads sebagai salah satu saluran tempat saya beriklan berbagai penawaran produk dan jasa bisnis kami.

Walau besaranya masih kalah dari biaya yang saya keluarkan untuk beriklan lewat Facebook &  Instagram. 

Tapi, pengumuman pajak Google ini jadi penting

Saya malah senang Google kena pajak

Jangan salah paham, saya ini pro agar Google, Facebook dan kawan – kawannya yang berbisnis di Indonesia ini kena pajak.

Mereka ini pendapatannya besar lho. Dan, dalam hal ini Google, memang pintar sekali berkelit soal pajak  

Bagaimana Google menghindari pajak

Salah satu ilustrasi cara Google berkelit dari kewajiban bayar pajak. Sumber : The Australian

Kan bagus kalau Indonesia dapat pajak dari perusahaan – perusahaan triliunan ini. Walaupun…

Pajak itu secara tidak langsung diperoleh dari para pengguna jasanya seperti saya ini hehe.

Ngomong – ngomong, berapa sih besaran potensi pajak yang bisa diperoleh per-individu ?

Ilustrasinya lebih kurang begini :

Untuk beriklan di Google Ads ( juga Facebook ) , pengalaman saya bisa dimulai Rp10.000 / hari. Rp300.000/bulan.

Bentuk pembayaran iklannya bisa melalui kartu kredit atau kartu debit tertentu. Seperti saya menggunakan Mandiri. Dan kita akan ditagih setiap bulan atau ketika ambang-batas ( threshold ) yang diberikan untuk akun iklan kita tercapai.

Tapi, sebutlah kita beriklan menghabiskan Rp300.000, berarti kita akan membayar tagihan sebesar Rp330.000. Rp30.000 ini dibayarkan ke negara (?).

Bayangkan jika seseorang beriklan hingga Rp30.000.000 ( tiga puluh juta perbulan ). Maka besaran pajak yang didapatkan dari tiap pengguna platform iklan adalah Rp3.000.000 per bulan.

Alhamdulillah.

Bu Sri menegaskan Google harus bayar pajak

Bu Sri waktu ngasih pengumuman kalau Google harus penuhi kewajiban pajak. Kalau ngga nanti akan dibawa ke pengadilan. Sumber foto : ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ama/16

 

Saya dan para wajib pajak lain harus apa ya ?

Saya lihat di grup atau forum, tidak ada pengiklan ( advertiser ) yang terlalu ribut menanggapi aturan pajak baru ini.

Ya jelas lah.

Saya sebagai salah satu pengiklan ini harus sadar dan waras. Kami kan mendapatkan lebih banyak ( baca: duit ) dari kegiatan usaha yang menggunakan Google ( juga Facebook ) sebagai media periklanan.

Lebih banyak dari siapa ?

Ya dari ” kebanyakan orang ” . Karyawan, guru, perawat, dan lain – lain

Dan selama ini, saya juga menyadari menikmati lubang pajak yang selama ini didapatkan Google.

Tapi, memang sudah saatnya kami ini ikut aturan. Walaupun berat, karena banyak sekali jenis pajak yang  harus seseorang bayarkan di bumi Indonesia ini memang 🤣.

Paling yang kerasa dan belum terbiasa adalah bagaimana profit yang selama ini kami nikmati tergerus biaya yang harus dibayarkan untuk potongan pajak.

Tapi, itulah salah satu tantangannya menjadi seorang entrepreneur. Setelah ini :

  • Berarti, bisnis harus makin profitable alias profitebel.
  • Materi iklan yang kami buat harus makin baik.
  • Kualitas produk dan layanan harus ditingkatkan
  • Serta memerkuat channel  pemasaran secara organik.

Di ekosistem ( digital ) marketing ini, berarti saya harus memperkuat :

  • Eksistensi di media sosial
  • Search Engine Optimization ( SEO ) lewat blog atau Youtube
  • Membuat Word of Mouth ( WoM ) bekerja
  • O 2 0 strategy, Online to Offline

Saya berharap kontribusi tambahan ini bisa sedikit membantu negara menghadirkan layanan kesehatan, beasiswa, sembako, pupuk, renovasi jembatan, imunisasi atau apapun yang dibutuhkan rakyat Indonesia.

Halah, sok istimewa. hehe.

Yah, pokoke, bisnis harus dijaga terus untung agar bisa bayar pajak dan ga buntung.

( UPDATE ) Saya mau ngajak ngomong serius dikit…

Sebenarnya, semua ini mengarah kemana sih ?

Mungkin terlalu jauh, tapi di ujung jalan sana memang begini : Indonesia harus memersiapkan diri memiliki skala ekonomi yang lebih besar.

Infrastruktur jalan, listrik, bendungan, maritim, pertanian sedang diarahkan kesana.

Yang pada akhirnya, jika dikelola dengan amanah, amatlah baik, karena :

Kita perlu membiaya pendidikan, kesehatan, militer, olahraga, kesenian, ketahanan pangan, riset, sanitasi, air bersih, bahkan memersiapkan diri dari berbagai dampak Climate Change

Yang mana, menurut saya sih, memang tidak mungkin terpenuhi dengan apa yang kita miliki sekarang ( baca : DUIT ! )

infografis unicef tentang indonesia

Banyak hal perlu diperbaiki, ditingkatkan, dilakukan Sumber : Akun twitter @UnicefIndonesia

Nah, itu lah kenapa kamu ga bijak kalau melulu ngamuk – ngamuk soal pemerintah hutang buat bangun ini itu, tapi kamu dipajakkin aja rewel betul.

Masalahnya bukan pemerintah yang memajaki kamu itu. Tapi, memang kamu tu harus kena pajak ( baca lagi : dalam kasus ini, para pengiklan di platform Google )

Seperti hutang sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan, begitu pula pajak mu.

Sebutlah kamu ga mau kena pajak, ya kasih argumen dan solusinya ya. Saya juga pengen dicerahkan.

Tapi, semua itu bisa saja sia – sia

Mungkin karena cukup lama ngajar ya ( 7 tahun ), tapi walaupun kita sebutlah menuju arah yang benar, saya punya kekhawatiran

Pertama, kita ga punya cukup SDM yang berkualitas untuk mengelola negara dengan skala yang lebih besar dari sekarang.

Jadi, ujung-ujungnya, saat segala sesuatu yang sifatnya hardware siap, ealah gusti, software nya ga mumpuni. Sama aja ga bisa jalan.

Kedengerannya porsi perhatian negara buat pendidikan tuh gede ya. Padahal ngga lho

Porsi anggaran kementerian di apbn 2019

Coba lihat 2 kementerian terbawah. Sumber : Databoks.co.id

Udah gitu, konon hasil dari anggaran tersebut juga ga maksimal

Mungkin ada baiknya juga ya anggaran pendidikan ga ditingkatin dulu sampai tau gimana bikin pemanfaatan anggaran yang optimal ? hehe

Yang kedua, semangat untuk menjadi bangsa dengan skala yang lebih besar bisa sia – sia kalau kita disibukkan ke hal – hal remeh macam ribut – ribut pilpres kemarin.

Sudah baca artikel yang ini belum dari pak Dahlan Iskan ?

Ibu Kota Kilat

Padahal nih ya, kamu seharusnya tahu bahwa diatas sana itu mereka para politisi itu saling berkelindan dan berkepentingan.

Misal, jangan – jangan ada deal – deal tertentu terkait ibukota baru.

Gimana, apa itu sepadan dengan segala macam keributan, ngamuk-ngamuk, hoax pecah belah yang ada diantara kamu selama ini ?😆

Yang ketiga, kita akan gagal kalau para pengkhianat bangsa masih ada

Mereka antara lain para koruptor, mafia impor, dan kartel di dunia pertanian-perikanan.

Bayangin deh, kamu, saya, ibu-bapak guru, buruh, berusaha taat bayar pajak, ealah di korupsi pula pengadaan e-KTP, bantuan bencana, hingga dana bikin jalan di desa. Apa ga pengen nabokin ?

infografis indeks persepsi korupsi indoesia

Yang bikin infografis aja pemerintah. Percaya lah.

Mafia impor juga nih. Astaga. Membingungkan kadang bagaimana badan – badan pemerintah itu tidak punya kemampuan ilmu dan teknologi buat tau kapan panen raya sehingga ga impor, gimana ngatur jumlah ayam beredar di pasar, gimana ngatur wilayah mana nanam cabe dan sebagainya.

Lha, tau-tau ngajuin izin impor pas punya stok berlebih !

infografis impor beras kompas

Kacau balau karena mafia ! Sumber : Kompas.com

Ini terakhir, mungkin ini subjektifitas saya. Tapi, biarlah

Banyak yang bilang perbedaan di negara ini adalah berkah buat kita. Bisa jadi ngga tapi malah jadi bom waktu.

Saya memang punya kepercayaan kalau banyak negara itu takut kita ini bersatu dan menjadi besar.

Negara dengan tipikal kayak kita nih, kaya sumber daya alam, terdiri dari berbagai suku bangsa, dan sedang berkembang, rawan diacak – acak pihak lain yang punya kepentingan.

Misal, kepentingan untuk menjadikan kita sebagai pasar sebagai pengguna suatu produk / jasa. Dan selalu jadi pasar.

Terus kita diganggu. Mau benahi pendidikan, diganggu. Mau majukan pertanian, diganggu. Mau berantas narkoba, diganggu.

Mau ekspor barang jadi, diganggu. Mau mengembangkan senjata sendiri, diganggu. Mau bikin mobil listrik, diganggu. Dan seterusnya.

Diganggunya pakai apa ?

Ya macam – macam, misal yang terus bikin kita ribut satu sama lain. Per individu atau kelompok. Yang menghabiskan energi dan menyita fokus.

Atau munculnya para pengkhianat yang mengambil keuntungan dari keadaan Indonesia yang melulu jadi pasar pengguna.

Jangan – jangan benar ya kita sulit bersatu untuk berangkat menuju ke tujuan yang sama ? Sulit karena masing – masing punya agenda yang berbeda ?

Bisa. Kita pasti bisa pergi sama – sama.

Sama – sama hidup. Hidup sama – sama.

Dan jangan lupa bayar pajak jika kamu memang harus bayar.

….

….

Jangan lupa subcribe blog ini lewat email ya



   

   
   

Belajar Naik Motor Dengan Santai dan Santun Dari Bapak Guru SD

motor yang sering dipakai guru

Kamu gemes dengan kelakuan pengendara motor yang makin ugal – ugalan saja ? Sama banged. Saya juga.

Apalagi di kota seperti Jakarta ini, salah satu penyebab kemacetan yang bikin gila ini ya para pengedara motor.

Ya ga semuanya sih. Kamu perlu tahu tipe pengendara motor alternatif yang tidak ugal – ugalan dan tidak jadi sumber keributan.

Siapa kah mereka itu ?

Jika ingin hidup damai, tenang dan santai berkendara motor di ibukota, kendarailah motor Supra atau Vega seperti bapak guru SD atau petugas Puskesmas. Yah contoh lainnya motor Mio atau Beat lah. 

Yang akan saya tulis ini adalah berdasarkan pengalaman saya hidup di ibukota. Jadi mohon maap sama bapak guru SD dan petugas puskesmas saya jangan dimisuhi ya. Wong cuma ambil contoh. Hehe

Mohon maaf. Saya mau nulis ini : arrogant, prick and asshole !

Lama sekali lalu lalang di jalanan ibukota, saya sudah berpapasan dengan berbagai jenis pengendara motor.

Saya pun jadi punya hipotesa bahwa makin besar (ukuran dan/atau CC) sebuah motor, maka pengendara tersebut makin punya kecenderungan jadi ” arrogant, prick and asshole” di jalanan.

Misuhan itu saja sampai saya tulis dalam bahasa Inggris karena sudah saya anggap menyebalkan betul para pengendara model begitu.

Gak ketemu padanan kata yang enak diucapin.

Gak percaya ? Coba ni ya saya kasih daftarnya buat kamu. Mereka ini di jalan :

  • Klakson-klakson ga sabaran
  • Meraung-raung gas di sebelah kita
  • Parkir suka-suka di kantor
  • Nyempit-nyempitin jalan masuk kampung
  • Ngebut – ngebut zig – zag pamer motor
  • Mepet motor lain yang lebih kecil di sebelah kiri

Masih mau lagi? Masih ada kok contohnya. Mereka ini :

  • antar jemput anak sekolah ga pakai helm tapi sempet pakai Kacamata besar ga nyambung. Yang emac emac? Lengkap kosmetik
  • masih di sekitar sekolah, malang melintang menghalangi lewat karena ngobrol sama pengendara sejenis
  • masih di sekolah. Minta tolong narikin mundur motor sama orang yang baru saja diintimidasi

Serius ini. Buat saya orang orang ini ridiculously annoying dalam level yang sudah paripurna.

Selebihnya orang orang ini akan masuk tingkatan veteran kalau kelakuan – kelakuan tersebut diiringi knalpot lebay yang bunyinya mengganggu saat kita ingin makan dengan tenang.

Atau saat menunggu di lampu merah dengan sabar, atau ngobrol dengan teman di sebelah sambil menunggu jam pulang. Prepet-prepet nya bahkan masih terdengar walau motornya sudah jauh.

Primata. Monyet !

Karena saya belum pernah pakai motor dengan cara begitu, saya tidak tahu alasan mereka berperilaku intimidatif seperti itu.

Kalau kata seorang teman perilaku mengintimidasi dan rasa senang mendominasi yang lain itu bawaan kita sebagai primata.

Salah satu contoh primata adalah Monyet! Iya. Monyet !

Sadar atau tidak, pengendara motor intimidatif makin banyak saja jumlahnya di jalan – jalan kita. Akhirnya makin banyak orang jadi beringas di jalan.

Wong yang berlaku hukum rimba gitu kok. Siapa yang keras. Siapa yang kasar. Dia akan berkuasa di jalanan.

Padahal nih ya. Seandainya mereka buru – buru lebih ngebut pun. Ugal – ugalan di jalan. Bikin orang lain emosi, memang akan seberapa lebih cepat sih mereka sampai ke tujuan ?

Dua jam ? Halah paling berapa menit itu pun dilalui dengan tekanan darah tinggi.

Tenang, ga semuanya begitu. Masih ada suri tauladan diantara kita

Nah. Tapi, akan lain sekali keadaan jalan-jalan kita jika pengendara motor digantikan mereka yang berkendara dengan santuy seperti bapak guru SD dan petugas puskesmas yang saya jadikan sebagai contoh disini.

Mohon izin ya, bapak, ibu

Mereka adalah para pengendara yang umumnya menggunakan Supra, Mio, Beat atau Vega. Barisan motor santai dan santun Republik Indonesia.

Mau ngebut?

Halah. Mana kuat motor motor begitu dibawa 60km/jam. Goyang – goyang pasti. 80 km/jam ? Bisa terbang. hehe

Mau arogan di jalan?

Walah. Ya ra mungken. Wong motor yang dipilih itu adalah cerminan perilaku mereka yang sederhana, bersahaja dan lemah lembut kok.

Mau melintang depan sekolah?

Ya ga laku. Kan bodi nya kecil. Ya tinggal dilewatin aja lah 

Mau berisik – berisik pakai knalpot?

Ya cuma bikin malu lah. Suara sama jiwa ga nyambung gitu. Knalpot menjerit. Mesin bisa cepirit.

Bapak ibu guru nih. Eh ada saya disitu. Hehe

Para pengendara seperti ini pun cenderung tertib. Taat lampu dan rambu. Juga tidak berisik sekaligus lebih ramah polusi dan ekonomi.

Dalam perjalanan yang ada dipikirannya adalah bagaimana keadaan anak didik nya di kelas?

Apakah PR minggu lalu sudah dikerjakan? Apakah terlalu sulit ?

Atau Apa kabar pasien sembelit tempo hari? Apa resep yang diberikan sudah ditebus di apotek?

Subhanallah, Bapak. Ibu.

Salim, Pak, Bu. Jangan lupa tahlilan di pak RW habis Isya ya

Di jalan jalan kampung pun amat menyenangkan bapak Ibu ini. Halus dan bersahaja suara mesin nya.

Lewat rumah warga pun selalu dapat sapa

” Apa kabar pak guru” 

” Baru pulang ya pak Guru”

” Jangan lupa nanti tahlilan habis isya di rumah pak RW ya pak Guru “

Kehadirannya menghadirkan ketenangan. Kehilangannya menghadirkan kerinduan.

Duhai. Bapak, Ibu guru, serta para petugas Puskesmas. Perawat, bidan, apoteker dan dokter jaga.

Saya yang bertemu dengan beliau dalam perjalanan solat isya di masjid pun mengucapkan salam.

Cium tangan. Bersama remaja – remaja lain yang saat SD nya sudah terbantu diluluskan pak Guru ini.

Ah. Merdu sekali suara motor pak Guru saban sore hari.

Wiiiiir Wiiiiir.

Sebarkan tulisan saya di media sosial kamu dan jangan lupa subscribe lewat email ya !



   

   
   

Ingin Gaji 8 Juta Tapi Harus Apa Dong ?

gaji 8 juta UI

Sampai sekarang saya belum tahu siapa sosok dibalik postingan viral alumni UI minta 8 juta itu. Hehe.

Tapi, karena screenshot Instagram Story itu, tokoh – tokoh seperti Dian Sastro, Raditya Dika hingga Fahri Hamzah pun ikut berkomentar.

Tentu saja, almamater kami Universitas Indonesia pun mengeluarkan pernyataannya lewat medsos dan media.

 

Yah pokoknya seru deh jadinya. Nak. Masih penasaran saya, kamu dari jurusan apa sih ? Mungkin ga ya adek kelas saya di Biologi ?

 

Memangnya aneh ya fresh graduate bergaji 8 juta ?

Saya lulus dari UI tahun 2013. Saat itu, ada beberapa teman saya yang ketika bekerja sudah bergaji 8 juta dan lebih.

Itu tahun 2013 lho. Kalau saya sendiri bagaimana ?

Pada tahun itu, setelah mengurungkan niat ikut  Indonesia Mengajar atau lanjut S2, saya menerima tawaran untuk mengajar Biologi di SMA N 28, kemudian juga di SMA N 70. Keduanya di Jakarta Selatan.

Dari kedua sekolah, plus mengajar les privat beberapa sesi per minggu, gaji saya berkisar di 7 – 9 juta per bulan. Nah, kan ? Jadi benar ada kan fresh graduate bergaji 8 juta ?

Bahkan UI sendiri pun sudah merilis data resminya. Sebanyak 25% alumninya bergaji 6-9 juta per bulan, sedangkan 21% bergaji lebih dari itu.

Lalu apa yang jadi sumber ribut – ribut ?

 

Bukan tentang nominalnya, tapi, alumni mana kamu memang tidak paling penting

Yang jadi ramai tentu saja ( kemungkinan besar ) adalah bagaimana sikap dari sang alumni misterius tersebut. 

Kata – kata seperti ” Gue lulusan UI ” hingga “jangan disamain dengan fresh graduate kampus lain ” memang dirasa jauh dari sopan santun.

Lagipula, tentang dari lulusan kampus mana kamu itu memang tidak paling penting kok

Status dari Mba Hani Buntari ini bagus banged buat jadi teguran kita semua

Kamu mau bergaji 8 juta ?

Tentulah banyak faktor yang menentukan besaran gaji seorang pekerja ya. Untuk merangkum pembahasannya, saya membaginya jadi dua boleh ya ?

Yang pertama ingin saya bahas adalah faktor dari luar.

Sebenarnya nominal gaji tertentu terutama erat sekali kaitannya dengan ada di industri ( saya lebih suka menyebutnya ekosistem ) apa kamu memilih bekerja.

Mereka yang ada di ekosistem pendidikan tentu punya kondisi yang lebih sulit untuk mencapai gaji 8 juta dibandingkan kamu yang ada di ekosistem keuangan atau teknologi misal.

Sebelumnya saya sudah berbagi cerita bahwa sebagai guru saya berpenghasilan hingga 9 juta per bulan sebagai fresh graduate.

Alhamdulillah, berkat karunia Allah lewat alumni saya ( kak Damar, saat ini mengajar di Bunda Mulia ) dan dosen pembimbing saya ( bu Riani Widiarti, kandidat doktor dari IPB ) saya berkesempatan mengajar Biologi TIDAK di kurikulum nasional. Tapi, pada kurikulum Cambridge International Examination ( CIE )

Saya merasa paling dekat selama mengajar dengan kelas ini di SMA N 28

 

Ini saat di SMA N 70. Batik PGRI dikenakan saat peringatan Hari Guru yaa

 

Kenapa itu penting saya sampaikan ?

Karena, ceritanya akan jauh berbeda jika saya menjadi guru ( apalagi statusnya honorer ) pada kurikulum nasional. Untuk mencapai nominal tersebut, tentu saya perlu jumlah sesi mengajar yang lebih banyak dan kerumitan kepegawaian yang menyita waktu.

Tapi, yang belum saya sampaikan adalah sebagai profesi, saya sudah mengajar sejak tahun 2009 dan berhenti sama sekali pada tahun 2016.

Itu artinya saya lebih kurang telah mencari uang dari mengajar selama 7 TAHUN. Yang membawa kita pada pembahasan kedua…

Walaupun tidak pernah secara langsung, saya tahu Biologi di CIE seharusnya tidak akan teramat sulit karena selama 7 tahun saya telah mengajar mulai dari kurikulum nasional, persiapan masuk kampus negeri, hingga olimpiade.

Baca Juga 

Merencanakan Hasil SBMPTN Semenjak Di SMA

Mengajar selama itu membuat saya merasa amat siap ketika tawaran mengajar di program CIE itu datang. Cerita ini seharusnya berlaku juga pada ragam profesi lain bukan sih ?

Ada faktor internal yang harus kamu siapkan juga agar gaji 8 juta itu layak kamu dapatkan atau setidaknya peluangnya lewat pada mu.

Nominal gaji yang dibayarkan seorang pemberi kerja tentu amat terkait tentang seperti apa pekerjanya itu.

Bagaimana keterampilannya. Apakah keterampilan tersebut mampu meningkatkan produktivitas. Bagaimana cara dia bergaul, berkomunikasi, menyatakan pendapat. Seperti apa dia berbicara. Bagaimana bekerja dalam tim dan batas waktu. Dan seterusnya.

Jadi, masing – masing dari kita juga punya tanggung jawab untuk meningkatkan kapasitas – kapasitas itu. Pemberi kerja akan makin ketat dalam berhitung gaji  ketika makin masal pekerjaan, dan makin mudah kamu tergantikan, maka makin kecil bayaran yang akan kamu dapatkan.

 

Memang ga ada alternatifnya gimana bisa dapat gaji 8 juta ?

Siapa bilang gitu ? Ya ada dong

Alternatif pertama, kamu berwirausaha, yang tentunya punya tingkat kesulitan tersendiri. Lagipula, emang ga perlu meningkatkan kapasitas diri kalau memilih jalur ini ?

Alternatif kedua adalah kamu bekerja di perusahaan ibu/bapak mu sendiri. Tentu lebih mudah bernegosiasi gaji toh ? hehe. Serius ini, ada beberapa murid yang pernah saya ajar begini kok pendekatannya.

Alternatif ketiga adalah jadi Aparatur Sipil Negara ( ASN ). Gajinya sih standar ya, tapi di beberapa daerah ada tunjangan yang lumayan. Tapi, tetap saja, ada kesulitannya masing – masing.

Faktornya gabisa dipisah nak. Sudah ketemu ekosistemnya, kamu harus siapkan individunya ( kamu ). Individunya siap, harus cari tempat hidup di ekosistem yang benar.

Selama masih bisa, kamu harus bertumbuh – kembang nak. Menaungi rimbun. Meneduhkan dan menghasilkan buah, seiring waktu berjalan.

Pun ketika tempat tumbuh-kembang mu akhirnya terasa kecil, maka kamu berpindah. Bertumbuh lagi. Seterusnya begitu.

Pertumbuhan mu pun dibatasi waktu dan linimasa. Pelajari dan kuasailah hal – hal krusial untuk hidup mu alih – alih berusaha menguasai semua, jadi master of none.

Kamu punya linimasa yang berbeda dengan orang lain. Tidak perlu galau juga ketika sukses mu terasa lebih lama ? Waktu mu akan datang ketika semua sudah siap.

Lagipula, kamu tidak tahu apa yang dia lakukan hingga sampai pada posisi sekarang kok. Percaya deh.

 

Disclaimer :

Saya sudah tidak aktif lagi berprofesi sebagai guru Biologi di kedua sekolah atau lembaga mana pun. Saat ini saya mencari nafkah lewat digital marketing. Tempat saya bertumbuh selanjutnya.

Oh iya, yuk subscribe blog ini lewat email !