Author - Abas

Sejuk & Akur Dalam Setiap Aduk Bubur

Bubur yang tidak diaduk

Saya ini gabisa makan bubur yang tertata rapi, yang tidak diaduk, seperti yang ada di foto diatas.

Dan sungguh betapa menggemaskan melihat penikmat bubur rapi seperti ini makan dari tepian.

Bayangkan. Disuatu suap dia hanya makan bagian berkacang. Disuap lain bagian berayam. Disuap kemudian bagian berkecap.

Betapa rumitnya makan dengan banyak ketentuan seperti itu. Bandingkan dengan penikmat bubur diaduk. Setiap unsur dari bubur yang disajikan bercampur mesra dengan akur.

Tapi, saya ga pernah tuh misuh-misuh pada penikmat bubur rapi waktu makan bersama. Suka-suka mereka saja lah. Asalkan ga ngajak-ngajak apalagi sampai memaksa

Penikmat bubur diaduk adalah mereka yang hidupnya majemuk dan penuh rasa syukur.

Tapi, walau mengaduk bubur, saya ini penganut mazhab memisah kerupuk. Seperti hanya saat saya makan ketoprak dan gado-gado. Tapi, cukup berbeda saat makan nasi goreng dimana saya meremuk kerupuk dan menaburkannya.

Kerupuk menempati posisi istimewa pada bubur yang diaduk dimana dia saya makan utuh atau dijadikan sendok rekaan. Sungguh pengalaman makan yang tidak biasa.

Diantara umat pengaduk bubur, mungkin saya hanyalah kelompok Jam’iyah yang kecil. Namun, saya berharap tetap dapat diterima mereka.

Seperti halnya saya telah menerima mereka atas segala kekurangan dan kelebihannya. Juga kepada umat bubur rapi. Bahkan pada mereka yang menurut saya keterlaluan karena menikmati bubur ayam untuk makan malam.

Duhai para sahabat ku, kita adalah saudara dalam kemanusiaan dan kebuburan♥️

Dari sahabat mu, Abas, yang selalu berusaha bersyukur dalam setiap adukan bubur

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Refleksi Sebulan Pernikahan Dari Sederetan Jemuran

Sederetan Jemuran

Saya ini jarang sekali mencuci pakaian. Apalagi menjemur. Wah, ribet. Jangan ditanya juga bagaimana saya menghindari menyetrika atau melipat baju.

Di rumah orangtua, setelah Emac ( ibu saya ) terdesak melihat tumpukan baju kotor saya, beliau sering mencucikannya sambil merepet mengomel.

Bukan, ini bukan perkara saya manja apalagi sengaja merepotkan orangtua. Tapi, karena saya punya konsep mengumpulkan baju kotor hingga beberapa hari untuk kemudian dicuci. Sayangnya konsep ini belum dapat diterima oleh Emac.

Padahal dengan konsep ini, paling banyak saya 3x mencuci dalam sebulan. Itu pun saya antarkan ke Laundry. Dicuci, dijemur, disetrika dan dilipatkan orang. Praktis, murah dan go green sekali kan ?

Apalagi kalau dilihat – lihat, sebagian besar pakaian yang saya cuci itu cuma kaos oblong. Sedikit sekali ada kemeja. Celana panjang paling 1 -2. Jadi, makin kuatlah keengganan saya untuk mencuci.

Memang semenjak memutuskan bekerja dari rumah, saya jadi jarang berkemeja. Paling jika ingin keluar suatu kegiatan atau bertemu orang. Ya saya bekerja seperti itu saja, berkaos oblong dan tentunya tetap pakai celana.

Bisa bekerja dari rumah

Ya kira – kira beginilah suasana saya bekerja. Ini mah rapi ya di meja. Hehe.

 

Kemudian saya menikah dan perlahan banyak sekali hal berubah

15 Desember 2019 saya melangsungkan pernikahan, jadi sewaktu tulisan ini dibuat ya saya masih bisa dibilang penganten baru lah. Hehe

Saya tidak perlu menguliahi kamu soal pernikahan, karena saya pun bukan ahlinya.

Namun, setelah menikah, saya salah akan banyak hal, merasa bodoh akan banyak hal, dan belajar akan banyak hal.

Salah satunya soal mencuci dan menjemur pakaian.

Dalam hal mencuci, saya dan istri banyak kesamaan. Dia juga lebih sering mengirimkan pakaian kotor ke Laundry.

Beberapa hal saja masih dicuci sendiri, misal daleman. Sedangkan saya sering khilaf waktu ke Laundry segala hal saya sertakan termasuk CD alias Celana Dalam.

Malu sekali tentu saya dalam suatu kejadian pemilik Laundry sampai menuliskan ”  Tidak Menerima Mencuci Daleman

Kadang, jika tidak keberatan, saya menyertakan CD saya pada cucian yang akan dikerjakan istri. Walau sebenarnya saya pun gapapa lho mencuci sendiri. Serius.

Tapi, soal menjemur, saya baru saja mengetahui satu kesalahan dalam hidup.

 

Agar warnanya awet…

Gambar utama dalam tulisan ini menjelaskan betapa fatal kesalahan yang saya buat. Bertahun – tahun lamanya

Sungguh saya baru tahu, saat menjemur pakaian itu, sisi yang dijemur adalah sisi sebaliknya, sisi dalam pakaian.

Bertahun – tahun itulah, saya menjemur dengan aturan suka – suka. Sisi manapun yang kebetulan saya angkat ya saya jemur.

Agar warnanya awet, sayangku… ” begitu istri saya bilang alasannya.

Walah.

Bagaimana bisa bertahun – tahun tidak ada yang pernah bilang ( atau saya yang tidak mendengarkan ? ) soal hal ini ? Bahkan tidak pula saya berusaha mencari informasi ini di internet.

Untungnya jemuran itu memang hanya dijemur sebentar. Mereka hanya pakaian dalam tas yang kebetulan basah terkena hujan saat saya bepergian.

Atas kejadian itu, saya senang istri saya mengoreksi kesalahan yang saya buat. Sepertihalnya saya senang sekali saat dia bersedia menerima saya utuh dalam hidupnya, lewat pernikahan.

Saya yang enggan sekali mencuci baju dan gemar menyerahkan CD ke Laundy ini…

Jodoh memang perkara Tuhan yang menakjubkan. Dan saya sungguh bersyukur menikah dengan istri saya, Anita Lestari, yang duhai cantiknya, pintar dan penuh keterampilan.

Walau saya bukanlah ahli pernikahan, saya ingin bilang pada mu dan para pembaca sekalian kalau ternyata menikah itu memang banyak manfaatnya.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Titipan Hamil Bapak Kuda Laut

Foto jantan hamil di Bromo

 

” Kuda laut itu, yang hamil yang jantan lho “

Pernah denger itu ga ?

Sewaktu saya mengajar, setiap tahun saya mendengar ada murid yang berkomentar seperti ini. Yah, dalam percakapan antar teman gitu.

Murid itu tidak salah.

Saya malah senang dia terinspirasi dari tontonan atau dari buku yang dia baca dan tergugah untuk berbagi dengan teman – temannya.

Berbagi soal kuda laut jantan yang hamil.

kawinnya kuda laut

Kuda laut kawin. Foto oleh Don McLeish diambil dari https://30a.com/monogamous-sea-creatures/

 

Pada kuda laut, alias Hippocampus, setelah melalui proses perkawinan, jantan secara unik menyediakan kantong perutnya sebagai tempat inkubasi bakal keturunan mereka.

Kantong perut ini, yang terisi para bayi kudalaut, jadi menggendut dan tampak hamil.

Kantong pejantan tersebut adalah organ yang sangat kompleks yang diketahui mampu mengatur suhu, aliran darat, serta salinitas air untuk telur ketika mereka menetas, sehingga anak-anak kuda laut selanjutnya siap menjalani kehidupan di laut

 

Pasangan yang berbagi beban hidup…

Sebagian ilmuwan Biologi Laut atau mereka yang berkecimpung pada dunia perkudalautan ada juga yang berpendapat bahwa mekanisme titip hamil ini adalah upaya berbagi beban antara jantan dan betina. Dengan kata lain adalah salah satu contoh emansipasi dari dunia hewan.

Karena mekanisme emansipasi ini, betina bisa lebih cepat memersiapkan diri lagi untuk proses perkawinan selanjutnya. Biar sang betina fokus memproduksi telur yang siap dibuahi kemudian.

Proses perkawinan mereka dilakukan dengan mulanya saling berdansa dan menautkan ekor dengan mesra selama berjam-jam. Yang diakhiri dengan betina menitipkan ribuan telur nya pada sang Arjuna kesayangan.

Proses titip hamil ini berlangsung selama 10-25 hari. Konon, kantong titip hamil jantan tersebut bisa menyimpan hingga 1000 bakal anak kuda laut. Walau kemudian secara statistik, hanya seperlima yang akan bertahan hidup hingga dewasa.

Intinya adalah kedua orangtua menyadari bahwa sebesar-besarnya tugas mereka sebagai makhluk ciptaan Allah adalah melestarikan jenisnya dari masa ke masa.

Hal ini tentu saja saya pelajari sebagian pada saat kuliah dan sebagian lagi saat menonton NatGeo. Sedangkan foto hanya lah pemanis belaka.

Terimakasih saya ucapkan pada bapak dan ibu dosen juga para produser acara kuda laut tersebut.

Untuk kamu yang tertarik mengetahui lebih lanjut soal kuda laut, dapat berkunjung pada website – website berikut :

  1. Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
  2. Smithsonian Ocean
  3. Encyclopedia Britannica
  4. The Sea Horse Trust

Mi Ayam Sang Kartini Belokan

Penjual mi ayam di balai kartini

Emac ku ini di masa tuanya punya kegemaran berkunjung ke teman-teman tuanya juga.

Ya emac ku ini punya semacam geng, tapi sudah tua semua anggotanya. Terdiri dari wanita mandiri berbagai profesi.

Mengunjungi Bu G, penjual mi ayam ini salah satunya.

Berbeda dengan Bu H yang masih sering menangis sejak ditinggalkan pak H, Bu G dalam cerita ini jauh lebih tegar walau ditinggal suaminya.

( Baca cerita Bu H di ” BPJS Pria Idaman ” )

BPJS Pria Idaman

Bahkan, tidak lama setelah pemakaman sang suami di kampung halaman, Bu G sudah aktif berjualan.

” Tapi, kok jualannya di Balai Kartini, ngga di belokan depan itu lagi ya , Mac?” Tanya ku pada emac suatu waktu.

” Sedikit dapatnya. Paling 1 kilo. 2 kilo “ jawab emac merujuk padw jumlah mi ayam dihabiskan terjual.

Sewaktu Pak G masih hidup, awalnya mereka berdua berjualan di Balai Kartini, di sebelah pagar kantor Dinas Pendidikan Jakarta.

Ramai sekali memang disana.

Tidak lama, mereka berjualan masing-masing, Pak G tetap di Balai Kartini, sedangkan Bu G di belokan dekat rumah.

Ada 2 alasannya.

Yang pertama agar Bu G mudah beristirahat di rumah ( kontrakan ) saat lelah. Dan yang kedua adalah tambahan keuntungan.

Digabung, keduanya bisa menghabiskan 6-8kg sehari. Bisa lebih jika di Balai Kartini sedang ada event besar. Ketika ramai seperti itu, anak-anak mereka ikut membantu.

6-8 kg sehari itu gampangnya senilai dengan keuntungan 800ribu-1 juta sehari. Perkiraan ku sih lebih.

Segala persiapan berjualan Mi Ayam Balai Kartini, dilakukan di rumah sambil mengasuh anak. Si sulung teman sekolah ku dulu. Adiknya dua. Dia pun sudah menikah, 2 anaknya.

Tapi, teman ku ini memilih tidak tinggal dengan orangtuanya lagi. Dia pun tidak berprofesi sebagai penjual mi ayam.

Sebagai variasi, kadang sepasang penjual mi ayam itu bertukar lokasi. Agar tidak bosan. Sang wanita pergi ke Balai Kartini. Sang prianya berjualan di belokan itu. 

Tapi, jujur aku ini jarang dengan sengaja makan mi ayam G ini. Soalnya, aku tidak boleh membayar sama mereka.

Makan. Makan. Makan saja. Ra usah mbayar. Selalu begitu jawabnya.

Selepas solat zuhur atau ashar, aku sering mampir untuk menyapa mereka. Kadang membantu Pak G atau Bu G menyiapkan sayuran atau merapikan mangkok.

Sebenarnya sih malah bikin berantakan.

” Alhamdulillah pakde. Katanya habis beli rumah ya “ kata ku suatu waktu. Pak G sedang merapikan magkok-mangkok yang telah dicuci.

” Halah rumah kecil, Mas Basir. Buat motong-motong ayam aja. Alhamdulillah akhirnya bisa beli rumah di Jakarta ini” kata Pak G waktu itu.

Terlihat senang dan bangga dia waktu itu. Bangga sekali.

Padahal ya. Percaya deh, harga rumah dengan standar 1 ruang tamu, dapur, 3 kamar tidur dan kamar mandi di Mampang Prapatan Jakarta Selatan ini pun sudah mengejek sekali.

Maksudnya, mengejek slip gaji kita ini lho.

Mereka yang bisa membeli rumah disini ya tidak mungkin kalangan karyawan sih. TEDAK MONGKIN. Harganya tidak terkejar dengan dengan kenaikan gaji yang ada.

Rumah bersejarah itu, dua lantainya, ternyata adalah hadiah terakhir yang bisa diberikan Pak G buat keluarga.

Agar mereka disini, di Jakarta yang keras, panas, juga hujan deras, selalu punya tempat untuk pulang dan berteduh.

Untuk tidur dengan nyaman. Untuk berkumpul dan bertukar gurauan.

Untuk tidur bersama, ibu dan anak. Mengenang kegigihan bapaknya. Dan wajah sumringahnya setiap kali berangkat berjualan.

Menabung. Lembar demi lembar. Hari ke hari. Juga haru ke haru.

Saat sakit, aku sempat menjenguknya sekali. Berdoa agar sebelum Desember sudah sembuh jadi bisa ikut ke Boyolali. Tempat aku akan menikah nanti.

Disana banyak sekali penjual Bakso. Sahabat seperjuangan menu jajan kaum karyawan dan buruh harian.

Pak G meninggal di rumah, dalam perawatan istinya. Penyakit dari ginjal yang rusak dihantam minuman rasa-rasa kesukaan beliau, dan paru-paru yang menyerah dikepung asap rokok, mengakhiri hidupnya dalam tidur.

Bu G tidak bersedih lama-lama. Saban pagi, rutininasnya toh masih saja sama.

Mencincang ayam. Membersihkan sayuran. Menyiapkan mi dalam ukuran segenggaman.

Kemudian mengatur posisi bahan-bahan tersebut pada gerobak

Lalu pergi, pagi sampai sore untuk berjualan Di tempat suaminya selama ini melayani pelanggan.

Ini adalah Mi Ayam Kartini… Yang tangguh dan mandiri.

( Ayo beri dukungan penulis dengan subscribe blog ini dan menyebarkan tulisannya di media sosial kamu ! )



   

   
   

BPJS Pria Idaman

keluarga pak H dan ibu bapak saya

3 hari sebelum foto diatas diambil, Pak H wafat, sehingga pada foto, hanya ada Bu H, anak – menantunya, dan emac – bapak ku.

Iya, beliau wafat 3 hari sebelum hari pernikahan salah seorang putrinya

Dalam bilangan 3 juga Pak H keluar masuk rumah sakit.

2 kali di RSUD Pasar Minggu, kemudian selanjutnya 1 Kali beliau dipindah ke RSUP Fatmawati.

Pada 3 hari yang lalu itu, Bu H menelpon ku, mengabarkan suaminya telah wafat. Dan Bu H memohon bantuan agar berita dikabarkan ke ketua RT dan pengurus masjid untuk diumumkan

” Acaranya Bu H apa akan diundur ya, Mac? “ tanya ku pada emac malam itu

” Ya ngga lah. Namanya juga takdir, sekarang saatnya mengurusi persoalan yang masih hidup “ itu jawaban emac dalam bahasa Jawa tentunya.

Selama pak H dirawat, Emac dan Bapak yang bolak-balik menjenguk. Terhitung Bu H ini memang termasuk sahabat Emac

Saban waktu saat luang, Bu H jadi salah satu tetangga yang ikut membuat tempe mendoan di rumah. Dibayar tentu saja. Sedang pak H, seingat ku terakhir berjualan gorengan di dekat pangkalan taksi.

Suatu hari, saat sedang berjalan pulang, Emac menemukan Pak H duduk menggigil. Mengenakan jaket. Berkeringat dingin.

Tidak lama lalu, Pak H baru saja keluar RS yang pertama.

” Pak H, kenapa maksain jualan begini, kan baru keluar rumah sakit? “ Emac bersama beberapa orang menolong beliau, memberikan minum.

” Gimana ya Bu Sri, sudah lama sekali saya ga jualan. Kasian orang rumah “ jelas Pak H. Pucat. Sendu. Pilu wajahnya.

” Pak H sakit apa si Mak? “ tanya ku suatu malam

Ginjal dan hati, jawab Emac ketika itu.

Di hari lain, Emac menemukan Pak H mengendap-endap merokok di pelataran makam dekat masjid

” Hayo, Pak H. Masih merokok ya. Saya laporkan ibu ya “ kata emac saat memergoki

” Sedikit, Bu Sri. Cuma sebatang. Mulut saya asem betul kalau tidak merokok “ kata beliau

” Padahal ya, pak H itu sakit juga paru-parunya “ jelas Emac tempo hari saat menceritakan kisah ini.

” Eh, tapi, Mac. Pengobatan ini semua Pak H pakai BPJS kan? “ tanya ku penasaran. Mungkin ditanggung BPJS sebagian. Mungkin penuh. Entahlah bagaimana prosedurnya .

” Lha iya. Kalau ngga bayar pakai apa wong sampai berjut – jut gitu “ berjut – jut itu maksudnya, berjuta – juta. Dan tentu saja tidak dibawah 10 juta.

Alhamdulillah. Ditanggung BPJS toh.

Aku yakin ada cerita lain, tempat lain, waktu lain, dimana orang – orang seperti pak H tidak mau dirawat di rumah sakit karena khawatir soal biaya.

Dan ada juga cerita lain,

Saat orang – orang lain yang tidak seperti emac dan bapak ku, sehat dan mampu, ogah ikut bayar BPJS secara tertib karena merasa tidak dapat untung dari membayar BPJS.

Melihat Pak H, Biarlah emac dan bapak ku, dan seluruh anggota keluarga selalu rugi karena membayar BPJS.

Pada malam resepsi pernikahan salah satu putri Bu H itu, Emac ku menyumbangkan satu lagu. Bernyanyi dia bersama sang biduan.

” Pilih lagunya apa?” Tanya Emac pada Bapak sebelum naik ke panggung

” Pria idaman saja” kata Bapak

Walau jauh, sungguh jauh sekali kualitasnya dengan Rita Sugiarto, Emac bernyanyi :

Sikap mu yang penuh kasih dan sayang
membuat aku hai mabuk kepayang

Sikap mu yang peramah dan pendiam membuat aku rindu siang malam

Demi mendengar Bu Sri, Emac ku itu bernyanyi, Bu H tersenyum, bapak tersenyum, aku ngakak. Hehe

Yuk lah Subscribe blog saya ini !