Author - Abas

Pekalongan, Boyolali, dan Bandung Dalam Semangkuk Soto.

Header blog soto boyolali (1)

Hari ini untuk kesekian kalinya, saya makan Soto Boyolali Hajjah Widodo bersama istri. Kami makan dicabangnya yang di Buah Batu, Bandung.

Seperti biasa tempatnya ramai. Tua muda dan para bocah hadir bersantap soto diiringi rintik hujan saat siang di Kota Kembang. Berbagai kendaraan roda empat dan roda dua, berpelat D, pelat sunda, pelat jabodetabek, pelat Jawa, berjejer di parkiran.

Tersebabkan semua hal itu, saya mengalami rasa sendu…

Saya sekali lagi merasa kalah sebagai orang Pekalongan dan harus mengakui keunggulan orang – orang mBoyolali di tanah rantau. Dalam hal ini saya rasa cukuplah diwakili istri tercinta sebagai orang asli sana.

Kok bisa-bisanya Soto Boyolali yang berhasil menembus Bandung Raya? Kenapa bukan Soto Pekalongan?

Dua pertanyaan tersebut muncul lagi di benak saya. Menjawab pertanyaan kedua lebih mudah. Tapi, sayangnya tidak sesederhana itu, Sukirno.

Sungguh sebagai peranakan Pekalongan, saya tidak pernah kurang berbangga soal berbagai figur yang lahir di dan dari tanah ini. Mulai dari Kapolri legendaris, ulama internasional, sastrawan besar republik, bos setarap unikon, hingga pengusaha besar jagad muslimah sudah ada.

Soal batik pun kami tidak kalah tanding dengan para sedulur dari Solo, Jogja, Madura sampai Cirebon. Bolehlah diadu siapa yang pantas menyandang nama Kota Batik. Bolehlah dicek juga batik mana yang lebih banyak beredar di pasar.

Terlebih lagi, bolehlah kami juga berbangga dengan sebutan Kota Santri. Tidak susah mencari pesantren segala model di Pekalongan. NU, Muhammadiyah, Salafi, semua ada. Walaupun harus berbagi sebutan dengan Jombang, Kudus, Kendal, Probolinggo hingga Tasikmalaya dan Banjar. Tidak masalah.

Tapi, kenapa begitu sulit mengingat Pekalongan dari kulinernya?

Coba aja kamu jawab. Apa kuliner dari Pekalongan yang kamu tahu ?

Padahal, bisa dibilang wajib hukumnya suatu daerah itu diingat dari sajian kulinernya. Mulai dari dodol, roti, keripik, empal, sampai teh melekat ingatan tentang daerah asalnya. Karena hal itu, orang jadi mudah mengingat Garut dari dodolnya, Batu dari keripik apelnya, Tegal dari teh pocinya dan Cirebon dari empal gentongnya. Bahkan saat ingat seblak kita juga bisa ingat Bandung.

Lalu, bagaimana cara mengingat Pekalongan dari kulinernya ?

Mungkin dari Soto, salah satu kuliner Indonesia yang banyak macamnya. Saya ingin Pekalongan bisa dikenal sejajar bersamaan dengan saudara sepersotoannya. Mulai dari Soto Kudus, Soto Madura, Soto Padang, Soto Banjar, Soto Lamongan, Soto Betawi dan Soto Bandung.

Tapi, nyatanya memang Pekalongan selama ini tidak diingat karena sotonya, yang bernama Tauto, yang tentu, sudahlah, kamu pun tidak tahu toh walau saya jelaskan?. Apalagi pernah makan…

Bahkan ketika dibandingkan dengan soto lain sesama soto Jawa lainnya seperti Soto Sokaraja ( Banyumas ) dan dalam tulisan ini Soto Boyolali, Soto Pekalongan tetap kalah tenar.

Di dekat tempat kami tinggal di Bandung, dekat sekali, ada penjual Soto Sokaraja. Kami pun sudah beberapa kali makan disana. Tapi, tidak pernah saya temui tuh penjual Soto Pekalongan di Bandung.

Jangankan Bandung, di Jakarta pun Soto Pekalongan hidup segan mati tak rela. Satu-satunya warung Tauto yang bisa saya ingat adalah Soto Pekalongan depan pasar PSPT Tebet. Sudah, sebiji itu saja.

Apalagi jika dibandingkan Soto Boyolali, wabil khusus yang bermerek Soto Sedap Boyolali (SBB) Hj. Widodo, yang bisa dibilang amat sukses di kota Bandung dan dicintai masyarakatnya.

Setidaknya itu yang secara kasat mata saya lihat di lokasi salah satu warungnya yang di daerah Buah Batu ini. Selalu ramai terlebih saat jam makan siang dan sore hari. Tidak kalah saat pandemi. Tidak menyerah dihantam PSBB, PPKM hingga entah apalagi singkatannya nanti.

Selain warung yang ini, terdapat juga cabang – cabang lainnya se Bandung Raya antara lain di Citarum, Gegerkalong, dan Cimahi. Belum terhitung berbagai cabang lainnya di Jabodetabek, Jawa Barat hingga Jawa Tengah. SSB Hj. Widodo bahkan sudah ada di Pekalongan ! Terlalu ga sih, paklek dan buklek ?

Hal ini sering membuat saya overthinking sebelum tidur, seperti kebiasaan anak – anak jaman sekarang. Kok bisa ya Soto Boyolali ini lebih berhasil di berbagai kota dibandingkan sedulur soto lainnya ?

Kalau dibandingkan dengan Soto Pekalongan, Soto Boyolali ini memang lebih ringan dan apa adanya. Soto Pekalongan kental bumbu dan rempah. Pakai tauco pula. Sedangkan Soto Boyolali begitu simpel. Sederhana. Tidak rumit. Tidak kompleks.

Kuahnya bening, jemu, hanya diisi irisan ayam atau daging sapi dan pelengkap lain yang irit sekali. Bandingkan dengan Soto Pekalongan yang sudahlah menggunakan daging kerbau, gelap, tegas, dan sulit diajak kompromi.

Soto Pekalongan pun tidak mengajak penikmatnya untuk kreatif. Paling – paling kamu hanya bisa makan Soto ini dengan teman lontong, nasi atau gorengan tempe dan kerupuk. Bandingkan dengan Soto Boyolali yang kamu bisa nikmati dengan sate cingur, sate paru, sate telur puyuh, tahu-tempe serta aneka goreng-gorengan lainnya.

Makan Soto Pekalongan dengan sate paru ? Apa ga eneg ?

Sudah dari berbagai sisi, Soto Boyolali mencetak skor.

Kemdian, terlepas dari kejelian tim bisnis dan marketing dibalik kesuksesan SSB Hj. Widodo, salah satu faktor lainnya dari keberhasilan Soto Boyolali menembus sekat – sekat geografis, sosiologis, dan ekonomis antar kota antar provinsi di Jawa ini menurut saya adalah terkait kewanitaannya.

Tahukah kamu nama merek – merek lain Soto Boyolali yang sejauh ini menancapkan pengaruhnya ?

Selain Soto Sedaap Boyolali Hj. Widodo, terdapat juga merek Soto Segar Boyolali Hj. Amanah, Soto Segeer Hj. Fatimah, Soto Bening Boyolali Mbok Roes, dan tentu saja Soto Segeer Mbok Giyem yang lebih dulu dikenal. Semua merek pemenang tersebut disandarkan pada nama seorang wanita atau lebih khusus lagi, seorang ibu.

Karena itu pula sekali lagi, setelah menghabiskan semangkok Soto Sedaap, disaksikan rintik hujan Kota Bandung siang ini, saya pun takluk pada si cantik dan rupawan dari Boyolali yang menjadi istri saya.

Kami pun pulang ke peraduan. Saat itu rona senja menjelang. Rinai hujan masih ada mengiringi perjalanan.

Eh, tapi, duhai wargi Bandung, ngomong-ngomong, mohon penjelasan. Kenapa pula ada lobak di soto kalian ?

Hikikomori, Orang-Orang Yang Menarik Diri

Header blog hikikomori

Belakangan waktu ini saya sedang senang menonton tayangan Youtube CNA Insider. Menarik acara ini. Darinya, kita bisa belajar berbagai kebudayaan yang berbeda secara mendalam dari video yang dibuat begitu baik.

Salah satu yang menarik adalah tentang Deciphering Japan, mengurai seluk beluk Jepang.

Siapa yang mengurai Jepang tentu akan menemukan tentang budaya super kerja mereka, kebutuhan akan disiplin dan kesempurnaan, generasi yang menua, hingga pop culture yang berpusat pada anime – manga. Hikikomori, yang akan saya ceritakan pada tulisan kali ini,terjebak diantara hal – hal tersebut.

Sebelum menonton tayangan CNA tersebut, saya hanya punya sedikit informasi soal Hikikomori ini. Intinya, mereka ngumpet, ngendon dikamar, hingga bertahun – tahun. Menghindar, menarik diri dari masyarakat.

Kalau kata anak jaksel mah Ansos, anti sosial. Tapi, dalam skala yang memprihatinkan. Sebatas itu yang saya tahu.

Yang baru saya dapatkan setelah menonton acara CNA adalah fakta bahwa TERNYATA selama memilih menarik diri dari masyarakat tersebut, orang – orang ini sama sekali TIDAK MAU BEKERJA. Mereka pengangguran akut hidup dari orangtuanya atau siapapun yang saat itu memiliki kerelaan menanggung hidup orang-orang ini bertahun – tahun.

Hal itu tentu amat berbeda dengan teman – teman yang saya kenal yang memang tidak suka bersosialisasi dengan masyarakat. Mereka kemudian memilih profesi – profesi yang minim interaksi fisik. Mulai dari programmer, desainer, penulis lepas hingga pedagang online. Bekerja dari kosan, dari rumah, dari apartemen.

Sebelumnya saya kira orang – orang Hikikomori ini hanya tidak ingin bersosialiasi. Mereka merasa tidak cocok dalam sistem yang ada. Tapi, setidaknya mereka masih memiliki martabat untuk bekerja, menghidupi diri dan tidak membiarkan orang lain untuk menanggungnya menjadi beban tambahan.

Ternyata saya salah.

Tidak hanya menarik diri, mereka pun tidak mau bekerja, tidak mau repot, tidak mau terlibat kehidupan. Pokoknya hanya didalam kamar, sibuk dengan mainannya masing – masing. Bertahun – tahun lamanya.

Tidak ingin terburu-buru menghakimi, saya pun menonton acara sampai selesai. Siapa tau dapat penjelasan lebih baik.

Salah satu pelaku Hikikomori yang jadi narasumber, telah memilih jalan hidup begitu selama 30an tahun. Sejak lulus SMA dia memutuskan menarik diri. Segala jenis perundungan dan ejekan membuatkan tidak tahan. Apalagi para guru tidak bisa membantu.

Dia merasa dunia tidak mengerti dan tidak mau tahu kenapa aku begitu. Sejak itu, dia tinggal hanya dengan ibu. Mengurung diri di kamar, makan, bermain catur dengan orang randon di internet, tidur, berak dan berulang.

Yang mengejutkan adalah ketika dia ditanya apa yang paling dikhawatirkan. Jawabannya adalah ketika ibunya nanti mati sedangkan warisan yang ditinggalkannya tidaklah seberapa. Lalu, bagaimana dia akan melanjutkan hidup ?

Sang ibu yang pada tayangan tersebut tidak atau menolak diwawancara tampak mondar – mandir di sekitar rumah. Ia hidup diruangan terpisah, acuh, tidak peduli, seperti sudah pasrah bahwa dalam rumah yang sama ada orang lain yang tidak punya daya.

Saya tidak tahu bagaimana ini telah atau akan dianggap normal oleh masyarakat Jepang. Namun, membiarkan orang mengambil pilihan hidup menarik diri sekaligus menghisap orang lain adalah sebuah kesalahan. Kesalahan untuk dirinya, orang yang menanggungnya dan masyarakat secara luas.

Beberapa pihak membuat terobosan untuk memutus mata rantai orang – orang baru yang memilih Hikikomori. Mulai dari pendirian institusi pendidikan inklusif, komunitas berbagi dan diskusi, hingga berbagai unjuk kesenian. Dengan harapan suara Hikikomori ini makin didengarkan dan ada perubahan dalam sistem masyarakat Jepang.

Apa yang jadi kesalahan mendasar ?

Kamu dirundung disekolah, kamu diejek ditempat kerja, kamu merasa dihina di masyarakat, tapi kenapa malah kamu pulang dan memilih merundung orang terdekat mu bertahun – tahun ?

Setelah menonton siaran, saya tetap ada pada posisi kontra pada Hikikomori. Klasik. Mungkin saya tidak memahami karena saya tidak merasai.

Bahkan pada masyarakat Jepang yang bernafas pada disiplin dan kesempurnaan, masih ada retak-retak yang perlu ditambal.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Jangan Sejarah, Biologi Saja Yang Sebaiknya Dihapus

menghapus pelajaran sejarah ?

Tempo hari saya membaca tentang kabar kementerian pendidikan yang berencana menghapus pelajaran sejarah di sekolah. Entah, bagaimana kelanjutannya per hari ini, yang jelas banyak komentar protes dari berbagai pihak.

Ada – ada saja kementerian pendidikan ini. Masa pelajaran Sejarah mau dihapus ?

Tapi, yang menarik, diantara yang kontra, saya sempat membaca komentar pro ( di twitter ) soal pelajaran sejarah yang mau dihapus ini. Katanya, yang kita pelajari selama ini adalah doktrinasi, bukan pelajaran, tentang sejarah. Jadi, ya dihapus juga ga masalah.

Ada – ada saja masyarakat berpendidikan ini. Masa pelajaran Sejarah mau dihapus ?

Alih – alih mendukung atau menentang penghapusan pelajaran sejarah. Saya pribadi punya pendapat lain. Daripada  Sejarah, alangkah lebih baiknya pelajaran Biologi dan kawan-kawannya saja yang dihapus.

Memiliki pengalaman mengajar sekitar 7 tahun pada lembaga pendidikan formal dan non – formal di negeri ini. Saya melihat pengajaran sains IPA maupun IPS kita ini lebih banyak mubazirnya.

Saya berikan secuplik contoh pada Biologi. Karena saya mengajar mata pelajaran ini.

Biologi menjadi subjek atau konten pelajaran di sekolah sejak dini sekali. Setidaknya, dari pengalaman mengajar, Biologi sudah diajarkan sejak kelas 7 SMP. Lebih dini lagi,  Biologi sudah masuk pada konten IPA sejak sekolah dasar.

Tapi, pada ujung pendidikan dasar – menengah 9 tahun, kasat mata terlihat pemahaman dan penguasaan Biologi pada pelajar kita begitu – begitu saja lah tingkatannya. Ingat syukur. Memahami alhamdulillah. Yah, so so begitu deh.

Tetap saja saat kelas 12 SMA misalnya, menjelang ujian nasional atau tes masuk perguruan tinggi, mereka seperti kosong melompong lagi belajar tentang sistem ini, sistem itu, DNA ini, RNA itu, osmosis ini, difusi itu, dan sebagainya.

Lha, terus ngapain lama – lama belajar Biologi sampai bertahun – tahun begitu ?

Mending fokus saja belajar Biologi 1 – 2 tahun di SMA, menyesuaikan dengan jenis tes masuk perguruan tinggi.

Sedangkan, waktu bertahun – tahun yang tadinya dihabiskan untuk belajar Biologi dialihkan saja untuk mata pelajaran lain, kegiatan lain, atau dihapuskan saja sekalian agar waktu dan beban belajar di sekolah lebih sedikit.

Kok praktis banged urusannya cuma perkara tes masuk perguruan tinggi ?

Ya coba dikondisikan pertanyaannya, bukannya kita belajar perkara sains IPA / IPS itu sebatas SBMPTN – Ujian Mandiri doang ? Memang buat apa lagi selama ini ?

Baiknya pelajaran formal di sekolah itu dikurangi sajalah. Kasihan anak – anak itu. Berangkat pagi, pulang sore, sampai rumah sudah lemes. Mama malah tanya kok males – malesan ga belajar ?

 

Lha, memang 8 jam di sekolah anak – anak ini ternak lele bertani jagung ?

 

Pelajaran wajib sekolah cukup lah lima. Matematika, English, Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Teknologi Informasi. Kenapa lima pelajaran ini ?

Alasannya bisa menjadi satu artikel tersendiri, yang jelas, lima subjek ini adalah muatan pendidikan dasar ( menurut saya ) yang lebih penting ada dibandingkan tetek bengek Sains yang akhirnya terlupakan begitu saja.

Selain lima pelajaran itu, variasinya bisa pelajaran agama menjelang pulang sekolah. Seperti madrasah diniyah di kampung – kampung gitu. Tidak perlu masuk konten kurikulum, tapi wajib atas dasar pendidikan karakter.

Bisa juga ditambah dengan muatan pengabdian masyarakat. Misal, murid ditingkatan yang lebih tua diarahkan untuk mengajar anak – anak sekitar.

Selain itu, dapat juga pendidikan itu berupa membantu pekerjaan warga dalam hal pemberdayaan kampung. Pendidikan sukarelawan bencana pun bisa jadi opsi. Dipandu PMI, Tagana, hingga Mapala perguruan tinggi.

Bayangkan hari – hari disekolah tanpa Fisika, Kimia, Biologi. Atau sosiologi, geografi, ekonomi. Pulang lebih cepat, hari menjadi berkurang penat, tas pun menjadi berkurang berat.

Waktu -waktu pendidikan mereka pun digantikan dengan hal – hal yang lebih tepat guna. Waktu luang mereka pun bisa digunakan untuk mendalami bakat dan keterampilan.

Bayangkan dimana kelas guru Biologi nantinya hanya diisi beberapa orang saja yang minat mendalami bidang ini dan mencintai sains tidak terbatas lulus SBMPTN saja. 

Dimana evolusi, bioteknologi, keanekaragaman hayati didiskusikan dengan suasana mencerahkan.

Yah, namanya juga membayangkan… Enak banged.

Terus pada keadaan ideal seperti itu, bagaimana nasib kepegawaian guru – guru yang sudah ada ?

Ya saya gatau. Mungkin akan ada orang lain yang bisa urun gagasan ?

Bukti Kalau Alumni UI Juga Kangen Dengan Depok

Tengah malam lalu ada seorang teman yang mengirimi saya WA. Katanya postingan saya tentang alumni UI kangen Depok viral di twitter.

 

Bukan teksnya tentu, tapi gambarnya yang memang lucu. Gambar itu pun bukan saya yang menjepret. Saya dapatkan dari postingan seseorang yang disebarkan teman. Lihat saja disini :

 

 


———-

UPDATE : gambar ini bermula dari twit teman baru saya, yang ternyata kakak kelas di kampus. Kami sudah berkenalan di Twitter dan berdiskusi dengan bersahabat lewat  Facebook mengenai viralitas gambar ini. Insya Allah sudah sudah selesai dengan baik.

 

———-

 

Padahal saya tidak aktif di Twitter lho. Bahkan postingan aslinya di Facebook pun biasa – biasa saja engangementnya. Walau tidak kurang berapa banyaknya alumni UI dan warga Depok berteman dengan saya di Facebook. Apa Anda-Anda sekalian ini tidak ada yang kangen Depok?

Terus, kenapa soal alumni UI dan kangen pada Depok ?

Itu bermula dari twitter juga, ada yang ngetwit, kalau alumni UGM kagen Jogja, alumni ITB kangen Bandung, tapi alumni UI gak kangen dengan Depok. Terus viral.

 

He masa sih? Kenapa pula alumni UI gak kangen Depok ? Ada apa dengan Depok ?

 

Saya menghabiskan enam tahun di Depok. Dari masa mahasiswa, lulus, hingga bekerja di tahun – tahun pertama. Margonda, Kukusan, Pondok Cina, Beji, Siliwangi, Studio Alam, Jatijajar, Kelapa Dua, Tanah Baru, Masjid Kubah Mas, Gunadarma, Margo City, Detos, Steak Moen-Moen, dan tentu saja Universitas Indonesia.

Apa yang paling saya ingat dari Depok ?

Apa ya…

Apa ?

Masa iya bertahun – tahun di Depok tidak meninggalkan kenangan tertentu ?

Apa ?

Oh, mungkin Margonda Raya yang macet itu ?

Jalan utama ini kalau sedang macet luar biasa hiruk-pikuknya. Tapi, saat lengang malah jadi tempat marabahaya. Pada Masa itu, entah berapa kali terdengar ada yang tertabrak saat menyeberang. Salah seorang adik kelas kami di kampus pun ada yang jadi korban.

Saya sering menyeberang disana untuk pergi ke Gramedia. Ada sekat kecil di pembatas jalan yang sepertinya memang dimaksudkan untuk lintasan menyeberang. Tapi, gatau juga ya, sebenarnya itu boleh atau tidak ? Waktu itu tidak ada jembatan penyeberangan, tidak juga lampu lalu-lintas, atau zebra cross, seingat saya. Entah sekarang bagaimana. Kalau ingin tahu bagaimana suasananya, gambarnya saya sertakan pada tulisan ini. Yah, seperti itulah.

suasana margonda

Sumber transformasi.org

 

Kemudian, apa lagi ya yang teringat dari Depok pada masa – masa saya itu ?

Gak tau deh kalau kamu bagaimana. Jujur ini pertanyaan sulit. Entah kenapa saya malah ingat baliho – baliho besar di pertigaan Juanda itu. Tau ga ? Atau saat ini sudah tidak ada kah ?

Pertigaan itu sebenarnya perempatan, jalan satunya lagi menuju kampung belakang kampus UI. Kalau ga salah jalan nangka namanya. Sepi. Zaman saya dulu gelap betul. Tembusnya ke Boulevard UI dan seterusnya hingga ke PNJ, lalu ke Kukusan.

Nah, jalan kecil ini tertutup Baliho besar di pertigaan itu. Saling bertumpuk. Tidak beraturan. Macam – macam informasi bisa kita baca disitu. Mulai dari penawaran KPR rumah, konser yang disponsori rokok, hingga tentu saja pesan dari pemerintah daerah.

Ada satu, satu ini, hanya satu ini yang sampai sekarang terngiang – ngiang terus. Mungkin kamu pun pernah lihat. Yaitu, himbauan makan dengan tangan kanan.

Iya, di Kota Depok dulu ada semacam sosialiasi besar makan dengan tangan kanan.

makan dengan tangan kanan

Sumber : Blog Istianasari

 

Saya gatau ya bagaimana prioritas Pemda saat itu atau visi-misinya. Kebetulan KTP saya Jakarta, jadi urusan perdepokan pada tingkatan pemda saya ga paham dan terserah saja. Namanya juga pendatang. Tapi, memang kenapa ya makan dengan tangan kanan perlu jadi himbauan ?

Sepahaman saya saat itu ya orang Indonesia itu secara bawaan, default, kalau makan ya dengan tangan kanan. Otomatis aja gitu. Datang ke meja makan, langsung pegang sendok dengan tangan kanan. Kecuali, mungkin jika dia kidal. Itu ya juga bawaan ya.

Ada sih mungkin saat – saat tertentu tangan kiri ikut makan. Misal ya, saat di angkringan, kita nyuap nasi kucing dengan tangan kanan, tapi, lauknya dipegang dengan tangan kiri. Atau saat kita makan soto, kerupuknya dipegang dengan tangan kiri. Tangan kanan sibuk menyeruput Soto. Dagingnya Sapi. Dimakan saat panas. Nasinya pulen. Sudah pakai jeruk nipis dan kecap – sambal. Seger.

Apa saat itu di Depok sedang ada perubahan kebiasaan besar sehingga banyak orang mulai makan dengan tangan kiri dominan ? Pemda Depok perhatian betul pada warganya sampai mengingatkan begitu.

Waktu itu media sosial belum seramai sekarang. Jadi ya kita menanggapinya biasa saja gitu. Apalagi tidak banyak dari kita saat itu mau ada urusan dengan politik – politikan. Coba kalau sekarang, pasti ramai betul. Beda partai ramai. Beda gubernur ramai. Beda cara punya rumah ramai. Giliran postingan Facebook saya kok malah sepi.

 

Apalagi ya tentang Depok ?

 

Memang ada fragmen – fragmen kecil yang tersimpan dengan baik berkat pertemanan kami di kampus. Mulai dari kosan kami yang dibelakang restoran steak yang wanginya semerbak itu. Atau tempat tinggal pertama saya yang berkebalikan, bau kotoran sapi setiap pagi. Kedua cerita itu sama, bersumber dari sapi. Kapan waktu saya ceritakan.

Tapi, apakah alumni UI kangen Depok ? Itulah sulitnya pertanyaan ini. Mungkin pertanyaannya saja yang diganti.

Misal, apakah selama di Depok kamu cebok dengan tangan kiri ?

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya



   


   

Hanya Begini Saja, Tahu – Tahu Lebaran

Mohon Maaf Lahir Batin

Tahun lalu aku pikir bakal sekedar jadi gagasan: seperti apa Ramadhan dan Lebaran pertama dengan seorang istri.

Tentunya kegiatan kami dimulai dengan bergantian membangunkan sahur. Ah betapa indahnya.

Kami memasak sesuatu yang baru atau menghangatkan makanan semalam. Terkantuk-kantuk. Akhirnya kalah. Alah repot, sahur dengan roti gandum saja lah.

Kemudian kami niatkan mengaji bersama, menahan kantuk hingga pukul setengah enam untuk berjalan kaki keliling komplek. Pertama aku, lalu dirinya. Duhai syahdu sekali pagi itu. Ternyata gagal terus. Mungkin kami takut haus lebih awal.

Kemungkinan besar setelah itu kami tertidur. Tidur saat pagi itu menggoda sekali. Lagipula pekerjaan saya bisa dimulai pukul delapan atau sembilan, tidak apa-apa. Mengawasi les atau transaksi penjualan macam-macam hal.

Apa saja lah, yang penting hidup dan menghidupkan.

Kemudian kami ke warung untuk berbelanja. Dekat sini saja, seperbelokan jaraknya. Warung Mama Sitanggang namanya, mungkin kamu pernah dengar. Mama adalah seorang Batak yang ramah. Beliau bersuamikan Batak dan beranak-pinak Batak. Aku hitung ada 5 banyaknya, 4 perempuan dan 1 laki – laki.

Setelah itu aku bekerja. Tentunya sudah mandi dan berganti baju. Istri ku sedang sibuk didapur. Gerak-geriknya terlihat dari tempat aku duduk.

Dipandu video dari YouTube, dia, kesayangan kami itu memasak sesuatu yang baru setiap harinya untuk kami berbuka.

Kamu suka tidak?

Kamu suka tidak?

Kamu suka tidak ?

Begitu tanyanya berulang-ulang.

Istirahat kerja ku diselingi membaca dan memberi makan kucing kami, Zainul namanya. Seperti yang di foto itu. Hitam putih. Gembul nian dia belakangan ini.

Selain Zainul kadang ada kucing-kucing lain ikut makan; Bruno, Lidya, Dustin, Monica, mengantri depan pintu. Perihal nama-nama tersebut aku yang memberi. Nama lengkap Zainul sendiri adalah Zainul Ichsan Puspowardoyoh Tanoesoedibjoh Yudhoyonoh Kallah Rajasah.

Kadang Zainul kami izinkan tidur didalam kamar. Dibawah meja rias, beralas tas mukena istri ku. Diluar sedang hujan, dingin sekali. Dia juga bangun saat sahur untuk minta disiapkan biskuit.

Siap laksanakan tuan…

Menjelang sore istri ku selesai masak. Lalu untuk menunggu berbuka kami berboncengan membeli makanan ringan yang kadang asal saja. Penjual mana yang ingin kami sapa hari itu? Seperti itu saja aturannya.

Sebenarnya istriku tidak melulu suka jajan. Sedang aku tidak perlu diragukan. Hari berganti, berbeda pula jenis jajanan itu; batagor, cilok, singkong keju, lumpia, donat, hingga es Goyobod, entah apa arti nama es yang seperti es campur itu ?

Lalu kami berbuka, enak sekali sop ayam buatan istiri ku sore itu. Tapi pernah tempe kami gosong, aku pelakunya. Sedang beberapa kali kami mendapat pisang yang belum matang, biar saja. Rasa manisnya biar aku cari dalam senyum istri ku.

Setelah sekian solat, bercengkrama, dan menonton film bersama, tahu-tahu, serasa seperminuman teh saja, takbir berkumandang, Lebaran pun datang.

Nah lho, ternyata ini semua nyata. Indah sekali. Walau tetap ada sepi karena tidak ada ibu bapak dan kampung halaman untuk kami pulang.

Duhai para pembaca, mohon maaf lahir dan batin. Tentu aku banyak salah. Taqoballahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima

Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan Lebaran selanjutnya

Hiduplah. Bertahan hidup. Karena saat-saat ini, hidup dan menghidupkan adalah hal yang makin penting.

.

.

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan lainnya