Abas

Author - Abas

Ingin Gaji 8 Juta Tapi Harus Apa Dong ?

gaji 8 juta UI

Sampai sekarang saya belum tahu siapa sosok dibalik postingan viral alumni UI minta 8 juta itu. Hehe.

Tapi, karena screenshot Instagram Story itu, tokoh – tokoh seperti Dian Sastro, Raditya Dika hingga Fahri Hamzah pun ikut berkomentar.

Tentu saja, almamater kami Universitas Indonesia pun mengeluarkan pernyataannya lewat medsos dan media.

 

Yah pokoknya seru deh jadinya. Nak. Masih penasaran saya, kamu dari jurusan apa sih ? Mungkin ga ya adek kelas saya di Biologi ?

 

Memangnya aneh ya fresh graduate bergaji 8 juta ?

Saya lulus dari UI tahun 2013. Saat itu, ada beberapa teman saya yang ketika bekerja sudah bergaji 8 juta dan lebih.

Itu tahun 2013 lho. Kalau saya sendiri bagaimana ?

Pada tahun itu, setelah mengurungkan niat ikut  Indonesia Mengajar atau lanjut S2, saya menerima tawaran untuk mengajar Biologi di SMA N 28, kemudian juga di SMA N 70. Keduanya di Jakarta Selatan.

Dari kedua sekolah, plus mengajar les privat beberapa sesi per minggu, gaji saya berkisar di 7 – 9 juta per bulan. Nah, kan ? Jadi benar ada kan fresh graduate bergaji 8 juta ?

Bahkan UI sendiri pun sudah merilis data resminya. Sebanyak 25% alumninya bergaji 6-9 juta per bulan, sedangkan 21% bergaji lebih dari itu.

Lalu apa yang jadi sumber ribut – ribut ?

 

Bukan tentang nominalnya, tapi, alumni mana kamu memang tidak paling penting

Yang jadi ramai tentu saja ( kemungkinan besar ) adalah bagaimana sikap dari sang alumni misterius tersebut. 

Kata – kata seperti ” Gue lulusan UI ” hingga “jangan disamain dengan fresh graduate kampus lain ” memang dirasa jauh dari sopan santun.

Lagipula, tentang dari lulusan kampus mana kamu itu memang tidak paling penting kok

Status dari Mba Hani Buntari ini bagus banged buat jadi teguran kita semua

Kamu mau bergaji 8 juta ?

Tentulah banyak faktor yang menentukan besaran gaji seorang pekerja ya. Untuk merangkum pembahasannya, saya membaginya jadi dua boleh ya ?

Yang pertama ingin saya bahas adalah faktor dari luar.

Sebenarnya nominal gaji tertentu terutama erat sekali kaitannya dengan ada di industri ( saya lebih suka menyebutnya ekosistem ) apa kamu memilih bekerja.

Mereka yang ada di ekosistem pendidikan tentu punya kondisi yang lebih sulit untuk mencapai gaji 8 juta dibandingkan kamu yang ada di ekosistem keuangan atau teknologi misal.

Sebelumnya saya sudah berbagi cerita bahwa sebagai guru saya berpenghasilan hingga 9 juta per bulan sebagai fresh graduate.

Alhamdulillah, berkat karunia Allah lewat alumni saya ( kak Damar, saat ini mengajar di Bunda Mulia ) dan dosen pembimbing saya ( bu Riani Widiarti, kandidat doktor dari IPB ) saya berkesempatan mengajar Biologi TIDAK di kurikulum nasional. Tapi, pada kurikulum Cambridge International Examination ( CIE )

Saya merasa paling dekat selama mengajar dengan kelas ini di SMA N 28

 

Ini saat di SMA N 70. Batik PGRI dikenakan saat peringatan Hari Guru yaa

 

Kenapa itu penting saya sampaikan ?

Karena, ceritanya akan jauh berbeda jika saya menjadi guru ( apalagi statusnya honorer ) pada kurikulum nasional. Untuk mencapai nominal tersebut, tentu saya perlu jumlah sesi mengajar yang lebih banyak dan kerumitan kepegawaian yang menyita waktu.

Tapi, yang belum saya sampaikan adalah sebagai profesi, saya sudah mengajar sejak tahun 2009 dan berhenti sama sekali pada tahun 2016.

Itu artinya saya lebih kurang telah mencari uang dari mengajar selama 7 TAHUN. Yang membawa kita pada pembahasan kedua…

Walaupun tidak pernah secara langsung, saya tahu Biologi di CIE seharusnya tidak akan teramat sulit karena selama 7 tahun saya telah mengajar mulai dari kurikulum nasional, persiapan masuk kampus negeri, hingga olimpiade.

Baca Juga 

Merencanakan Hasil SBMPTN Semenjak Di SMA

Mengajar selama itu membuat saya merasa amat siap ketika tawaran mengajar di program CIE itu datang. Cerita ini seharusnya berlaku juga pada ragam profesi lain bukan sih ?

Ada faktor internal yang harus kamu siapkan juga agar gaji 8 juta itu layak kamu dapatkan atau setidaknya peluangnya lewat pada mu.

Nominal gaji yang dibayarkan seorang pemberi kerja tentu amat terkait tentang seperti apa pekerjanya itu.

Bagaimana keterampilannya. Apakah keterampilan tersebut mampu meningkatkan produktivitas. Bagaimana cara dia bergaul, berkomunikasi, menyatakan pendapat. Seperti apa dia berbicara. Bagaimana bekerja dalam tim dan batas waktu. Dan seterusnya.

Jadi, masing – masing dari kita juga punya tanggung jawab untuk meningkatkan kapasitas – kapasitas itu. Pemberi kerja akan makin ketat dalam berhitung gaji  ketika makin masal pekerjaan, dan makin mudah kamu tergantikan, maka makin kecil bayaran yang akan kamu dapatkan.

 

Memang ga ada alternatifnya gimana bisa dapat gaji 8 juta ?

Siapa bilang gitu ? Ya ada dong

Alternatif pertama, kamu berwirausaha, yang tentunya punya tingkat kesulitan tersendiri. Lagipula, emang ga perlu meningkatkan kapasitas diri kalau memilih jalur ini ?

Alternatif kedua adalah kamu bekerja di perusahaan ibu/bapak mu sendiri. Tentu lebih mudah bernegosiasi gaji toh ? hehe. Serius ini, ada beberapa murid yang pernah saya ajar begini kok pendekatannya.

Alternatif ketiga adalah jadi Aparatur Sipil Negara ( ASN ). Gajinya sih standar ya, tapi di beberapa daerah ada tunjangan yang lumayan. Tapi, tetap saja, ada kesulitannya masing – masing.

Faktornya gabisa dipisah nak. Sudah ketemu ekosistemnya, kamu harus siapkan individunya ( kamu ). Individunya siap, harus cari tempat hidup di ekosistem yang benar.

Selama masih bisa, kamu harus bertumbuh – kembang nak. Menaungi rimbun. Meneduhkan dan menghasilkan buah, seiring waktu berjalan.

Pun ketika tempat tumbuh-kembang mu akhirnya terasa kecil, maka kamu berpindah. Bertumbuh lagi. Seterusnya begitu.

Pertumbuhan mu pun dibatasi waktu dan linimasa. Pelajari dan kuasailah hal – hal krusial untuk hidup mu alih – alih berusaha menguasai semua, jadi master of none.

Kamu punya linimasa yang berbeda dengan orang lain. Tidak perlu galau juga ketika sukses mu terasa lebih lama ? Waktu mu akan datang ketika semua sudah siap.

Lagipula, kamu tidak tahu apa yang dia lakukan hingga sampai pada posisi sekarang kok. Percaya deh.

 

Disclaimer :

Saya sudah tidak aktif lagi berprofesi sebagai guru Biologi di kedua sekolah atau lembaga mana pun. Saat ini saya mencari nafkah lewat digital marketing. Tempat saya bertumbuh selanjutnya.

Oh iya, yuk subscribe blog ini lewat email !



   

   
   

Semrawut Tapi Dicintai, Berbelanja Dengan Luwes

Suasana Luwes

Kamu pernah ke Luwes ga?

Luwes adalah jaringan supermarket ( atau swalayan ya nyebutnya ? ) lokalan Jawa Tengah & Jawa Timur. Beberapa hari lalu, saat musim mudik saya kesana. Tepatnya ke Luwes cabang Kabupaten Sukoharjo, di kawasan Gentan.

Selain yang ini, saya juga pernah datang ke Luwes Karanganyar dan tentu saja Surakarta. Kunjungan ke tiga lokasi tersebut membuat saya ingin menuliskan pengalaman unik berbelanja disana

Luwes tentu saja tidak bisa kamu bayangkan seperti Kota Kasablanka apalagi Pacific Place yang mewah di Jakarta. Juga tidak seperti Trans Studio Mall di Bandung yang semarak itu.

Luwes, seperti namanya, berusaha hadir seluwes mungkin untuk target pasarnya. Masyarakat segmen menengah kebawah, yang massal, ramai dan cenderung semrawut. Mereka yang mungkin biasa kamu sebut ” masyarakat biasa ” atau ” orang kampung sini “

 

Luwes Sejak  Di Parkiran

Keluwesannya dimulai dari tarif parkir yang bahkan lebih murah dari tarif prit-prit Indomaret. Seribu rupiah saja sepuasnya. Tidak ada kejutan tukang parkir tiba – tiba datang dari belakang.

Tempat parkirnya ya begitu, luwes. Lapangan di lantai bagian basement. Kita memilih lokasi sesukanya berdesakan, tidak rapi, berpenerangan seadanya.

Tiketnya sobekan kertas, ditulis tangan. Konter parkirnya ditunggui pegawai yang tidak berseragam rapi apalagi resmi.

Kemudian kita masuk ke bagian utama pusat perbelanjaan ini…

Oh iya, ngomong – ngomong

Saya kesana menemani si cantik membelikan tas untuk adik. Nah…

Kamu perlu tahu sedari awal bahwa penataan barang di Luwes cenderung tidak rapi. Jadi, kalau kamu tidak terbiasa, bisa cukup sulit menemukan barang yang kamu cari.

Tidak ada penempatan barang per kategori agar rapi seperti di Matahari. Kamu bisa naik ke lantai berapapun dan masih bisa menemukan kategori produk di lantai yang berbeda.

Contoh, di lantai 1 saya menemukan tas. Di lantai 2 ada. Begitu pun di lantai 3. Kadang kala secara sembarang ada di dekat sidi dan beha. Memang tidak tas yang sama, tapi secara acak kamu bisa menemukan sesi yang menempatkan tas dalam jualannya.

Jika kamu memilih pakaian, mereka ada di etalase gantung. Juga ada di rak-rak bagian tengah bertumpukan. Pakaian anak 100ribu dapat tiga. Pakaian dewasa ada yang beli satu dapat dua.

 

Luwes Yang Cenderung Semrawut Tapi Malah Dicintai

Tentu kamu sudah membayangkan betapa semrawut (dan sebenarnya begitu semarak 😆) Luwes ini. Tapi, tampaknya itu adalah rahasia mereka sebagai brand, sebagai swalayan yang dicintai masyarakat Jawa sini.

Mereka ini, jaringan Luwes tidak ingin berdandan berlebihan. Takut warga malah jadi sungkan. Malu. Swalayan kok makin terasa mahal dan jauh. Mereka luwes, sintal, enerjik dan apa adanya.

Saya jadi saksi betapa warga, laki-perempuan, tua muda, kampungan atau bergaya, hadir ramai-ramai bergembira berbelanja dengan luwes.

Mereka membongkar tumpukan barang di keranjang – keranjang bagian tengah. Baju di etalase, di gantungan begitu cepat berpindah tangan. Berbagai promo disambut dengan gembira dan borongan. Kosmetik, buah, kerajinan tangan, cemilan, jadi rebutan.

Kasir-kasir pembayaran dipenuhi antrian. Saya sampai kesulitan mendapatkan tas yang kami cari. Tas Tayo warna hijau yang entah siapa namanya. ( Belakangan saya diberitahu keponakan kalau namanya adalah Rogi )

Barang murah, barang mahal, bertumpukan begitu saja. Jadi, jika kamu punya uang lebih, kamu ambil yang mahal, jika tidak, ya yang sesuai  budget saja. Luwes menghadirkannya buat kamu.

 

Luwes Adalah Kamu dan Saya

Seseorang tentu dapat meremehkan Luwes. Bahwa barang – barang yang dijual di Luwes pastilah produk murahan ?

Saya pastikan, tidak juga. Kamu bisa mendapatkan banyak produk berkualitas jika mencari dengan benar.

Sebagai contoh, saya menemukan sebuah kemeja, yang berkualitas sama dengan yang saya beli di Salt and Pepper namun dengan setengah harga. Serius ! Sayang sekali saya tidak sempat foto.

Dugaan saya, supplier membuat produk white label , alias kamu bisa pasang merek suka – suka. Dan Luwes tentu saja memilih menjualnya dengan harga yang penuh kasih sayang.

Saya selesai berbelanja menjelang Maghrib. Kemudian makan di food court.

Harganya sama saja dengan warung dekat rumah. Ayam geprek 15.000. Nasi goreng 12.000. Teh manis 2.000

Parkir, hadir, berbelanja dan makan di Luwes adalah pengalaman bertemu teman lamamu yang lusuh tapi charming menyenangkan.

Dia duduk di hadapan mu. Makan mie goreng di meja bersamamu, sambil berkata

” Tidak usah sungkan, makan dan bercerita lah. Aku ini sama seperti dirimu “

__________

Sayang sekali saya tidak sempat foto – foto pengalaman berbelanja ini karena terlalu menikmati. Semoga bisa segera kesana lagi untuk mengambil foto. Hehe

Link – link penting

1. Sumber gambar

2. Fanspage Luwes Group

Subscribe lewat email agar tidak ketinggalan tulisan selanjutnya